Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

UN: Unite the Nation, menyatukan bangsa.



Awalnya saya cuek dengan isu ada/tidaknya Ujuan Nasional. Ada ya terserah, tidak ada ya masa bodoh. Kadang saya pikir memang harus ada UN, karena harus ada asesmen untuk mengetahui seberapa pencapaian siswa akan pelajarannya. Bahkan dalam hidup ada istilah ujian kehidupan, jadi memang untuk melewati suatu tahap tertentu. Harus ada Ujian. Namun saya pikir benar juga kata banyak pengamat, kurang adil bila 3 (atau 6) tahun belajar hanya ditentukan oleh 2 jam atau 40-50 soal atau 3-4 pelajaran.

Hari ini (7/5) murid-murid saya akan melaksanakan hari terakhir ujian  mereka. 13 anak gunung yang harus turun ke jalan poros untuk melewati satu tahap kehidupannya. Kami (guru-guru) sudah sangat yakin mereka bisa melewatinya. Pokoknya lewat lah itu ujian. Lulus atau tidak, 90% adalah faktor keberuntungan. Saya katakan begitu karena memang harus diakui kemampuan murid-murid kami belum dalam kapasitasnya untuk mengerjakan Ujian berstandar Nasional (atau Jakarta tepatnya). Saya yakin hampir semua murid mengerjakan soal ujuan dengan cara “menembak” jawaban.

Meng-underestimate murid?

Boleh saja dibilang begitu. Tapi cobalah datang ke sekolah kami, mengajar beberapa bulan, lakukan riset simpel dan hasilnya pasti akan sama dengan kesimpulan yang saya tuliskan tadi.

Pertama, kemampuan kebahasaan. Murid-murid kami mengerti bahasa Indonesia percakapan –yang sederhana-, bisa MEMBACA sebuah tulisan berbahasa Indonesia, namun mereka tidak mampu MENANGKAP MAKNA dari rangkaian kata-kata berbahasa Indonesia tersebut. Soal UN B. Indonesia yang panjang, soal cerita matematika, soal cerita IPA/S. Jadi, tanpa bisa memahami maksudnya, mana bisa mencari jawaban yang benar. Ya, murid-murid menjawab soal UN dengan cara spekulasi.

Dua, soal-soal yang sangat Jakarta. Pertanyaan soal kereta api, halte bus, komputer, tablet yang entah sengaja atau tidak sering tercantum dalam soal UN. Hey, anak-anak disini bagaimana bisa membayangkan kereta api? Halte bus? Bandara? Atau Komputer dan tablet? Listrik saja belum ada. Bila 5 dari 50 soal bertipe seperti itu, 10% nilai murid-murid kami hilang karena satu kesalahan: tidak tinggal di Jakarta.

Dan soal KTSP. Dengan KTSP kurikulum bisa disesuaikan dengan standar sekolah. Sederhananya, anak-anak diajarkan dengan konten-konten lokal namun sesuai dengan standar yang diitetapkan Kemendiknas. 

Dalam matematika misalnya, yang penting murid bisa perkalian entah mengalikan sapi, pohon kopi, rumah panggung, dll. Namun kalau pada soal UN yang muncul adalah perkalian kereta api, -plus dua faktor yang disebutkan sebelumnya- mana adil?

Oke, kembali ke soal UN. Mungkin Kemendiknas punya pertimbangan tersendiri kenapa harus ada UN, memang sebuah pilihan sulit dan saya yakin Kemendiknas sudah siap dengan pro-kontra nya. Dengan keadaan masyarakat –termasuk wali murid dan guru- dengan kualitas dan integritas yang seperti sekarang, boleh jadi UN memang cara paling mudah pengawasannya dalam mengukur kelulusan. Itu saja masih ada beberapa oknum yang mencoba “bermain” dengan UN.

Juga protes tentang biaya cetak, distribusi soal, dan lain lain yang menghabiskan dana besar. Boleh jadi dana besar itu opsi paling rendah dari bermacam skema penetapan kelulusan secara nasional. Dengan sistem UN yang sudah mapan saja masih repot, bagaimana mencoba membuat dan menerapkan sistem baru? Dan bila gagal, kambing hitamnya pasti Kemendiknas lagi, menteri disuruh mundur lagi, buat sistem baru lagi. Kapan masalah selesai?

Saya pernah berfikir bagaimana bila UN tetap ada, namun kelulusan tiap sekolah diserahkan ke masing-masing sekolah. Namun sebelumnya Kemendiknas pusat memiliki data base terkait grading atau penggolongan tiap sekolah, sehingga semua murid tetap lulus namun kualitas lulusannya dikonversi dalam data grading nasional. Namun ya kembali ke urusan biaya. Untuk melakukan riset ke tiap sekolah sampai ujung Indonesia berapa biayanya? Dan dibutuhkan juga tim riset yang itegritasnya betul-betul mantap dan “anti godaan”.


UN, suka ataupun tidak itulah pilihannya sekarang. Ditengah tuntutan yang begitu tinggi kepada Kemendiknas untuk menyelesaikan masalah pendidikan negeri ini, dengan keterbatasan SDM, dana, dan teknologi yang dimiliki, wajar bila ada kekurangan disana-sini. Bila setuju UN, baiknya ikut memikirkan cara untuk mengakomodir sekolah-sekolah dengan keadaan seperti tempat kami mengajar. Bila tidak setuju UN, baiknya juga ikut mencari cara paling efisien untuk menetapkan kelulusan murid. UN bisa dijadikan sarana untuk Unite the Nation, menyatukan bangsa, bukan malah saling menjelekkan dan memecah belah sesama.

Tidak ada yang bisa sempurna, namun semuanya bisa dibuat lebih baik. 

Rabu, 01 Mei 2013

Kangen


Hari ke 176, empat hari menjelang bulan ke 6 saya ada di Sulawesi. Bila dihitung total dari awal keluar rumah, sudah lebih dari 8 bulan saya meninggalkan rumah.

Ini kali pertama saya keluar rumah dalam jangka waktu yang lama. Saya sering bepergian, namun biasanya hanya berstatus flashpacker, paling lama hanya satu minggu. Itupun untuk refreshing melepas penat. Dulu, ketika menjadi mahasiswa, paling lama juga hanya tiga bulan tidak pulang. Jadi, inilah rekor terlama saya keluar dari rumah.


Rindu? Pasti. Saya ingat kata-kata Direktur HRD di tempat saya bekerja dulu, orang bisa bertahan jauh dari orang-orang terdekat dan tetap produktif ada di kisaran angka 3 bulan –mungkin bisa lebih lama pada orang-orang yang motivasinya sangat tinggi-. Ya, saya tidak memungkiri, angka 8 bulan membuat saya rindu dengan semua yang telah menjadi kebiasaan “normal” saya.

Rumah, itu yang pertama. Deru mesin jahit Ibu yang biasanya menjadi lagu pengantar tidur. Bau iler di bantal kesayangan, plus struktur kayu sofa di depan ruang jahit Ibu yang selama 6 tahun terakhir sudah menjadi kamar darurat ketika saya pulang ke rumah. Kehebohan dan keanehan rasa masakan Bapak di akhir minggu. Juga tingkah Bapak dan Ibu yang tetap membuai saya layaknya anak kecil yang belum bisa apa-apa.
Riuh teriakan sepupu yang selalu merengek dan merajuk manja meminta Milkuat. Teriakan-teriakan saling ejek ketika gerakan jari memainkan tombol-tombol PS berhasil menaklukkan tim andalan adik-adik saya. Menemani Ibu menerima salam, cium dari adik-adik dan Bapak yang siap berangkat beraktivitas. Duduk mengobrol hingga Mang Sayur datang. Sudah sangat lama rasanya meninggalkan Ibu memilih sendiri sayur-sayuran dari gerobak si Mamang.

Sayur-sayuran. Tepatnya kuliner. Hal kedua yang sangat saya rindukan. Mungkin bukan karena rasa makanan yang tidak enak, hanya lidah saja yang belum juga terbiasa dengan rasa dan cara memasak ala Sulawesi Barat. Hari-hari yang biasa ditemani tempe, sayur mayur, citarasa rempah yang dikombinasi beraneka ragam, variasi daging, ikan, bermacam makanan olahan turunan, bahkan makanan instan sejak enam bulan lalu berubah. Hambar. Tergantikan oleh dominasi amis ikan laut. Ikan terbang, ikan kakap, bandeng, tongkol, teri, dan bermacam ikan lain yang silih berganti menghias meja makan. Digoreng, dibakar, direbus, tanpa bumbu tambahan. Ya, tanpa bumbu. Memang saya jadi bisa membedakan rasa ikan, namun lidah tidak bisa bohong. Saya tetap menginginkan makanan yang biasa saya makan sehari-hari.

Begitu pula sayur. Sayur di Majene tergolong makanan mahal. Identik dengan orang Jawa karena daerah penghasil sayur adalah daerah trans berisi orang-orang Jawa seperti di Wonomulyo dan Kolehalang. Pun jenisnya tidak sevariatif di Jawa. 6 bulan, belum pernah saya temui wortel, kentang, buncis, selada. Paling hanya kacang panjang dan daun paku.

Karena keterbatasan suplai itulah saya dan teman-teman jadi malas bereksperimen dengan masakan. Mau masak A, ternyata bahan-bahannya kurang. Mau masak B, bahannya ada tapi mahal. Beberapa kali masakan ber-cita rasa lumayan berhasil saya temui, tapi tetap saja tidak mampu menutup kerinduan menyantap cita-rasa yang sudah membentuk lidah saya selama 23 tahun terakhir.

Ketiga, suasana. Suasana yang mencakup tempat, waktu, dan manusia. Nyatanya memang sejak lulus kuliah di akhir 2010, kegilaan masa muda telah dipaksa kalah oleh kekuatan dunia “orang dewasa” yang penuh keseriusan dan rutinitas. Membosankan. Dunia yang memisahkan saya dengan puluhan senyum lepas teman-teman terdekat. Tugas-tugas kantor, kesibukan dengan keluarga, stress mencari beasiswa lanjut, fokus membesarkan usaha, telah membangun sebuah batas yang begitu sulit ditembus oleh persahabatan. Kian hari jarak itu semakin melebar, mungkin hanya sapaan melalui sms dan telepon yang menjadi benang tipis penanda hubungan pertemanan kami.

Saya rindu malam-malam ketika teriakan-teriakan memenuhi rumah kos, entah karena listrik mati, ada cewek cantik lewat didepan kos, pertandingan bola, main kartu, atau ketika ada rejeki nomplok –satu atau dua kardus nasi- memanggil dari panitia pengajian di masjid. Atau ketika kantuk tidak juga datang dan coba diundang lewat teh jahe, beberapa bungkus nasi, dan sepiring gorengan bakar di atas tikar disamping gerobak angkringan Pakdhe Yono.

Juga ketika ide-ide gila muncul sebagai pelarian dari himpitan tugas-tugas kuliah. Membuat parodi film, video klip, iklan, atau bahkan menempuh perjalanan lintas provinsi hanya untuk menikmati semangkuk indomie rebus di Lereng Gunung Lawu. Rindu pesta besar menikmati hasil ngobyek proyek-proyek kelas teri. Menikmati gemerlap dunia selevel kantong mahasiswa dengan gaya sosialita.

Rindu yang hanya sempat terobati lewat foto, video, atau sekedar saling lempar ejekan lewat sosial media. Mencoba berimajinasi seolah-olah masih berada di dalam tempat, waktu, dan suasana yang sama. Walau berjauhan tempat. Walau berjauhan waktu.

Jarum merah panjang masih terus bergerak berkeliling. Berdetak perlahan menemani pagi, melewati siang, membuai malam yang terus menerus berulang. Menantikan saat yang tepat hingga waktu cuti datang untuk bertemu keluarga, bertemu makanan, dan bertemu sahabat.

Selasa, 02 April 2013

Dilema Listrik


13649483631736658411
Matahari kian terik membakar bumi. Rangkaian rumbia yang menutup rumah hampir tak mampu lagi menahan radiasi panas. Hanya alunan nada daun coklat yang bergesekan mampu memberi kesejukan membawa semilir angin beraroma kayu coklat. Buah kemiri di pelataran kian ramai bergemeretak, menguapkan kandungan air dan menjadikan diri siap dipecah sore nanti.
Orang-orang masih terhanyut dalam peluh menatikan bel istirahat saat adzan dzuhr datang menggema. Hening. Hanya suara televisi yang sayup terdengar, bergantian dengan suara alam yang harmonis.
Suara televisi di siang hari?

Oh saya lupa, saya sedang berada di Dusun Awo Kecamatan Tamero’do. 35 km jauhnya dari dusun Rura tempat saya tinggal. Dusun yang sangat berbeda keadaanya, rumah-rumah panggung berbaris rapi berdampingan dengan rumah batu –rumah tembok-, dibatasi pagar-pagar bambu berwarna biru putih yang melindungi bunga-bungaan indah yang hampir mekar. Beberapa rumah terlihat hijau oleh rumput yang menutup halamannya. Masjid berdiri gagah di pusat dusun.

Yang jelas listrik sudah masuk dan menyala 24 jam sehari, bukan pukul 17-22 seperti rata-rata kampung di gunung. Kawan saya yang ditempatkan di Awo tidak perlu repot turun ke dusun bawah untuk sekedar menge-charge laptop dan handphone, kamera bisa terus merekam tiap detik tingkah lucu anak-anak.
1364947940785850443
Genset yang baru dipasang

Dan dusun berlistrik terlihat lebih hidup. Suara adzan dari toa mampu menyapa telinga bapak-bapak yang ada jauh di dalam hutan. Pelajaran tambahan dan belajar mengaji bisa dilakukan sampai jauh malam. Film tentang binatang dan tata surya favorit anak-anak bisa diputar setiap malam.

Iri aku menyaksikan ini
Tapi kutekad aku harus bersyukur
Berguru pada kenyataan
Pada makhluk Tuhan yang katanya tak berakal

Sepenggal lirik “Kupu-kupu Hitam Putih” milik Iwan Fals langsung terlintas di benak. Saya juga ingin listrik, jerit yang terus menggema dalam hati.
________________________
Langit masih melukiskan biru yang sama, atap rumbia masih berusaha sekuat tenaga menghalau panas matahari. Es mulai mencair, melahirkan butir-butir embun yang perlahan mulai turun membasahi gelas.
Deretan tiang beton perangkai kabel-kabel masih angkuh berdiri menembus hutan. Berusaha menerangi ujung-ujung peradaban sebagai prasyarat agar layak disebut sebagai “keberhasilan pembangunan” atau “adilnya pemerataan”.

Saya ada di dusun bawah, tempat biasa “mencari” listrik ketika handphone dan laptop sudah kedip-kedip minta diisi. Dusun yang ada di jalan poros ini memang sudah lama dianugerahi lsitrik yang melimpah.
13649481541806368875
Genset yang dipasang

Namun diwaktu dzuhur masjid tidak mendendangkan merdunya adzan. Pun begitu ketika ashar. Ba’da maghrib tidak terdengar dengungan anak-anak yang dengan susah payah membedakan bacaan ikhfa dengan idhgam. Buku-buku dan PR tetap tersimpan rapi di dalam tas, tak tersentuh. Ruang belajar kosong, padahal lampu menyala terang.

Keriuhan hanya terlihat di ruang tengah tiap rumah. Ruangan dimana sebuah kotak 21 inch menjadi pusatnya. Ada yang tersenyum, tertawa, mendongak, melongo, bahkan beberapa  terlihat membungkus dirinya dengan sarung, menikmati kesendirian di pojok ruang tanpa menggeser bola mata dari televisi. Menikmati sinetron, gosip, tayangan olahraga, dan drama penjual mimpi yang pergi dan datang silih berganti.

Teras-teras bernyawa lampu 10 watt juga tidak kalah ramai dengan pemuda dan bapak-bapak yang asyik bermain domino dan kartu remi. Ada yang tertawa senang, ada pula yang meringis mengikhlaskan wajahnya “dirias” tepung oleh kawan-kawannya.
Ternyata listrik di Dusun bawah memunculkan wajah yang lain.
________________________
Saya sangat terkejut ketika suatu hari sepulang dari kota beberapa warga dusun menarik saya ke kebun belakang rumah.

”Bapak lihat saja nanti”

Dari balik rerimbunan daun kopi terlihat  sebuah mesin diesel yang sedang diisi solar. Biru dengan cerobong aluminium mengkilat bermahkota tangki solar berwarna merah. MADE in CHINA, begitu tulisan yang terlihat mencolok dari kejauhan. Kabel-kabel hitam menjulur, membelit, memotong, dan tergantung diantara pohon-pohon terus menerobos masuk ke tiap-tiap rumah tanpa satupun terlewat.
“Sebentar malam akan di uji coba Pak, mulai minggu depan Genset Dusun bisa beroperasi”

Ternyata bantuan genset dusun sudah masuk. Menurut Pak Dusun, genset itu mampu menerangi sekitar 30 rumah di Dusun Rura yang sudah sekian lama ada dalam kegelapan. Cukup patungan seribu rupiah setiap rumah per satu malam, maka listrik akan menyala mulai pukul 17.00 sampai solar hasil patungan habis ditelan mesin genset.

Alhamdulillah, berarti mulai minggu depan keheningan malam akan tergantikan dengan gaduhnya anak-anak yang berebut duduk di dekat monitor laptop. Menantikan tayangan National Geographic diputar. Pak Haji tidak perlu lagi memicingkan mata ketika senter yang menerangi Al-Qur’an santri-santrinya mulai meredup. Perpustakaan gelap yang selalu dianggap setting film horor akan berubah terang benderang dan penuh anak yang berebut buku, kertas gambar, serta pensil warna. Dan yang pasti, tamatlah riwayat kaleng susu kosong bersumbu yang sahabat setia warga Rura selama ini. Mirip suasana di Dusun Awo yang saya datangi tempo hari.

Namun, bagaimana bila yang terjadi justru sebaliknya?

Rumah Pak Haji ditinggalkan, kalah oleh gemerlap dunia yang dipamerkan layar-layar televisi. Suara adzan terabaikan oleh alunan gendang dangdut electon. Rumus dan hafalan pelajaran tergantikan oleh dialog-dialog kosong yang dicontohkan sinetron.

Listrik sudah akan masuk Rura, apa yang akan terjadi?


Rura, 2013.

Minggu, 14 Oktober 2012

Rumah Baruku - Majene #1


Majene, banyak orang mengucapnya –termasuk saya- dengan MaJEne (dengan lafal JE seperti pada kata Jepang). “Bakal dipelototin orang sana kamu nanti”, begitu kira-kira pesan Kak Aline pendahulu saya di Majene. Karena pengucapan MaJEne yang benar adalah MaJEne (dengan lafal JE seperti pada kata Jet) dan ada tambahan huruf “k” tanggung di belakang, jadi seolah berbunyi “Majene(k)”. Majene memiliki arti “berwudhu” atau “bersuci” dalam bahasa Mandar. Memang mayoritas warga Majene adalah muslim. Konon ceritanya dahulu ada orang Belanda yang singgah di Majene kemudian dia bertanya pada seorang lokal yang sedang berwudhu “Apa nama tempat ini?”

Karena tidak paham bahasa Belanda, orang lokal ini menjawabnya dengan “Majene” karena dia sedang berwudhu. Dari situ mulailah daerah ini disebut dengan Majene.

Saya tidak menyangka kalau bakal ditempatkan di Kabupaten Majene, Kabupaten yang kabarnya diproyeksikan jadi Kota Pendidikan dari Provinsi Sulawesi Barat. Di sebuah kabupaten yang dilewati jalan poros Sulawesi. Saya juga belum tahu pasti keadaannya, saya malas mencari informasi. Semua informasi yang saya dapatkan dasarnya adalah informasi lisan dari pendahulu-pendahulu saya.
Majene Cakep Komuniti (Tim kami di Majene)

Entah mengapa saya –dan tujuh orang kawan sepenempatan- tidak terlalu antusias untuk mendalami info tentang Majene. Berbeda dengan kawan-kawan yang ditempatkan di kabupaten lain, mereke seolah sidah paham betul daerah yang akan mereka jelajahi. Ada yang sudah paham tentnag banyaknya buaya yang mengintai di balik eksotisme sungai-sungi di Kalimantan, ada yang mulai bersiap mental akan penolakan warga terhadap pendatang, bahkan ada yang sudah bersiap memborong tissue basah karena tahu di daerahnya akan sulit untuk mencari air mandi. Yang saya tahu, desa yang akan saya tinggali nanti tidak ada listrik, “Harus ke desa bawah buat nge-charge laptop, itu juga pakai genset”. Begitu bunyi pesan Vivi yang nantinya akan saya gantikan.

“Nggak usah bawa smartphone, hp senter aja udah cukup, sinyal susah disini”, tambahnya lagi. Oke, dari awal memang sudah disiapkan buat terbiasa tanpa listrik dan sinyal.

Miris, karena kabarnya desa saya hanya terletak 15 menit ke arah gunung dari Jalan Poros menggunakan sepeda motor. “Motor sendiri?” tanya saya kepada Vivi. “Pinjem warga laaah”, jawabnya dengan nada agak sinis bercanda. “Bapak asuh punya motor koq, orang-orang desa juga nanti fine-fine aja kalau motornya dipinjem”. Ya, Bapak asuh saya adalah adik dari Pak Rasyid, Guru di SD tempat saya mengajar yang jega menjadi Bapak asuh Vivi. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Mandar, mau tidak mau saya harus belajar bahasa Mandar. Kabarnya sudah ada kamus bahasa Mandar yang diterbitkan. Itu wajib dicari.

Calon murid saya? “Monster”, kata Vivi spontan.

Apa?

Tapi Vivi langsung menjelaskannya, “Iya monster, tapi kamu harus ingat kata Pak Munif Chatib, setiap anak itu spesial dan mereka memiliki bakatnya sendiri. Kamu sebagai guru yang harus menemukan dan mengarahkannya”. Oke, logis. Dan memang selama training, itu yang benar-benar di-doktrin-kan dalam pikiran kami. Setiap anak spesial. Mereka terlahir dengan bakat yang dititipkan Allah SWT pada masing-masing mereka.

Yap, semua trainer dalam pelatihan, Ibu Weilin, Pak Munif Chatib, Ibu Elke, Ibu Ruth, Pak Bobby, Om Dik Doank, Pak Yudis, Ibu Sisca, semua menyajikan “Cara Gila” untuk mengajar. Benar-benar gila, gila metodenya, gila peralatannya, gila kreativitasnya, dan yang jelas guru harus benar-benar mau jadi gila demi muridnya. Hasilnya? GILA!!!! Lihat saja nanti.

Cuma 10-15 orang yang bakal memanggil saya “Bapak” dengan imutnya. Karena SD Inpress 22 Rura hanya memiliki sekitar 63 murid. Beruntung kalau saya dapat mengajar banyak kelas, sehingga lebih banyak lagi anak-anak yang bakal saya kenal, yang bakal menjadi tempat saya belajar.

Oke sepertinya itu sudah cukup. Saya tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang Majene dari sini. Saya ingin mengetahui Majene dari sana. Langsung dari dalam Majene. Karena kesan itu personal sifatnya, dan saya tidak ingin pikiran saya tentang Majene diracuni oleh kesan, baik ataupun buruk, dari orang lain. Saya ingin membangun impresi tentang Majene dari diri saya sendiri, dari mata saya. Segera saja terbangkan kami ke Majene, kami ingin merasakannya. Secepatnya. Sombong ya? Memang, tapi pesan dari CEO Detik.com semalam, “sombong itu menyenangkan”, hehe.

Majene, semoga menjadi tempat saya berwudhu. Menjadi tempat dimana saya mensucikan diri saya dari apapun yang bakal merusak sholat saya.

Senin, 07 Mei 2012

Indonesia, The Tropical Dutch

“Ke Belanda yuuk?”
“Hah, Belanda?”
Sebuah ajakan untuk mengusir kebosanan di akhir minggu. Ternyata yang dimaksud “Belanda” oleh teman saya adalah kawasan kota tua yang memang dihiasi bangunan-bangunan tua peninggalan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Sekilas memang landscape di kota tua tidak seperti landscape Indonesia pada umumnya. Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, serta beberapa bangunan tua yang dibelah kali Ciliwung seakan berusaha “mereplika” kota-kota di Belanda sana. Tapi benarkah hanya copy-paste?



13363679311714895077
Ilustrasi. Salah satu sudut pemukiman di Belanda. /Kompasiana (Shutterstock)

Hasil googling dengan kata kunci beberapa kota yang ada di Belanda menunjukkan pada saya bagaimana landscape di Belanda. Sekilas memang mirip, namun jika diperhatikan secara detail, nampaknya Inlander yang ada di Indonesia tidaklah sekedar copy-paste. Ya, desain “original Dutch” nampaknya kemudian dikembangkan dan dimodifikasi menjadi “tropical Dutch”. Llihat saja dari penggunaan batu kali di hampir semua bagian bangunan. Pondasi, dinding dasar (kurang lebih 1-1,5m dari tanah), bahkan beberapa bangunan ada yang seluruh permukaan dindingnya menggunakan batu kali. Mungkin bangsa Belanda melihat adanya ketersediaan batu kali yang melimpah di Indonesia, dan tentu saja karena batu memang terkenal kuat.



1336361937223906975
Batu Kali dimana-mana (Dok:pribadi)

Masih di seputar dinding, dinding bangunan peniggalan Belanda terkenal tebal, sekitar 25-30cm. Dan ini terbukti efektif meredam panasnya ilkim tropis. Coba saja masuk bangunan Belanda di siang yang terik, saya yakin panas dari luar tergantikan oleh sejuk udara ruang. Ya, mungkin modifikasi-modifikasi desain asli memang terpengaruh kuat oleh iklim tropis Indonesia. Dan lagi-lagi panas tropislah yang merubah fungsi “gunungan” atap bangunan Belanda di Indonesia. Memang, baik di Belanda dan di Indonesia, bangunan karya orang Belanda masih bercirikan atap bangunan yang tinggi, namun di Indonesia tidak ada atap bangunan yang dijadikan ruang loteng seperti di Belanda sana. Atap bangunan yang tinggi hanya berupa ruang kosong yang difungsikan sebagai filter panas matahari yang membakar genteng.



1336361998457552918
Atap tinggi tanpa loteng (Dok:pribadi)

133636205326457391
Atap tinggi (Dok:pribadi)

Pun desain jendela, walaupun sama-sama memiliki jumlah jendela yang banyak dan lebar-lebar, fungsi nya sedikit berbeda. Jika di belanda jendela lebar memang difungsikan untuk memasukkan sebanyak-banyaknya sinar matahari, di sini jendela difungsikan untuk pintu gerbang pertukaran udara agar suhu ruangan tetap terjaga tanpa bersentuhan langsung dengan cahaya matahari. Jangan heran jika pada bangunan Belanda versi tropis terdapat semacam tritisan diatasnya (yang juga berfungsi menghindari tampias air hujan), kalaupun tidak, masih ada selasar yang memberikan “jeda” antara ruangan dan halaman luar. Seakan masih kurang puas dengan mekanisme “pendinginan ruang” yang sudah dibuat, di beberapa bagian jendela atau pintu, kadang masih ditambahkan lubang-lubang udara yang jika kemasukan sinar matahari akan memberi suasana cahaya yang dramatis di dalam ruangan.



13363621861691454042
Tritisan (Dok:pribadi)

Sedikit keluar rumah, merah kuning warna tulip tergusur oleh rimbun dan hijaunya tanaman tropis. Beringin, rambutan, dan beberapa tanaman yang berdaun lebat banyak menghiasi rumah-rumah bergaya Belanda. Dan bila dilihat dari kejauhan, rumah-rumah bergaya Belanda terkesan angkuh dan “dingin”



1336362240417681274
Angkuh (Dok:pribadi)

Nampaknya memang tidak sama dengan yang asli di Belanda sana.
Berarti memang sudah ada modifikasi dan adaptasi desain dengan lingkungan tropis.
Berarti nggak sekedar copy-paste.
Walaupun mirip, tapi Indonesia dan Belanda tidaklah sama. Mungkin lebih tepat Indonesia ini disebut dengan Belanda versi Tropis.
Indonesia, the Tropical Dutch


1336362286830576169
Tropical Dutch (Dok:pribadi)

Sabtu, 21 April 2012

Mengapa Indonesia Merana, Inggris Berjaya...

Mencoba bermain-main dengan bahasa

Bahasa, apa sih artinya?sesuatu yang diucapkan sehari-hari?bukankah itu namanya kata-kata?menurut Wikipedia bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks

Tapi sudahlah, bukan itu yang ingin saya bahas karena saya bukan ahli bahasa. Saya orang teknik, jadi kalau ada yang kurang pas, mohon dimaklumi, hehehe. Oke, saya bukan sedang ingin sok pintar dengan bahasa, saya hanya pingin menuliskan yang tadi tiba-tiba saja terpikir di kepala saya. Saya sedang membaca sebuah poster berbahasa Inggris saat pikiran ini muncul.

“The Dark Knight”

Itu bunyinya, yang kalau di Indonesia-kan dari sepengetahuan saya berarti Sang Kesatria Kegelapan.
Apa yang membuat saya tertarik?

The Dark Knight (1), Sang Kesatria Kegelapan(2).
Saat melafalkan kata pertama, walaupun tulisannya susah dibaca buat orang yang tidak paham bahasa Inggris, tapi masing-masing tersebut hanya diucapkan dalam satusuku kata, The-Dark-Knight. Dalam bentuk yang sudah di terjemahkan, saya butuh sembilan sukukata untuk mengucapkan
Sang-ke-sa-tri-a-ke-ge-la-pan.

Benar, sembilan kali. Berarti, dalam arti kata yang sama, orang Indonesia 3x lebih boros dibandingkan dengan orang Inggris. Saya pun mencoba mencari-cari kata lain dalam bahasa Inggris, dan saya coba transfer ke bahasa Indonesia. Dan hasil iseng iseng saya menyimpulkan bahwa kata-kata dalam bahasa Inggris lebih irit dalam pengguanaan dibanding Indonesia. Terutama dalam hal suku kata, dan lebih spesifik lagi pada kata-kata kerja. Dimulai dari “kerja “ itu sendiri, perbandingan sukukatanya adalah 2:1 dibandingkan “work”. Lalu:

Swing : Berenang, 1:3
Dig : menggali, 1:3
Call : panggil, 1:2
Bring : bawa, 1:2
Go : Pergi, 1:2
Make : membuat, 1:3
Drive : menyetir, 1:3
(Silakan yang mau nambahin…)

Ya, kata kerja versi Indonesia lebih boros dalah hal waktu pengucapan. Saya sih iseng-iseng juga mengait-kaitkan hal ini dengan karakter kedua Negara dan menebak-nebak kenapa Indonesia kalah jauh dari Inggris.

1). Hmm, mungkin orang Indonesia hobi boros kali ya?buat berkata aja udah boros waktu dan boros huruf, maka jangan heran kalo orang Indonesia hobi memboroskan anggaran, kurang menghargai waktu, konsumtif, dan banyak hal lain yang berkaitan dengan boros.
2). Kata kerja versi Inggris lebih singkat, mungkin artinya kerja cepat, tepat, dan efisien, lain dengan prinsip di Indonesia: “Kalau bisa dibikin sulit, kenapa dipermudah?”
3). Dari kata-kata yang lugas, orang Inggris lebih to the point kali ya?lain dengan orang Indonesia yang suka bertele-tele, berputar-putar, berbasa-basi, namun akhirnya tujuan awal malah nggak tersampaikan.
4). Kata yang terdiri dari huruf-huruf sulit, tapi penguapannya mudah dan singkat. Mungkin orang Inggris selalu teliti dalam perencanaan, banyak hal rumit yang dipertimbangkan, namun dalam prakteknya tetap harus simpel dan sederhana. Berorientasi pada praktek, serumit apapun teorinya, prakteknya harus mudah dan bisa dimengerti semua orang dalam usia dan level pendidikan apapun.
Baru empat itu yang saya temukan, ada yang bisa menambahkan lagi?

Eh sebelum ditutup, saya juga tergelitik lagi saat ingat ungkapan
I cut my finger” yang diucapkan orang Inggris jika jarinya teriris pisau. Kalau versi Indonesia itu artinya “Jariku teriris”.

Kali ini bukan kosakata yang saya perhatikan, namun soal subyek dalah kalimat tersebut. Versi Inggris, subjeknya adalah “I”, saya. Berarti saya sendiri yang bertanggung jawab kenapa jari saya bisa teriris, itu murni kesalahan saya. Yang memegang pisau saya, yang menggerakkan pisau juga saya, jadi kalau ada apa-apa dengan jari saya, berati itu kesalahan saya dan saya yang mengambil tanggung jawab atasnya.
Versi Indonesia? Subjeknya tidak jelas siapa, atau mungkin subjeknya “jariku”?berarti yang salah siapa?si jari atau pisau?atau pemegang pisau?

Yang terkena dampak irisan?si jari, si pisau atau si pemegang pisau?
Naah, kalau dari sini yang saya lihat adalah, orang Inggris lebih berani mengambil tanggung jawab atas perbuatannya. Benar atau salah.

Berarti bahasa menunjukkan karakter penggunanya?benarkah?coba deh besok-besok tak belajar bahasa lain, siapa tau dapet inspirasi lagi.

Bukan maksud membanding-bandingkan Indonesia:Inggris, bukan pula bermaksud menjelek-jelekkan bangsa sendiri, sekali lagi hanya keisengan yang tidak disengaja yang membawa saya pada pemikiran seperti itu.


Apapun, saya tetap cinta Indonesia. Ingat, cinta Indonesianya, bukan pemerintahannya, bukan birokrasinya, bukan utangnya, bukan masalah-masalahnya, bukan konflik-konfliknya, bukan pilkada-pilkadanya, bukan partai-partainya.

Yang saya cinta Indonesianya.
:p

Senin, 16 April 2012

Menjual Kemiskinan di TV

1334866956860713197
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
"Saya nggak tega ngeliat Bapak, udah kerja dari pagi sampai sore cuma dapat 2000 rupiah"
"Ya Tuhan, mudahkanlah jalan Bapak, semoga masa depannya diberi kemudahan...."

Seperti itulah monolog yang mungkin menjadi ciri khas dari acara tersebut. Ya, di acara yang muncul hampir setiap hari, entah menjelang siang atau menjelang maghrib pola yang ditampilkan selalu sama 

"Mahasiswi dari kota yang tinggal selama beberapa hari bersama keluarga yang -maaf- dianggap miskin, atau mungkin kekurangan"

Adakah yang salah dari acara tersebut?

Mungkin dari satu sisi, lebih tepatnya sisi si Mahasiswi, atau lebih fokus lagi dari sisi orang-orang yang "beruntung", beruntung dalam hal ini kriterianya sengaja saya persempit, yaitu beruntung dalam segi:1) Tinggal di Kota, 2) Punya kelebihan harta, 3) Punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, acara tersebut mengajari bagaimana caranya mensyukuri keadaan, berkaca pada kehidupan bahwa diluar sana masih banyak orang-orang yang kurang "beruntung", tentu saja dari sisi harta saja.

Namun, saya pribadi melihat kalao acara tersebut merupakan acara yang mengeksploitasi kemiskinan dalam cara yang salah. Okelah kalau dengan melihat acara tersebut saya bisa banyak-banyak bersyukur dengan apa yang sudah saya peroleh. Dalam sudut pandang saya yang notabene memiliki pendapatan dan kondisi pekerjaan yang lebih baik dari yang ditayangkan di acara tersebut. Saya bisa banyak belajar untuk lebih kuat lagi menghadapi hidup, untuk total dan profesional dalam bekerja, intinya banyak yang bisa saya pelajari.
Lho, saya sendiri bisa banyak belajar darinya koq saya bilang itu acara yang tidak bagus?

Ya memang benar acara itu dapat mengajari penontonnya untuk lebih sabar dalam menghadapi hidup. Saya pribadi juga tidak keberatan untuk mengangkat orang-orang pinggiran dan memberikan gambaran tentang beratnya hidup yang harus mereka jalani. Tapi dalam konsep orang yang diangkat kisahnya tidak mengetahui secara langsung bahwa ada orang-orang di kota sana -orang-orang yang keadaannya lebih baik- yang mampu belajar dari kisah hidupnya, yang menangis prihatin dengan keadaannya, yang iba melihat perjuangganya.

Mengapa narasumber tidak bolehh mengetahui secara langsung?
Begini ilutrasinya.
Saya adalah seorang pedagang baju. Selama ini saya menjalani hidup saya berjualan baju dan saya mampu memberi makan keluarga saya walaupun setiap hari hanya berlauk tempe. Walaupun tidak mampu menabung, tapi hidup saya sudah berjalan seperti itu setiap harinya. Berangkat ke Pasar, berjualan baju, pulang, bawa uang, makan bareng keluarga, tidur. Entah cukup atau tidak, hal itu menjadi urusan internal keluarga saya.

Tapi tiba-tiba, ada orang luar masuk ke keluarga saya, menunjukkan kepada saya betapa hidup saya sungguh menderita dan sengsara. Dia menunjukkan bahwa pekerjaan menjual baju itu sangat repot, penghasilan hanya sedikit, sampai-sampai saya hanya mampu memberi makan keluarga saya dengan tempe. MEnunjukkan betapa hina pekerjaan yang saya lakoni sekarang, membiarkan dia membuka keadaan saya bukan hanya kepada tetangga, namun kepada dunia. Membuat keluarga saya -yang selama ini sudah bersyukur dan menerima keadaan hanya dengan tempe setiap hari- berpikir bahwa mereka menderita dengan keadaan yang mereka jalani selama ini.

Dengan menunjukkan betapa "sengsara" kehidupan yang saya jalani secara langsung, live didepan mata saya, disertai tangisan-tangisan iba yang menangisi kehidupan saya, ini sangat berpotensi menurunkan mental saya dalam menjalani hidup. Saya yang selama ini mungkin sudah bersyukur dengan hidup yang saya jalani, menjadi berprasangka buruk lagi kepada Tuhan, saya yang selama ini sudah bangga menjual baju, bisa berubah menjadi rasa malu karena ada orang yang mengatakan pekerjaan saya hina dan tidak menjanjikan apapun. Keluarga saya yang selama ini ikhlas dengan apa yang saya berikan, mungkin saja berubah dan mulai menuntut saya untuk memberikan lebih.

Ya, dengan cara "pertunjukkan langsung" tersebut, menurut saya ada potensi untuk merusak kehidupan pribadi sang narasumber. Paling tidak dengan beberapa contoh yang saya sebutkan diatas. Kecuali memang acara itu sudah di-skenario-kan.


Seperti yang saya bilang, mungkin akan lebih bijak dan beretika apabila acara-acara semacam tersebut diubah kemasannya seperti acara "hikmah" yang menampilkan rekaman dengan si narasumber dan narasi secara terpisah. Sehingga pesan untuk bersyukur tetap tersampaikan tanpa menyentuh kehidupan pribadi si narasumber secara langsung.

Cuma sekedar usul saja...

Rabu, 29 Desember 2010

Berhenti sejenak, merenung

Saat terjebak dalam rutinitas , seringkali membuat otak kita buntu dan malas untuk berpikir. Rutinitas telah membuat kotak tersendiri di dalam otak, sehingga tindakan kita cenderung hanya mengikuti apa yang sudah ada tanpa mau melakukan perubahan. Dan pada akhirnya membentuk sesuatu yang disebut “Kebosanan” karena otak kita sudah terlatih dengan pola “Lets Do the Job”.

Pola “Lets Do the Job” menjadikan kita hanya melakukan sesuatu yang sama berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan memiliki kemungkinan untuk melakukan kesalahan yang sama seperti para pendahulunya.

Pernahkah kita meluangkan waktu kita untuk sekejap berhenti sejenak dari rutinitas untuk berpikir dan merenung???

Luangkan waktu 5-10 menit setiap hari untuk berpikir dan merenung. Tempatkan diri di posisi lebih tinggi untuk melihat lebih luas. Biarkan imajinasi berkembang melebihi batasnya, kembalilah ke imajinasi kekanak-kanakan, hilangkan semua batas dan kotak yang membelenggu otak. Pikirkan hal-hal yang tidak mungkin. Melihat film kartun, membaca komik strip, mencari gambar2 lucu, akan membuat perasaan senang dan mereduksi kemungkinan stres.

Dengan memikirkan hal-hal imajinatif, maka otak akan menjadi kreatif, sehingga apabila dihadapkan pada persoalan rutin, otak mampu mencari pemecahan yang baru dan lebih efisien…

Maka biarkanlah imajinasi berkembang, pertahankan jiwa kekanakanakan di dalam diri anda…


Rabu, 15 Desember 2010

Negara ini masih ada karena orang-orang kecil

Ramainya perseteruan antara pegnuasa pusat dan sultan tampaknya menggoyah persatuan dan kesatuan Indonesia yang dari jaman saya kecil diperkenalkan sebagai Bhineka Tunggal Ika. Sejak reformasi bergulir, nampaknya negara kita mengarah pada kebebasan yang benar-benar bebas. Bebas tak terarah. Akibatnya banyak terjadi konflik kepentingan, perbedaan antara visi pemerintah pusat dan daerah, pilkada yang menghabiskan banyak uang rakyat dan sebagian besar beujung di meja hijau ditambah korupsi yang makin gila.

Sekian banyak konflik dan masalah yang ada seharusnya sudah membuat negeri ini hilang dari peta dunia. Indonesia sudah tidak eksis lagi.

Apakah yang membuat negeri ini masih berdiri sampai sekarang???tentunya bukan mereka yang terhormat yang menikmati kursi-kursi empuk disana. Naegeri ini masih layak disebut sebagai negeri karena kesetiaan orang-orangyang tekun dalam pekerjaannya yang mungkin dalam keseharian kita lihat sambil lalu saja.

Para Pegawai Negeri Rendahan yang setia untuk mengurus administrasi warga di tingkat kelurahan. Pekerja arsip negara. Polisi rendahan yang dengan disiplin menangani kasus-kasus pencurian ayam. Matri kesehatan yang setia melayani masyarakat walaupun mungkin buat makan saja dia susah. Guru honorer yang hanya dijanjikan SK PNS yang setia mengabdi mengajarkan “dunia” pada anak2 bangsa ini.


Belum lagi para OB,tukang kebun, pesuruh gedung pemerintahan yang selalu memastikan bapak2 yang terhormat bekerja dengan nyaman  (bukan bekerja dengan baik). Polhut dan Penjaga perbatasan yang mau memastikan keamanan negara ini walaupun keamanan perut keluarga belum jelas.

Ya karena mereka2 inilah -forgotten person- sampai sekarang, walaupun negeri ini seakan adalah negeri masalah, namun nama Indonesia masih bisa kita saksikan di dunia. Karena mereka yang selama ini kita remehkan -mungkin pernah kita hujat- yang setia dengan pekerjaannya, jujur, dan mampu mengemban amanah yang diberikan padanya dengan baik, negeri ini masih bisa disebut sebagai sebuah negara mandiri. Seharusnya mereka2 inilah yang menempati pucuk2 pemerintahan di negeri ini.

Semoga………..

Berebut Tiket Indonesia vs Filipina

“Berita buruk, kita kehabisan tiket…”

Begitu kira-kira pesan yang masuk ke HP pagi tadi. Hmm, sepertinya tiket pertandingan Timnas Indonesia menjadi barang yang paling diburu untuk mingu2 ini. Buat pebola sejati, faktor penariknya tentulah prestasi Timnas di Piala AFF 2010 yang dibilang luar biasa. Luar biasa disini artinya diluar kebiasaan, yang biasanya main jelek, saat ini  bagus, yang biasanya kalah, sekarang menang. Inilah yang membuat bolamania Indonesia rela antri untuk bisa menyaksikan cantiknya permainan timnas secara langsung

Naah menariknya di piala AFF kali ini, ada juga penggemar bola dadakan yang ikut menghabiskan jatah 70 ribu tiket yang disediakan panitia. Siapa lagi kalo bukan para wanita yang kepincut dengan Bachdim??mereka juga rela mengantri buat menyaksikan langsung idolanya -bukan timnas-, walopun sebenarnya saat menonton langsung wajah sang idola tidak kelihatan.


Animo menonton yang begitu besar menjadikan Stadion Utam GBK menjadi stadion dengan atmosfir yang begitu dahsyat. Sensasi menonton langsung dengan sorak sorai yang mengelegar seakan-akan menjadi charger untuk terus berteriak-teriak mendukung Timnas.

Namun, apakah atmosfir ini cuma akan terjadi sesaat???mampu ngak sih PSSI mempertahankan bahkan menaikkan prestasi timnas???

Hanya berbekal kemenangan di fase group, langsung saja menetapkan target untuk lolos PD 2014. Untuk membuat timnas yang solid bukan perkara mudah, dan yang pasti diperlukan pembinaan pemain muda yang bagus dan berkelanjutan. Naturalisasi yang sekarang ada hanyalah solusi jangka pendek, kalo dilihat umur “el loco” yang sudah berkepala 3. Lolos ke kompetisi sekelas PD bukan hanya tanggung jawab Riedl dan Timnas.

Semoga timnas besok menang. Saya dukung Timnas, dan semoga PSSI cepat sadar.

Besok saya akan datang mendukung Timnas Indonesia, bukan PSSI walaupun harus berburu tiket ke calo…

Minggu, 12 Desember 2010

Ramainya CPNS

Pagi ini, walaupun hari minggu,namun lalu lintas terlihat padat. Di beberapa daerah ternyata sedang dilangsungkan tes seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil. Beberapa teman mengirim pesan ke saya meminta doa agar sukses menjalani ujian dan bisa diterima sebagai PNS.

Mengapa di setiap seleksi CPNS dilaksanakan peserta yang mendaftar amat sangat mebludak??bahkan ada yang sampai koefisien pembandingnya 20:1 yang berarti 1 kursi PNS diperebutkan oleh 20 orang. Attractive apakah yang dimiliki PNS sehingga semua orang berebut mendapatkannya??bahkan ada teman yang rela resign dari pekerjaan yang dilakoninya sekarang demi mengejar cita-citanya menjadi PNS.

Memang di Indonesia status sebagai pegawai swasta masih kalah jauh gengsinya dibandingkan dengan PNS. Orang tua akan merasa sangat bangga apabila anaknya menjadi pejabat di suatu departemen pemerintahan. Apakah salah??


Tapi 20:1??apakah itu tidak terlalu over capacity??pemerintah seharusnya menaruh perhatian pada hal ini.
Persaingan yang sebegitu ketat menunjukkan bahwa lapangan kerja yang tersedia di negara ini masih sangat sedikit. Orang berbondong2 masuk menjadi PNS karena yang kebanyakan kita tahu, ya cuma itu peluang kerja paling banyak tersedia. Kemudian masalah kesejahteraan, teman saya mengatakan enaknya jadi PNS adalah karena masa depan yang terjamin, adanya tunjangan kesehatan, rumah tangga, dll, dan yang paling penting adanya dana pensiun. Ini membuat banyak orang memilih menjadi PNS ketimbang pegawai swasta yang bila dilihat dalam jangka panjang lebih “tidak jelas” masa depannya.

Apabila dilihat secara makro, terlihat keengganan para pelaku usaha besar untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Mereka tidak salah, karena pemerintah tidak bisa menciptakan iklim usaha yang kondusif, sehingga pengusaha besar enggan berinvestasi dalam jangka waktu yang lama, paling lama mungkin hanya 5 tahun. Sehingga mereka berusaha mencari untuk sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat dan berakibat pada kesejahteraan karyawan yang terabaikan.

Selain itu, iklim untuk berwirausaha juga tidak kondusif disini. Birokrasi yang sulit, urusan perijinan, dan sebagainya, membuat para pencari kerja juga hanya berorientasi untuk menjadi karyawan saja, main aman kalo meminjam istilah para enterpreneur.

Beberapa negara maju membuktikan bahwa mereka bisa kuat karena prosentase pengusaha penduduknya besar. Tentu saja ini didukung dengan iklim usaha yang baik, dan salah satunya dikarenakan stabilnya pemerintahan.

Semoga pemerintah segera sadar dan berhenti meributkan sesuatu yang “urgen tapi tidak penting”.

Jumat, 10 Desember 2010

Apa yang akan kita lakukan untuk bangsa ini?

Melihat kondisi Indonesia sekarang ini, mungkin banyak orang yang merasa dikecewakan. Pemerintahan yang saling lempar masalah, hukum yang lemah, pertahanan negara yang buruk, masyarakat yang miskin, kesemrawutan, dan masih banyak lagi.

Namun, apakah kita akan terus terusan mengeluh tanpa melakukan tindakan untuk memperbaiki negara ni?

Sempat terpikir untuk kabur dan memilih untuk pindah kewarganegaraan, tapi, dibalik kecarut-marutan yang ada disini, terlalu banyak alasan untuk tetap ada di sini.
Kesenian, Budaya, alam yang indah, keluarga, masyarakat, teman, apakah bijak menjadi egois disaat semua yang kita sayangi sedang terpuruk??

Dan pantaskah kita hanya ikut menggerutu dan tidak berusaha merubah keadaan yang mampu kita ubah???

Mungkin terlalu muluk bila bercita-cita memperbaiki negara ini, namun tidak salah kan kita berusaha memperbaiki apa yang ada disekitar kita agar nyaman untuk kita dan orang2 yang kita cintai???

Rabu, 08 Desember 2010

Belajar dari Olahraga

Sebelas pemain dengan satu visi -MENANG- memberikan energi yang luar biasa kepada seluruh penonton yang hadir di GBK. Penonton tanpa kenal lelah berteriak, bernyanyi, menari, untuk memberikan dukungan kepada 11 pemain yang berlaga untuk mengalahkan Thailand. Mereka terus memberikan dukungan tanpa kenal lelah, meskipun pada saat tertinggal 0-1.

Semalam benar-beran saya rasakan kebanggaan sebagai rakyat Indonesia di tengah-tengah merahnya GBK. Untuk pertamakalinya saya menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh semangat dan kebanggaan.
Seandainya para pemimpin kita punya satu misi, satu pendapat, dan kompak dalam bertindak, pasti rakyat akan mendukung sepenuhnya,,,,

Kapan ya????