Tampilkan postingan dengan label city tour. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label city tour. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Jakarta dan Putrajaya

"Macetnya parah" itu yang sering terdengar pada jam-jam sibuk di Jakarta. Padahal "jam sibuk" di Jakarta hampir berlangsung sepanjang hari. Maka yang terjadi adalah macet dimana-mana.

Sebagai pusat pemerintahan, tidak seharusnya Jakarta sering dilanda banjir dan kemacetan parah setiap hari yang menghambat mobilisasi. Padahal bagi kota besar sepert Jakarta, mobilisasi mempunyai peranan sangan penting dalam transportasi logistik maupun manusia. Kemacetan dan banjir yang menjadi penyakit akut Jakarta sudah sangat sulit untuk diperbaiki. Perkembangan infrastruktur yang tidak terkonsep dengan baik dan terkesan asal-asalan menimbulkan kesemrawutan yang membuat pebangunan hanya dilakukan sebagai solusi sesaat sebagai reaksi atas masalah-masalah yang sudah menjadi rutinitas.

Namun, pemindahan ibukota tentu saja bukanlah perkara yang mudah. Perlu perencanaan yang detail sehingga tercipta kota yang terkonsep baik dan memiliki visi yang jelas yang mencakup semua aspek sehingga mampu menjadi kota yang nyaman sebagai tempat tinggal, mampu mendukung kegiatan pemerintahan, dan peduli terhadap lingkungan. Salah satu kota yang dapat menjadi contoh dalam pembangunan kota yang berkelanjutan adalah Putrajaya di Malaysia.

Hampir sama dengan di Indonesia, Malaysia juga memiliki masalah yang sama di ibukota mereka, Kuala Lumpur. Perkembangan kota yang cepat menyebabkan Kuala Lumpur penuh sesak oleh bermacam kepentingan yang menyebabkan terbenturnya kepentingan pemerintah dan swasta. Oleh karena itu, pada awal dekade 80-an, para pemimpin Malaysia berencana untuk memusatkan kegiatan pemerintahan di satu lokasi dengan fasilitas yang lengkap dan modern, sehingga mampu mendukung kegiatan pemerintahan yang efektif. Putrajaya dibangun dengan konsep Kota Taman (Garden City) yang menyelaraskan pembangunan dan manajemen kota dengan alam sekitarnya. Putrajaya adalah kawasan seluas 4931 hektar yang terletak diantara Kuala Lumpur -25km- dan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) -20km-. Nama Putrajaya diambil dari nama perdana menteri pertama Malaysia, Tuanku Abdul Rahman Putra. Pembangunan kawasan Putrajaya dimulai tahun 26 agustus 1995 setelah lahan milik kerajaan Selangor dibebaskan oleh pemerintah dengan total biaya pengembangan kawasan sebesar 20,09 miliar Ringgit. Pembangunan tahap pertama dilakukan tahun 1996-2000 dengan prioritas pembangunan adalah Kantor Perdana Menteri, Departemen Keuangan, dan instansi pemerintah yang tidak memiliki gedung sendiri di Kuala Lumpur. Tahap kedua adalah pemindahan seluruh kantor pemerintah dan pembangunan perumahan untuk seluruh pegawai pemerintah yang bekerja di Putrajaya yang berlangsung dari tahun 2000-2005. Pembangunan Putrajaya direncanakan selesai secara total pada tahun 2015.

Putrajaya View

Putrajaya dipromosikan sebagai kota taman yang modern, didesain dengan fasilitas lengkap sehingga membuat warganya tinggal dengan nyaman. Dibagi dalam 20 distrik yang berpusat di pulau utama yang disebut Dataran Putra, kota yang dirancang untuk ditinggali 320.000 orang ini memiliki fasilitas seperti perumahan, sekolah, pusat perbelanjaan, masjid, area parkir yang tersebar di seluruh kota yang terkoneksi dengan “bus service” baik dalam kota maupun keluar Putrajaya, food court, tempat rekreasi, bioskop, dan sebagainya. Sebagai kota taman, proporsi pengunaan lahan yang terbesar adalah untuk ruang terbuka sebesar 39,15% -di Indonesia, undang-undang mensyaratkan 30%-, selanjutnya adalah 14,42% untuk perumahan, 18,40% untuk jalan raya, dan ditambah dengan danau seluas 600 hektar.

Transportasi

Selain fasilitas bangunan yang lengkap, sebagai kota yang menjadi pusat administrasi negara diperlukan sistem transportasi yang baik sehingga sehingga mobilisasi dan koordinasi antar instansi pemerintah berjalan dengan lancar. Sadar akan hal ini, otoritas Putrajaya membangun sistem transportasi yangterintegrasi, terdiri dari bus, kereta api, monorail, ditambah waterways yang didukung oleh 94,87 km jalan raya 4 lajur, 18,87 km rel kereta api, 18 km jalur monorail, serta 38 km waterfront.

Putrajaya road map

Gerbang masuk ke Putrajaya berada di Putrajaya Sentral yang merupakan tempat pemberhentian bus dan kereta api dari luar Putrajaya yang dapat dicapai dengan bus sekitar 30 menit dari KL maupun KLIA dengan tiket bus seharga RM 3,5. Sedangkan apabila menggunakan kereta api, dari KL Sentral menuju Putrajaya memakan waktu hampir sama dengan tiket seharga RM 19. Sebagai terminal utama, Putrajaya Sentral memiliki area parkir mobil pribadi dan area pakir bus yang sangat luas, karena semua jalur bus dan taksi yang beroperasi di Putrajaya berakhir di Putrajaya Sentral. Target pemerintah lokal adalah 70% beban arus lalu lintas di Putrajaya berasal dari transportasi publik. Sebagai usaha memenuhi target yang telah ditetapkan, terdapat 13 jalur bus dalam kota dengan tarif 50 sen sekali naik yang didukung 170 armada bus NGV (2008). Bus NGV adalah kendaraan hibrid yang hanya menghasilkan sedikit emisi, tidak menimbulkan suara dan getaran yang menganggu. Dengan transportasi umum yang murah dan nyaman, terbukti, pada tahun 2008 tercatat 2,5 juta orang yang memanfaatkan bus sebagai alat transportasi utama.

Figure 5 NGV bus

Untuk meningkatkan kinerja transportasi umum, maka pada bualn maret tahun 2004, MTrans –perusahaan pengelola transportasi Putrajaya- merencanakan monorail sebagai alat transportasi baru di Purtajaya dengan 23 stasiun yang terletak dibawah tanah maupun elevated. Namun pada akhir tahun 2004, setelah menyelesaikan pembangunan 2 stasiun utama dan satu jalur monorail termasuk jembatan yang dapat dilewati monorail dan mobil, pembangunan monorail ditunda untuk menunggu perkembangan lebih lanjut Putrajaya.

Subway

Selain bus dan monorail, terdapat juga taksi sebagai sarana transportasi, namun tarif taksi sangat jauh berbeda dengan tarif bus, sehingga taksi hanya digunakan pada keadaan darurat saja. Semetara angkutan kereta api hanya melayani rute luar kota yaitu KL-Putrajaya, PP dan Putrajaya KLIA, PP. Melengkapi transportasi darat yang sudah ada, di Putrajaya terdapat pula jalur transportasi air, namun alat tansportasi ini hanya diperuntukkan bagi keperluan wisata kepada turis yang mengunjungi Putrajaya.

Monorail facilities

Pengelolaan Sumber Daya Air

Sistem pengelolaan sumber daya air di Putrajaya meliputi daerah tangkapan seluas 50,9 km2, 6 anak sungai, pulau-pulau buatan, yang bermuara di Danau Putajaya seluas 600 hektar dengan kapasitas simpanan sebesar 23,5 juta m3. Danau ini difungsikan sebagai penyeimbang suhu dan cadangan air bersih bagi Putarjaya. Badan air di Putrajaya dibagi menjai 6 zone yang masing-masing memiliki fungsi khusus. Zone 1 berada di daerah hulu yang difungsikan sebagai wetland yang bertujuan untuk menjaga kualitas air danau, penghijauan, rekreasi, sarana edukasi, dan yang terpenting adalah menahan air sehingga debit air yang mengalir ke danau tidak berlebihan. Zone 2 berada di bawah zone 1, terletak di sekitar dataran Putra yang berfungsi sebagai zone rekreasi terkawal. Pada zone ini rekreasi yang dapat dilakukan adalah berlayar di sekitar Masjid Putra, Jembatan Putra yang bergaya eropa, sampai Jembatan cable stayed Seri Wawasan. Zone yang lain difungsikan antara lain untuk zone pengendapan sedimen, zone yang terisi oleh banyak pulau-pulau kecil yang disebut cells. Sel-sel ini merupakan pulau-pulau buatan yang tersebar di seluruh zona daerah tangkapan.

Figure 8 Wetland Cells

Pulau terbesar berukuran 50.9 hektar, sedangkan pulau terkecil berukuran 14,3 hektar. Sel-sel dengan ukuran besar ditanami dengan tumbuhan besar yang berfungsi sebagai pencegah erosi, penahan sedimen dan pemanen air hujan (rain harvesting). Selain itu juga ditanami tumbuh-tumbuhan yang cocok untuk habitat burung, serta hewan, baik hewan endemik maupun hewan yang sengaja didatangkan sehingga secara keseluruhan, sel-sel yang ada dikemas secara baik sebagai taman botani (botanical garden) yang menjadi sarana rekreasi dan edukasi masyarakat untuk selalu dekat dengan alam.

Watershed and waterbody zoning

Untuk sistem pencegahan banjir, sistem drainase Putrajaya tidak mengadopsi bentuk saluran drainase konvensional yang kaku. Sistem drainasi utama disembunyikan di dalam jaringan sungai buatan berbentuk acak yang menyebar ke seluruh sudut kota. Bentuk yang natural menjadikan jaringan drainase terlihat alami sehingga sesuai dengan konsep kota taman yang dianut Putrajaya.

Dampak dari pembangunan yang berkelanjutan di Putrajaya
Pembangunan yang terencana dengan baik menjadikan Putrajaya bukan saja menjadi pusat administrasi pemerintahan, namun dalam perkembangannya juga dijadikan sebagai objek wisata yang menarik banyak pengunjung. Banyak event-event pariwisata digelar sepanjang tahun. Hal ini tentu saja memberikan keuntungan ganda bagi pemerintah setempat. Disamping kegiatan pemerintahan dapat berjalan efektif dan efisien, banyaknya turis juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara, yang tentu saja akan menaikkan perekonomian rakyat. Selain itu dari sisi politik, penataan ibukota yang baik dapat dijadikan alat pencitraan negara sehingga tidak timbul rasa rendah diri terhadap ngara lain yang pada akhirnya memunculkan jiwa nasionalisme yang tinggi.

Belajar dari Putrajaya
Kembali pada wacana pemindahan ibukota Jakarta, bercermin dari Putrajaya, untuk membangun sebuah pusat administrasi yang baru, diperlukan perencanaan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Pembangunan harus mempunyai visi yang jelas agar penataan kota terkonsep dan tidak terjadi pembangunan yang “asal jadi”. Pembangunan infrastruktur yang lengkap dan modern akan mempermudah jalannya proses pemerintahan. Namun selain pembangunan infrastruktur, pembangunan juga perlu memperhatikan kelestarian alam dan harus mampu mengakomodasi kepentingan warga kota yang tinggal baik secara fisik maupun spiritual melalui penyediaan fasilitas ibadah dan rekreasi yang memadai. Pembangunan infrastruktur, gedung, jalan, sarana transportasi, saluran drainase, dan sistem manaemen tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat sehingga harus dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan tanpa dipengaruhi keadaan politik yang berganti-ganti untuk menciptakan kota yang baik.



(telah di publish di sipil2006.wordpress.com)

Senin, 07 Mei 2012

Indonesia, The Tropical Dutch

“Ke Belanda yuuk?”
“Hah, Belanda?”
Sebuah ajakan untuk mengusir kebosanan di akhir minggu. Ternyata yang dimaksud “Belanda” oleh teman saya adalah kawasan kota tua yang memang dihiasi bangunan-bangunan tua peninggalan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Sekilas memang landscape di kota tua tidak seperti landscape Indonesia pada umumnya. Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, serta beberapa bangunan tua yang dibelah kali Ciliwung seakan berusaha “mereplika” kota-kota di Belanda sana. Tapi benarkah hanya copy-paste?



13363679311714895077
Ilustrasi. Salah satu sudut pemukiman di Belanda. /Kompasiana (Shutterstock)

Hasil googling dengan kata kunci beberapa kota yang ada di Belanda menunjukkan pada saya bagaimana landscape di Belanda. Sekilas memang mirip, namun jika diperhatikan secara detail, nampaknya Inlander yang ada di Indonesia tidaklah sekedar copy-paste. Ya, desain “original Dutch” nampaknya kemudian dikembangkan dan dimodifikasi menjadi “tropical Dutch”. Llihat saja dari penggunaan batu kali di hampir semua bagian bangunan. Pondasi, dinding dasar (kurang lebih 1-1,5m dari tanah), bahkan beberapa bangunan ada yang seluruh permukaan dindingnya menggunakan batu kali. Mungkin bangsa Belanda melihat adanya ketersediaan batu kali yang melimpah di Indonesia, dan tentu saja karena batu memang terkenal kuat.



1336361937223906975
Batu Kali dimana-mana (Dok:pribadi)

Masih di seputar dinding, dinding bangunan peniggalan Belanda terkenal tebal, sekitar 25-30cm. Dan ini terbukti efektif meredam panasnya ilkim tropis. Coba saja masuk bangunan Belanda di siang yang terik, saya yakin panas dari luar tergantikan oleh sejuk udara ruang. Ya, mungkin modifikasi-modifikasi desain asli memang terpengaruh kuat oleh iklim tropis Indonesia. Dan lagi-lagi panas tropislah yang merubah fungsi “gunungan” atap bangunan Belanda di Indonesia. Memang, baik di Belanda dan di Indonesia, bangunan karya orang Belanda masih bercirikan atap bangunan yang tinggi, namun di Indonesia tidak ada atap bangunan yang dijadikan ruang loteng seperti di Belanda sana. Atap bangunan yang tinggi hanya berupa ruang kosong yang difungsikan sebagai filter panas matahari yang membakar genteng.



1336361998457552918
Atap tinggi tanpa loteng (Dok:pribadi)

133636205326457391
Atap tinggi (Dok:pribadi)

Pun desain jendela, walaupun sama-sama memiliki jumlah jendela yang banyak dan lebar-lebar, fungsi nya sedikit berbeda. Jika di belanda jendela lebar memang difungsikan untuk memasukkan sebanyak-banyaknya sinar matahari, di sini jendela difungsikan untuk pintu gerbang pertukaran udara agar suhu ruangan tetap terjaga tanpa bersentuhan langsung dengan cahaya matahari. Jangan heran jika pada bangunan Belanda versi tropis terdapat semacam tritisan diatasnya (yang juga berfungsi menghindari tampias air hujan), kalaupun tidak, masih ada selasar yang memberikan “jeda” antara ruangan dan halaman luar. Seakan masih kurang puas dengan mekanisme “pendinginan ruang” yang sudah dibuat, di beberapa bagian jendela atau pintu, kadang masih ditambahkan lubang-lubang udara yang jika kemasukan sinar matahari akan memberi suasana cahaya yang dramatis di dalam ruangan.



13363621861691454042
Tritisan (Dok:pribadi)

Sedikit keluar rumah, merah kuning warna tulip tergusur oleh rimbun dan hijaunya tanaman tropis. Beringin, rambutan, dan beberapa tanaman yang berdaun lebat banyak menghiasi rumah-rumah bergaya Belanda. Dan bila dilihat dari kejauhan, rumah-rumah bergaya Belanda terkesan angkuh dan “dingin”



1336362240417681274
Angkuh (Dok:pribadi)

Nampaknya memang tidak sama dengan yang asli di Belanda sana.
Berarti memang sudah ada modifikasi dan adaptasi desain dengan lingkungan tropis.
Berarti nggak sekedar copy-paste.
Walaupun mirip, tapi Indonesia dan Belanda tidaklah sama. Mungkin lebih tepat Indonesia ini disebut dengan Belanda versi Tropis.
Indonesia, the Tropical Dutch


1336362286830576169
Tropical Dutch (Dok:pribadi)

Selasa, 10 April 2012

1 day trip : Palembang


Tak seperti hari-hari biasa, sebelum Subuh saya sudah mandi dan berdandan rapi. Tas backpack andalan juga sudah terisi dengan keperluan "bertualang". Bersama dua teman saya, tepat pukul 07:30 kami bertiga akan terbang ke Palembang. Sebenarnya sih tugas kantor, tapi di jadwal yang diberikan pada kami, acara rapat hanya berlangsung dari jan 13:00-14:00, jadi kami punya waktu seharian untuk berkeliling kota Palembang.

Pukul 5:30 saya sudah sampai di bandara, terlalu pagi memang. Tapi pengalaman-pengalaman sebelumnya, daripada macet di tol dan sampai bandara mepet-mepet take-off, lebih baik kepagian dan sambil menunggu bisa sekalian cuci mata di Bandara.

Dua teman saya sudah menunggu, setelah check-in dan bayar tax, kami putuskan untuk sarapan di sebuah lounge sekalian menunggu pesawat.

7:00 am terdengar panggilan untuk memasuki ruang tunggu, kami-pun bergegas menuju kesana. 7:30 lebih sedikit, pesawat sudah lepas landas. Menumpang GA 110, ini adalah pengalaman pertama naik Garuda Indonesia. Menurut teman-teman naik GIA tuh enak, dapet makanan dan lain-lain, dan ternyata memang benar, sepanjang perjalanan saya tek henti-hentinya meminta makanan kepada sang Pramugari. Aji mumpung, hehe.

 
Interior Pesawat

Sekitar 45 menit perjalanan, pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badarrudin II Palembang. Gedung terminal yang baru menampakkan kemegahannya pada kami. Karena ini adalah tugas kantor, akomodasi bukanlah hal yang kami khawatirkan karena sesampai di bandara, sudah ada mobil yang siap mengantar kami berkeliling Palembang.

Dari SMB II ke kota Palembang kami menempuh perjalanan sekitar 30 menit, karena jalan yang tidak selebar di Jakarta, dan lalu lintas yang lumayan padat. Saya nikmati perjalanan tersebut, karena inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Tujuan pertama kami, tentu saja landmark Palembang : Jembatan Ampera.


Jembatan Ampera membelah Sungai Musi dan terletak tidak jauh dari Benteng Kuto Besak, Benteng dan Jembatan terletak hampir berseberangan, sehingga untuk menyusuri keduanya cukup dengan berjalan kaki. Walaupun matahari cukup terik, kalau masalah jalan-jalan pasti tetep semangat. Berkeliling kawasan Benteng, saya pikir itu adalah plasa kota Palembang, karena tempatnya ramai, jalannya lebar dan sangat sayik untuk jalan-jalan.

Setelah capek menyusuri kawasan benteng Kuto BEsak, agenda wajib selanjutnya adalah berfoto dengan latar Jembatan Ampers, sekaligus merasakan dingin air Sungai Musi. Jeprat jepret, posa pose, lari sana lari sini bergantian mengambil foto dan difoto. Pukul 10:30 kami putuskan untuk kembali ke Bandara untuk sholat jumat disana sekalian menunggu rapat -kebetulan lokasi rapat ada di dekat bandara-.
 
Tepian Musi


Masjid Agung Palembang

Selesai rapat, karena pesawat yang membawa kami pulang adalah pesawat jam 18:00, tentu saja masih ada waktu sekitar 4 jam untuk kembali berputar di Palembang. Kali ini adalah kunjungan ke Gelora Sriwijaya, lalu ke Monpera, dan Masjid Agung Palembang. Puas berkeliling ronde kedua, tentu saja tujuan akhir adalah kuliner. Saya pikir saya akan diajak berburu pempek, namun Pak Dedi -guide kami- membawa kami ke kedai Mie Celor di dekat kantor Walikota. Mie Celor?saya baru mendengarnya, soalnya sejauh yang saya tau Palembang itu Pempek dan Pempek itu Palembang, nggak ada yang lain.

Mie Celor adalah mie yang bisa saya sebut dengan mie yang "udang bangeet", karena kuahnya kaldu udang, taburannya juga udang. Mungkin lebih tepat ini adalah udang yang di mie-kan, bukan mie yang di udang-in. haha. Satu porsi mei celor mampu membuat saya angkat tangan, karena walaupun terlihat porsinya sedikt, namun padat isinya. Super kenyang..

Penampakan mie Celor

Puas makan mie, Pak Dedi kemudian membawa kami berkeliling lagi dan membawa kami ke kedai Pempek, tentu saja buat oleh-oleh pulang karena kalau dipaksa, perut sudah sangat penuh oleh mie. Pukul 4:45 kami sudah kembali lagi ke SMB II dan bersiap untuk pulang.

Pukul 6:10 -molor 10 menit dari jadwal-  JT 343 membawa kami pulang ke Jakarta. Walaupun hanya sehari, namun kunjungan ke Palembang sangat berkesan, setidaknya saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri seperti apa kemegahan Jembatan Ampera dan Sungai Musi yang sering saya dengar.

Dan saya bisa bercerita kalau saya pernah jadi orang "sibuk", pagi Jakarta, siang Palembang, malam Jakarta lagi, hehehe.



Bergaya dulu


Rabu, 19 Mei 2010

Malaysia Day 2 : Perlis-Arau-UUM

Yap, delapan jam sudah sejak mata saya terlelap. Menjelang subuh tadi saya bangun, subuh disini sekitar jam 5:50. Dari sehabis sholat, mata saya tak bisa terpejam lagi, karena di sekitar sudah terlihat agak terang, maka saya dan Heru -teman sebelah saya- memutuskan untuk melihat-lihat pemandangan pedesaan Malaysia.
 Menikmati pemandangan

Ya, diluar kota KL, Malaysia terlihat sama persis dengan Indonesia, hamparan sawah, bukit-bukti berjajar, hanya warna tanah disana agak sedikit putih, Dan yang berbeda, jalan raya yang mendampingi kami bagus dan mulus, mobil-mobil melaju dengan lancar disana. Walaupun saya pikir saya sudah berada di pinggiran Malaysia, namun infrastruktur terbangun dan terawat baik. Di sebelah juga terlihat sedang dibangun sebuah rel tambahan untuk double track.

Tepat jam 9:00 waktu Malaysia, atau pukul 7:30 waktu Indonesia, kereta tiba di stasiun Arau. Kota kecil yang merupakan Ibukota kerajaan Perlis. Karena dari kemarin sore perut hanya diisi oleh Nasi Kare di KLCC, rasanya perut sudah nggak kuat lagi menahan lapar. Kebetulan ada warung makan yang buka di depan stasiun. Warung yang mirip warteg, namun isinya bermacam makanan khas Malaysia.

Setelah sedikit "berbual" dengan pemilik kedai, saya tertarik dengan seseorang yang sedang makan nasi, tapi berwarna biru. Saya tanya ke Ibu, apa nama makanan itu, beliau bilang itu nasi kerabu. Dari wikipeia.org :
 Nasi Kerabu

Nasi kerabu adalah makanan khas Malaysia berupa nasi berwarna kebiruan. Pewarna biru untuk nasi berasal dari kelopak bunga kembang telang. Kerabu berarti campuran daun-daunan mentah (ulam). Aroma nasi kerabu berasal dari daun rempah yang diiris halus, seperti bunga kecombrang, daun kesom, daun kadok, daun pegagan, daun kunyit, atau daun kencur. Nasi kerabu berbeda dari nasi ulam yang tidak berwarna biru.[1]
Nasi kerabu dihidangkan dengan lauk seperti ikan asin goreng, kelapa parut, ayam goreng, ayam percik, tauge, cumi-cumi, solok lada, telur asin, atau kerupuk. Sebagai penyedap adalah saus ikan bilis yang disebut budu.

Pagi itu saya memilih nasi kerabu ditemani ikan sardin. Wah ternyata rasanya nikmat, terutama aroma rempah yang kuat. Wanginya tidak membuat air liur menetes, namun membuat rileks, wangi mirip aromatherapy. Sambil menunggu bis jemputan dari UUM -Oh iya, kami ke datang ke Malaysia atas undangan Universitas Utara Malaysia- , saya dan Ansyor memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan menikmati suasana pagi. Berjalan sedikit ke timur, kami bertemu dengan Masjid Negeri Perlis, diseberangnya adalah Istana Raja dan kalau nggak salah ada pemakaman keluarga raja (lupa nggak difoto).
____________________

Dari Arau ke UUM memakan waktu sekitar 45 menit. Pemandangan sepanjang jalan mungkin  mirip track Jakarta-Bandung via Tol Cipularang. Nggak ada yang spesial, hanya nampak kampung-kampung khas malaysia di kejauhan.

Pernah nonton upin-ipin? ya seperti itulah Malaysia diluar KL, sangat sederhana, namun tenang, dan suasana Islami kental terasa.

____________________

Kami menginap di DPP SME-Bank, semacam asrama mahasiswa di Indonesia sini, namun, jangan bandingkan fasilitasnya. Selain terawat baik, fasilitas pendukung asrama sangat memadai. Lapangan basket, lapangan futsal, lapangan tenis, lapangan bola, kantin dan bussiness centre, masjid, bank, tersedia lengkap, rapi, bersih, terawat, dan semua jelas berfungsi. Itu baru di satu kawasan asrama.Dan semua itu free.

Nampang di lapangan bola

Karena kecapekan, hari ini diputuskan untuk sekedar berpusing-pusing saja di kompleks asrama. Sore hari saya habiskan dengan jogging dan basket, karena kebetulan ada yang sedang bermain basket, dia perkenalkan dirinya sebagai Ma, dari Guangzhou, China. Kami bermain sekitar 1 jam, dan mejelang maghrib dia berpamitan dan mengajak saya untuk bertemu lagi di masjid setelah Maghrib nanti.

Setelah Maghrib, ternyta Ma mengajak saya untuk ikut mendengarkan pengajian. Inilah yang saya bilang lingkungan di Malaysia terasa sangat Islami. Adanya pengajian rutin sehabis maghrib, dan sepertinya memang sudah menjadi budaya disana bahwa sehabis maghrib harus mengaji. Tak ada orang yang terlihat berkeliaran di luar sampai isya menjelang. Maghrib disini sekitar pukul 18:30, dan isya mendekati pukul 20:00. Oh iya sebagai tambahan, di Malaysia, khususnya UUM, weekdays itu dimulai haris sabtu, dan jum'at adalah hari libur. Sangat Islami.

Setelah makan malam di foodcourt asrama, kami memutuskan untuk beristirahat karena padatnya acara esok hari.
____________

Tips Day 2:
1. Jika ingin makan, pesanlah makanan khas daerah tersebut, makanlah, apapun rasanya.
2. Jika ada jadwal menunggu, entah jemputan entah jadwal bus, usahakan untuk berkeliling, mengenal daerah sekitar.
3. Berkenalan dengan orang lokal atau siapapun, kadang rekomendasi tak terduga datang dari interaksi dengan penduduk lokal.

Selasa, 18 Mei 2010

Solo-KL-Perlis (Part II)

Dari KL Sentral menuju Petronas Tower, tepatnya di KLCC, MRT melewati 4 stasiun, Pasar Seni-Masjid Jamek-Kampung Baru-KLCC. Masing-masing MRT datang dan pergi dari dan ke arah yang berlawanan dengan rentang waktu sekitar 5-10 menit. Jadi ngak usah khawatir nunggu lama. Suasana dalam MRT cukup lengang, mungkin memang bukan jam sibuk kali ya? hanya terlihat beberapa Ibu dan orang-orang berpakaian santai.Di dalam, interior MRT sedikit mirip bus TransJakarta, dengan kursi berhadapan, gantungan untuk pegangan, dan tiang di dekat pintu juga untuk pegangan.

Dari atas MRT,Terlihat jelas pemandangan kota Kuala Lumpur. Nggak jauh beda dengan Jakarta. Banyak gedung menjulang, lumayan padat lalu lintasnya -namun porsi motor sangat sedikit-, ramai, tapi yang beda, KL terlihat rapi dan bersih, jelas sekali tergambar bahwa kota ini dibangun dengan perencanaan yang matang. Kanal-kanal yang lebar, lajur jalan yang banyak, ruang terbuka, pengelompokan jenis kegiatan kota, pokoknya rapi deh.

"Pemberhentian berikutnya PASAR SENI"

Begitu bunyi interkom di MRT yang dijalankan tanpa masinis. Menggunakan bahasa Melayu. Ya, ternyata bahasa yang digunakan di KL masih bahasa Melayu, lain dengan bayangan saya, saya kira di KL bahasa yang digunakan sudah full english. Jadi, sejauh ini, belum ada masalah soal bahasa, mungkin hanya ada sedikit kosa kata yang membuat saya bingung. Di KL Sentral tadi contohnya, saat saya mencari tempat sholat, tak ada yang bisa menjawab saat saya tanya dimana mushola, ternyata disana mereka menyebutnya surau, pun dengan WC / Toilet, di papan petunjuk tertulis "Tandas".


Dari Pasar Seni, MRT terus melaju, dan sampai akhirnya kami tiba di stasiun tujuan kami, KLCC (Kuala Lumpur City Center). Stasiun KLCC merupakan bagian atau lebih tepatnya sudah dibuat menyatu dengan Petronas Tower, jadi tidak perlu nyebrang-nyebrang jalan lagi, turun KLCC langsung masuk ke Lobby Mall Petronas. Karena cuma Mall, nggak ada bedanya sama yang di Jakarta, saya nggak minat buat "berpusing-pusing" memutari Mall, saya langsung mencari foodcourt.

Foodcourt terletak di lantai 2, saya berkeliling sebentar untuk mencari kira-kira makanan apa yang belum pernah saya makan, dan akhirnya pilihan saya jatuh pada nasi kare India tentunya dengan daging kambing. 4.8RM harus saya keluarkan untuk menebus makanan itu, sekitar 12 ribu rupiah. Cukup murah bila dibandingkan dengan Jakarta. Sementara saya mencari tempat duduk, 8 orang teman saya ternyata sudah lebih duluan menikmati makan sore mereka, dan apakah makanan yang mereka pilih?

Indonesian Food, hahaha, mungkin sudah kangen rasanya sambel kali ya?
Kelaparan


DAn kata mereka, yang jual nasi berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Dan karena si penjual kegirangan mereka ajak ngobrol bahasa Jawa, akhirnya masing-masing mendapat bonus satu buah tempe goreng. Ah cerdas sekali.....

__________________

Selesai makan, badan ini rasanya sudah terisi penuh dan siap untuk menaklukkan KL, waktu sudah menunjukkan pukul 4:00 pm, namun matahari masih bersinar lumayan terik. Berkeliling Mall sebentar, hanya untuk merasakan atmosfir Mall di Malaysia, lalu sholat ashar, kemudian kami langsung menuju taman kota yang terletak di depan Petronas Tower.

Diluar, kami disuguhi taman kota yang tertata apik, pohon pohon yang rindang, bangku-bangku yang bersih, rapi, tanpa ada kehadiran PKL, dan yang paling penting, Petronas Tower terlihat jelas darisini.

Artinya? ini saatnya foto-foto!!!!
 Dimulai dari depan tower, sebuah kolam dengan air mancur yang indah menggoda kami untuk segera pasang aksi.
Setelah itu, yang ada hanya suara jepretan kamera, pergantian pose, dan jungkir balik mencari spot yang bagus untuk berfoto.


 Berfoto dengan latar Twin Tower tentunya
The Twin
 Teduh, rapi, bersih
 Di sebelah kiri taman kota (tak tau mana timur&barat, he)
Tidak tau gedung apa, tapi indah difoto

Malam mulai datang, puas kami berfoto di gedung yang menjadi ikon baru Malaysia, terutama KL menggantikan KL tower. Kami harus bergegas kembali menuju KL Sentral, untuk merasakan bagaimana transportasi rel di Negeri Jiran. Tiket MRT 1.7 RM kembali kami tebus, dan MRT mengantar kami kembali ke KL Sentral dengan suguhan pemandangan malam KL.
___________________________________

Kereta Tanah Melayu sudah menunggu. Tidak berbeda jauh dengan kereta eksekutif milik KAI, 11-12lah kondisinya. Ada beberapa bagian yang rusak dan terlihat tak terawat, cat yang koyak, pintu yang tak berengsel, namun masih terhitung bagus.

Kereta mulai berjalan, 1 jam, 2 jam, dan saya mulai bisa merasakan perbedaanya dengan KA di Indonesia. Jujur, rel di Indonesia lebih nyaman, lebih tenang dan lebih sedikit goncangannya. Itu pertama, kedua, dari sisi kebersihan kereta, setiap 15 menit, selalu ada petugas yang membersihkan gerbong, entah mengangkut sampah ataupun mengepel, jadi kereta selalu bersih. Ketiga, tidak ada pedagang asongan yang masuk ke gerbong. Keempat, stasiun-stasiun transit di Malaysia ternyata sangat sederhana, hanya berbentuk seperti halte bus standar di Indonesia.

Dan lagi-lagi karena terlalu capek, mata saya hanya tertahan selama kurang lebih 3 jam untuk menikmati malam, selebihnya?malam saya nikmati dengan mata terpejam.

Masih 8 jam menuju Perlis....
__________________

Jadi Tips jalan ke KL hari pertama:
1. Diusahakan dari Indonesia pagi, jadi langsung muter-muter.
2. Kalau masuk bandara bawa air sedikit aja, terutama kalau naik Air Asia.
3. Dari LCCT ke KL Sentral lebih murah pake Sky Bus, 8 RM, kalau taksi bisa sampai 80-90RM (1 RM Rp 2,700)
4. Kalau memang langsung jalan-jalan, barang bawaan lebih baik dititipkan di Locker KL Sentral, daripada langsung check-in di Hotel.
5. Perhatikan bener2 waktu masuk halte MRT, tiket jangan sampai ketinggalan, soalnya selain tiket masuk ke stasiun, itu juga tiket keluar anda dari stasiun.
6. Belilah tiket MRT dua buah, yang satu buat kenang-kenangan, hehehe...

Senin, 17 Mei 2010

Malaysia (Day 1)- Solo-KL-Perlis (Part 1)


8 mei 2010
Setelah hampir dua minggu ribet mengurus passport –yang alhamdulillah Cuma 4 hari bolak-balik ke imigrasi-, cari tambahan uang saku, cari money changer, cari pinjeman koper –thanks for Ndut buat tas Polo-nya-, nyapin baju, bikin daftar oleh-oleh, akhirnya pagi ini (8 mei 2010) kami siap terbang ke negeri seberang. Berbekal tiket Air Asia AK-541, pagi-pagi buta, kami bersembilan sudah berkumpul di Bandara Adi Sumarmo.
Pagi ini memang sangat luar biasa, karena mungkin buat kami bersembilan, ini pertama kalinya pergi jalan ke luar negeri, atau bagi saya pribadi, ini juga pertama kalinya naik pesawat. Rasanya dag-dig-dug ser…
07:00 kami sudah tersenyum manis di depan petugas bandara. Tiket di check, masuk bandara Adi Sumarmo yang interiornya wuiiih, Solo banget. Besi tempa yang diukir motif batik menghiasi langit-langit, dinding, dan kolom-kolom bangunan. Kami pun mulai antri check in dan antri bagasi, setelah beres, lalu menuju imigrasi untuk check passport dan mengisi  kartu imigrasi, lalu langsung bayar boarding pass deh. Namun ternyata buat masik ruang tunggu internasional nggak mudah, tepatnya banyak botol minum yang harus kami tinggal, katanya sih di dalam kabin tiap penumpang hanya diijinkan membawa 100ml cairan. Setelah itu, kami pun masuk ruang tunggu dengan lancar.

Karena baru pertama masuk airport, maka kesempatan ini benar-benar saya manfaatkan, dari berfoto dari pojok ke pojok, sampai membuat sketsa, itung-itung daripada bosen nunggu pesawat. Dan setelah hampir 1 jam menunggu, pesawat yang kami nantikan landing. Pesawat berkelir merah putih,dari bentuknya, jelas terlihat kalau itu pesawat Airbus. 20 menit boarding, pesawat siap take off, dag dig dug rasanya, pikiran akan pesawat  jatuh selalu membayang.
“Aku nggak ingin namaku muncuk di koran besok”
Hahaha, itu batin saya. Namun alhamdulillah pesawat take off dengan lancar. Dan mulai detik itu, saya pun bisa bercerita ke emak saya kalau saya pernah terbang. Mungkin sekitar satu setengah jam saya disuguhi pemandangan laut berhias awan putih –kebetulan cuaca pagi itu sangat cerah-, terkadang kami berpapasan dengan pesawat lain, melihat pulau-pulau kecil. Indah sekali terlihat dari atas sini. Di interkom sana, terdengar suara kapten dengan bahasa inggris yang Melayu banget menerangkan bahwa sebentar lagi kami akan sampai di Kuala Lumpur.
Pemandangan di bawah juga sudah berganti, menjadi sebuah pulau yang penuh sesak dengan gedung-gedung menjulang,. Pertama, saya pikir itu KL, belakangan setelah landing, saya diberi tahu teman saya kalau pulau itu adalah Singapura. Yup, mendekati landing, ternyata bukan gedung-gedung tinggi menyambut saya, namun sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan kebun sawit. Ya, Malaysia memang terkenal sebagai produsen sawit. Mungkin bandara internasional KL sengaja diletakkan di pinggir kota agar tidak terganggu cahaya lampu kota yang gemerlapan, juga tingginya gedung-gedung.
Landing berjalan lancar. Dan untuk pertama kalinya, saya menjejakkan kaki di luar tanah kelahiran saya. Di tanah Malaysia. Awalnya saya kira Air Asia mendarat di KLIA, ternyata AA punya markas sendiri di LCCT. Dan bandara KL jauuuh lebih luas dibandingkan bandara Adi Sumarmo, sampai bingung saya dibuatnya.
Proses imigrasi berjalan lancar, dan Akhirnya. MALAYSIA, HERE I COME

___________________________________
Perjalanan dimulai, LCCT - KL jaraknya sekitar 70km. Setelah sejenak beristirahat di foodcourt LCCT, kami menuju halte sky bus untuk melanjutkan perjalanan kami ke KL. Sky bus mirip bus AKAP di Indonesia, cuma memang terlihat terawat dan nyaman. Tiket seharga 8 RM sudah kami kantongi, sky bus dengan jurusan KL Sentral dan Puduraya-pun kami tumpangi. Tujuan kami adalah KL Sentral, terminal antar moda (bus, kereta api, dan MRT) di KL yang menyediakan transportasi ke seluruh penjuru Malaysia.
 
Interior sky bus
Sky bus mulai berjalan, dan selama 15 menit pertama, pemandangan masih didominasi oleh kebun kelapa sawit. Lalu lintas tak begitu ramai, tapi satu yang beda dari Indonesia, disini jarang sekali terlihat sepeda motor. 20 menit di dalam bus, gerimis sedikit mengguyur jalanan. Namun dari kejauhan terlihat papan nama yang begitu besar, dengan angkuh berdiri bertuliskan "SEPANG", sirkuit yang sudah seriing menggelar F1 dan motoGP.

Karena kelelahan, saya-pun tertidur.

Terbangun karena bunyi klakson mobil, ternyata saat ini kami sudah memasuki pusat kota KL, mungkin daerah little India, karena di kanan kiri terlihat tulisan-tulisan mirip aksara India, banyak berlalu lalang orang-orang berwajah India, dan barang-banrang yang dijual juga persis seperti yang saya lihat di film India. Sekitar setengah jam kami terjebak di padatnya jalanan KL, sebelum akhirnya sampai di KL Sentral.
Sebuah stasiun -atau terminal- yang ternyata sangat besar. Kalau nggak salah hitung, mungkin ada tiga lantai, lantai 1 yang berhubungan dengan jalan adalah tempat bermacam jenis bus, lalu basement atau ground untuk kereta api, dan lantai atas untuk MRT.
 Nampang sebentar
______________________________

Setelah sholat, kemudian kami mencari locker untuk menitipkan barang-barang kami karena malam ini kami tidak menginap di KL. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju Perlis di Utara Malaysia, jadi lebih irit kalau menitipkan barang di Locker daripada menyewa kamar setengah hari di Hotel. Kalu nggak salah satu locker 4 RM, muat untuk sekitar 10 tas backpack.
Lalu, kami segera menuju lantai bawah untuk memburu tiket Kereta Tanah Melayu menuju Perlis. Tiket seharga 42RM untuk keberangkatan jam 21:40. Perlu diketahui, waktu malaysia itu 1 jam lebih cepat dibandingkan WIB. Tujuan selanjutnya adalah KL Sentral market, ya, di lantai bawah memang ada semacam pasar yang menyediakan bermacam barang, dan yang pertama kami cari adalah kartu perdana. Cukup dengan 10 RM dan menunjukkan passport, kita sudah bisa connect langsung dengan sinyal, dan dijamin komunikasi jadi lebih murah dibanding kartu Indonesia yang kena roaming Internasional.
Puas putar-putar KL Sentral, kami naik menuju lantai atas, menuju shelter MRT. Menebus tiket seharga 1.7RM, tujuan kami selanjutnya adalah :
PETRONAS TOWER.