Rabu, 11 April 2012

2 day trip : Manado-Bunaken

GA 600 tujuan Manado membawa saya terbang pagi itu, pukul 8:30 tepat pesawat take off dan meninggalkan Soekarno-Hatta. Cuaca cerah, pemandangan dliluar terlihat sangat jelas. Disamping saya duduk seorang Bapak tua yang belakangan memperkenalkan dirinya sebagai dokter anak. Beliau ke Manado dalam rangka Kongres Nasional Anak (KONIKA).
Bosan dengan pemandangan diluar kabin dan takut karena turbulensi yang terus terjadi, Bapak saya ajak ngobrol. Beliau bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai dokter anak, petualangannya keliling Eropa, keliling Australia -anaknya, yang juga dokter, tinggal di Australia-, keliling Indonesia, dan perjalanan hidup yang membawanya menjadi seperti sekarang. Akhirnya, selama dua jam Jakarta-Makassar, saya memperoleh lagi ilmu kehidupan dari seorang dokter anak yang telah mengabdikan dirinya untuk senyum anak-anak.
Pukul 11:25, pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makasar untuk transit menunggu tambahan penumpang dari Surabaya. Pesawat kembali terbang menuju Manado sekitar pukul 13:00. Maka, sambil menunggu pesawat kembali terbang, saya putuskan untuk berkaliling Bandara. Bandara yang lumayan megah, dan bersih. Lebih bersih dan tertata dibanding Bandara Soetta.
 
Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar
 Pukul 14:20 saya tiba di Bandara Sam Ratulangi, kira-kira sepuluh menit sebelum landing di Manado, saya terpana melihat pemandangan dari atas sini. Bahari 100%. Saya disuguhi pemandangan jernih dan birunya laut Manado, juga nampak beberapa pulau yang nampak seperti hijaunya permata di tengah kilauan biru air laut. Sayang, tidak sempat saya abadikan. Tak apa, pemandangan itu seolah menantang saya untuk menyelami laut Manado esok hari.
Oke, karena lagi-lagi tugas kantorlah yang membawa saya sampai ke Manado. Maka itulah yang harus segera saya selesaikan, dan saya harus berusaha menyelesaikannya hari ini, agar besok saya bisa menjelajah laut Manado. Tujuan utama adalah Desa Tampusu, di Tomohon.
Beruntung sekali karena lokasi survei berada jauh dari Manado, jadi perjalanan ini juga sekaligus menjadi penjelajahan darat Sulawesi Utara. Bandara-Pinggiran Manado-
Menjelang senja, Desa Tampusu yang kami cari akhirnya ditemukan. TErnyata desa yang terletak di kaki Gunung Lokon. Desa yang lumayan tinggi posisinya, karena dari sini, Danau Tondano terlihat sangat jelas dibawah sana.

 
 Danau Tondano
Karena hari sudah semakin gelap, survei segera saya lakukan, foto-foto dan sampel segera diambil. Dan tepat saat matahari terbenam, kewajiban dari kantor tuntas saya laksananan. Artinya?
Besok adalah penjelajahan laut Manado!!!!
Sunset Tampusu

Langit Sore Tampusu

Rute kembali dipilih rute shortcut, hanya dalam waktu satu jam kami sudah sampai di Manado dan langsung mencari tempat makan. Untuk tempat yang dikelilingi laut, manu yang paling tepat adalah menu seafood. Saya memilih untuk makan di tepian laut di kawasan  Megamall.
Malam itu, menu yang saya pilih adalah ikan kuah woku belanga. Ikan masak dengan kuah yang kaya sekali akan rasa rempah. Wangi aroma bawang, lada, dan serai yang sangat kuat, mungkin dosis keduanya sangat tinggi dalam kauh tersebut. Plus cabai -entah cabai apa- membuat kombinasi rasa pedas-hangat yang luar biasa mantap. Bohong kalau keringat tidak keluar deras saat menikmati makan ini.
Ternyata inilah rempah yang masuk ke woku belanga: Untuk membuat woku belanga, bumbu-bumbu yang telah dihaluskan seperti bawang merah, cabai, kunyit, kemiri, jahe ditumis bersama serai dan aneka daun wajib seperti daun pandan, daun bawang, daun jeruk purut, daun kunyit dan kemangi. Sumber:justtryandtaste.blogspot.com
Ya, kekayaan inilah yang dulu menarik penjajah datang ke Nusantara -terutama Maluku yang dekat dengan Sulawesi-. Rempah-rempah, dan hari ini saya baru mengerti alasan mereka jauh-jauh datang untuk mencari rempah-rempah.
 Penampakan Woku Belanga
Karena lelah, ajakan Kak Singgih -guide di Manado- untuk berkeliling kota saya tolak. Langsung mobil dipacu menuju hotel dan tanpa ragu saya langsung tidur demi menyiapkan badan yang segar untuk esok hari. Jam 10 pagi jemputan akan datang untuk mengantarkan ke Bunaken.
Saya menginap di lantai 8 sebuah hotel di pusat kota. Dan di pagi hari, saya baru sadar kalau pemandangan dari jendela hotel adalah pemandangan langsung ke laut. Mantap sekali. Sarapan saya selesaikan dengan cepat, nasi kuning dan bubur Manado jadi pilihan saya pagi ini. Nasi kuning yang tak jauh beda dengan yang sering saya temui, namun bubur Manado? baru kai ini sya merasakan bubur yang  dicampur sayur, daging, dan rempah sekaligus, bukan sebagai toping. Enak, dan kembali rasa dan aroma rempah mendominasi masakan.
Buru-buru saya balik ke kamar untuk sekedar mengabadikan kota Manado dari atas sini. Sungguh indah, dan bersih. Bau laut tercium dari sini.

View dari kamar hotel

Pukul 9:00 ternyata jemputan sudah datang. Menebus kegagalan acara semalam katanya, maka jadilah pagi ini sebelum ke Bunaken kami berkeliling Manado dari ujung sampai ujung. Namun saya kurang menikmatinya, karena yang ada di pikiran saya cuma laut, laut, dan laut.

Bibir pantai Manado

Jam 10:30 akhirnya mobil diarahkan menuju dermaga. Di daerah dermaga ternyata sedang dibangun sebuah jembatan cable stayed mirip Suramadu namun dengan tiang single. Ah, bukan jembatan yang jadi fokus pandangan saya. Namun laut lepas yang terhampar di depan saya, sudah tidak sabar rasanya ingin segera menceburkan diri.
 Jembatan yang on prograss

Bang Asoi, begitu dia memperkenalkan dirinya. Seorang Bapak yang berumur kurang lebih menjelang 40, namun masih terlihat gemuk sehat, dengan kulit hitam khas nelayan yang tiap hari terbakar matahari. Melayani wisatawan dijalaninya sebagai sampingan di akhir minggu diantara kesehariannya sebagai nelayan. Dibantu seorang asisten yang masih sangat muda, Bang Asoi dengan lincah memacu perahu motor lurus menuju Bunaken yang terlihat jelas dari dermaga. Mungkin jaraknya tidak begitu jauh.

400 ribu rupiah, harga yang harus kami tebus untuk menyeberang ke Bunaken.
Asisten Bang Asoi

Perahu melaju cepat, mungkin sekitar 45 meit kami sudah sampai di tepian bunaken. Pemandangan inilah yang kemarin saya lihat dari atas pesawat. Laut yang jernih, biru, bersih, mengelilingi Bunaken. Terumbu karang juga terlihat sangat jelas. Hijau dari atas kapal dan beberapa kali terlihat kibasan ekor ikan.

Oke, begini gambarannya. Bunaken adalah sebuah pulau karang yang terletak di sebuah laut dalam. Yang unik, bunaken dan laut dalam hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, jadi terdapat seperti jurang yang langsung memisahkan Bunaken-Laut dalam. Dari kedalaman hanya sekitar 1 meter, tiba-tiba laut langsung berwarna biru pekat dan jelas itu pertanda laut sangat dalam. Seperti ini kalau terlihat dari angkasa.


Menyewa peralatan snorkel seharga 150 ribu, tanpa pikir panjang lagi saya segera menceburkan diri ke laut Bunaken. Segar!!bau laut yang bikin ketagihan. Namun ternyata untuk menikmati keindahan laut Bunaken saya perlu latiah, snorkel tidak semudah yang saya kira. Beberapa kali air laut terpaksa tertelan karena saya agak sulit membiasakan diri dengan pernafasan mulut. Hahaha..

Dan, sepanjang sisa hari itu saya habiskan menikmati indahnya terumbu karang, keanekaragaman ikan, bintang laut, gigitan ikan yang berebut biskut, tertawa bersama teman-teman, semuanya tidak ada yang terlewatkan. Berenang di tepian jurang, melihat ikan-ikan yang lebih besar berenang menuju kedalaman laut. Sebuah pemandangan yang sungguh sungguh sungguh menakjubkan. Subhanallah.....

Namun kata Bang Asoi, timing saya salah. Seharusnya semalam saya menginap saja di Bunaken biar bisa menyelam, atau snorkel di pagi hari. Kata Bang Asoi, di pagi hari sering terlihat lumba-lumba. Kecewa sih, namun yang saya alami hari ini sudah sangat menakjubkan.

Foto-foto terumbu karang, ikan dan pemandangan bawah laut? saya rasa tidak perlu saya tampilkan disini karena semua keindahan itu lebih pantas dinikmati di sini langsung, di Bunaken!!!

Bareng Bang Asoi

Menjelang maghrib, kami kembali ke dermaga di Manado. Garuda menerbangkan saya kembali ke Jakarta bersama memori yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Kapal Roro ke Sangir

Nb: sebenarnya masih banyak cerita yang menarik dalam dua hari jalan-jalan ke Bunaken, tapi lain kali aja deh diceritain, hehe
_________________________

Tips jalan ke Manado:
1. Selalu pesan makanan khas, rasanya mantap semua. Nasi kuning, Bubur Manado, Woku, wajib dicoba.
2. Buat muslim, agak sulit cari tempat sholat, hanya dibeberapa tempat terdapat masjid. Jadi siapkan peralatan sholat yang gampang dibawa-bawa.
3. Berangkatlah ke Bunaken pagi hari kalau ingin menikmati laut dengan puas, kalau bisa menginaplah di Bunaken biar berpeluang liat lumba-lumba. Homestay satu malam katanya sekitar 400 ribu.

Selasa, 10 April 2012

1 day trip : Palembang


Tak seperti hari-hari biasa, sebelum Subuh saya sudah mandi dan berdandan rapi. Tas backpack andalan juga sudah terisi dengan keperluan "bertualang". Bersama dua teman saya, tepat pukul 07:30 kami bertiga akan terbang ke Palembang. Sebenarnya sih tugas kantor, tapi di jadwal yang diberikan pada kami, acara rapat hanya berlangsung dari jan 13:00-14:00, jadi kami punya waktu seharian untuk berkeliling kota Palembang.

Pukul 5:30 saya sudah sampai di bandara, terlalu pagi memang. Tapi pengalaman-pengalaman sebelumnya, daripada macet di tol dan sampai bandara mepet-mepet take-off, lebih baik kepagian dan sambil menunggu bisa sekalian cuci mata di Bandara.

Dua teman saya sudah menunggu, setelah check-in dan bayar tax, kami putuskan untuk sarapan di sebuah lounge sekalian menunggu pesawat.

7:00 am terdengar panggilan untuk memasuki ruang tunggu, kami-pun bergegas menuju kesana. 7:30 lebih sedikit, pesawat sudah lepas landas. Menumpang GA 110, ini adalah pengalaman pertama naik Garuda Indonesia. Menurut teman-teman naik GIA tuh enak, dapet makanan dan lain-lain, dan ternyata memang benar, sepanjang perjalanan saya tek henti-hentinya meminta makanan kepada sang Pramugari. Aji mumpung, hehe.

 
Interior Pesawat

Sekitar 45 menit perjalanan, pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badarrudin II Palembang. Gedung terminal yang baru menampakkan kemegahannya pada kami. Karena ini adalah tugas kantor, akomodasi bukanlah hal yang kami khawatirkan karena sesampai di bandara, sudah ada mobil yang siap mengantar kami berkeliling Palembang.

Dari SMB II ke kota Palembang kami menempuh perjalanan sekitar 30 menit, karena jalan yang tidak selebar di Jakarta, dan lalu lintas yang lumayan padat. Saya nikmati perjalanan tersebut, karena inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Tujuan pertama kami, tentu saja landmark Palembang : Jembatan Ampera.


Jembatan Ampera membelah Sungai Musi dan terletak tidak jauh dari Benteng Kuto Besak, Benteng dan Jembatan terletak hampir berseberangan, sehingga untuk menyusuri keduanya cukup dengan berjalan kaki. Walaupun matahari cukup terik, kalau masalah jalan-jalan pasti tetep semangat. Berkeliling kawasan Benteng, saya pikir itu adalah plasa kota Palembang, karena tempatnya ramai, jalannya lebar dan sangat sayik untuk jalan-jalan.

Setelah capek menyusuri kawasan benteng Kuto BEsak, agenda wajib selanjutnya adalah berfoto dengan latar Jembatan Ampers, sekaligus merasakan dingin air Sungai Musi. Jeprat jepret, posa pose, lari sana lari sini bergantian mengambil foto dan difoto. Pukul 10:30 kami putuskan untuk kembali ke Bandara untuk sholat jumat disana sekalian menunggu rapat -kebetulan lokasi rapat ada di dekat bandara-.
 
Tepian Musi


Masjid Agung Palembang

Selesai rapat, karena pesawat yang membawa kami pulang adalah pesawat jam 18:00, tentu saja masih ada waktu sekitar 4 jam untuk kembali berputar di Palembang. Kali ini adalah kunjungan ke Gelora Sriwijaya, lalu ke Monpera, dan Masjid Agung Palembang. Puas berkeliling ronde kedua, tentu saja tujuan akhir adalah kuliner. Saya pikir saya akan diajak berburu pempek, namun Pak Dedi -guide kami- membawa kami ke kedai Mie Celor di dekat kantor Walikota. Mie Celor?saya baru mendengarnya, soalnya sejauh yang saya tau Palembang itu Pempek dan Pempek itu Palembang, nggak ada yang lain.

Mie Celor adalah mie yang bisa saya sebut dengan mie yang "udang bangeet", karena kuahnya kaldu udang, taburannya juga udang. Mungkin lebih tepat ini adalah udang yang di mie-kan, bukan mie yang di udang-in. haha. Satu porsi mei celor mampu membuat saya angkat tangan, karena walaupun terlihat porsinya sedikt, namun padat isinya. Super kenyang..

Penampakan mie Celor

Puas makan mie, Pak Dedi kemudian membawa kami berkeliling lagi dan membawa kami ke kedai Pempek, tentu saja buat oleh-oleh pulang karena kalau dipaksa, perut sudah sangat penuh oleh mie. Pukul 4:45 kami sudah kembali lagi ke SMB II dan bersiap untuk pulang.

Pukul 6:10 -molor 10 menit dari jadwal-  JT 343 membawa kami pulang ke Jakarta. Walaupun hanya sehari, namun kunjungan ke Palembang sangat berkesan, setidaknya saya bisa lihat dengan mata kepala sendiri seperti apa kemegahan Jembatan Ampera dan Sungai Musi yang sering saya dengar.

Dan saya bisa bercerita kalau saya pernah jadi orang "sibuk", pagi Jakarta, siang Palembang, malam Jakarta lagi, hehehe.



Bergaya dulu


Senin, 09 April 2012

Gambar di Langit tak pernah sama

Entah kenapa, says selalu senang melihat langit. Sewaktu kecil dulu, sering saya pergi ke lapangan, ke kebun, atau memanjat pohon hanya untuk tidur-tiduran memandang langit. Saya seuka ketika awan bergerak, membentuk gumpalan-gumpalan yang tiba-tiba bisa menyerang seperti monster musuh Ultraman, atau sekedar T-Rex yang berjalan berkeliling, atau pesawat-pesawat Ufo yang saling berperang.

Langit tak pernah menyajikan gambar yang sama.

Itulah mengapa, terutama sejak saya mampu membeli sebuah Hanphone berkamera, saya senang mengabadikan lukisan-lukisan langit. Langit pagi, langit cerah, langit mendung, langit malam?sebenarnya ingin, namun kamera nggak mampu nangkep indahnya langit malam.

Langit pagi di Alun-alun kidul kota Solo

Langit sore di Terminal Mandiraja, Banjarnegara

Langit pagi di daerah Jagalan, Solo

Langit pagi Pasar Klewer, SOlo

Langit pagi Gladak, Solo

Langit pagi Solobaru, Sukoharjo

Langit pagi Laweyan, Solo


Langit mendung di kos, Solo

Langit pagi dari pintu air Demangan, Solo

Langit siang dari Solo Grand Mall Solo  

 Langi sore dari Kantor, Jakarta

 Langit siang, Manado

Langit Pagi Danau Toba, Parapat

Langit memang selalu indah, seperti apapun kondisinya. Selalu menginspirasi.
Yang mengingatkan pada keagungan Tuhan. Yang menjadikan manusia sadar betapa kecil dirinya, betapa lemah dirinya.

Subhanallah...

Minggu, 08 April 2012

Waduk Cengklik, mantap!!!


Minggu pagi, waktunya bertualang. Rute hari ini sudah ditentukan, waduk Cengklik, Boyolali. Sehabis subuh, kami sudah bersiap-siap, mengeluarkan sepeda, pemanasan ringan, lalu seperti biasanya, tepat setengah enam kamu check out.

Rute yang direncanakan pagi ini UNS-Panggung-Pasar Gede-Slamet Riyadi-UMS-Colomadu-Cengklik. Nampaknya lumayan laah buat bikin pegal lutut. Minggu pagi yang lumayan ramai, bus antar kota masih silih berganti melewati kami bertiga. Slamet Riyadi juga sudah mulai sesak akan warga yang mau menikmati Solo Car Free Day.

Sampai UMS ke arah Colomadu jalan lancar dan biasa saja, Namun mulai arah Colomadu genjotan mulai terasa berat. Entah kenapa, mungkin karena jalan yang landai menanjak. Waduk Cengklik, kalau dari arah kartosuro, tinggal lurus ke Utara arah bandara, lali belok kiri setelah jembatan di perbatasan Karanganyar-Boyolali, kemudian belok kiri sekali lagi. Kemudian tinggal lurus ke arah barat sekitar 2 km.

Jam 7:30 kami sampai di Cengklik, dan rupanya disana sudah ramai. Orang-orang bersepeda, sekedar jalan-jalan bersama keluarga, ada yang memancing, ada pula yang pacaran. Pokoknya ramai kayak pasar.

Kami putuskan untuk masuk dan menyusuri tepian waduk. Dan inilah beberapa yang kami dapatkan.
Pemandangan ke tengah danau

 Irvan yang nampaknya kelelahan
 Seorang Bapak sedang menjala ikan
 Sebuah keramba apung di dekat pintu masuk
Memancing di tepi danau

Selesai berputar-putar, perut nampaknya sudah berisik minta diisi. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pintu masuk, dan mencari warung untuk beristirahat dan sarapan. Ternyata agak sulit mencari, karena setiap warung pasti ramai.
Parkir penuh

Akhirnya kami berhenti di sebuah warung yang agak sepi, dan inilah yang saya pesan:


Teh hangat, plus gula batu. Segar sangat. Walaupun mentari pagi semakin terik, tapi teh panas ini cukup mengobati dahaga kami. Sambil nge-teh, enak juga untuk sekalian sarapan. Saya memesan pecel plus ikan wader kecil sebagai lauk. MANTAP!!!!

Bumbu pecel yang menggunakan cabe hijau makin menambah kesegaran. Teh Hangat seharga 1500 dan pecel plus ikan wader seharga 3500 nampaknya sangat-sangat murah juka dibandingkan dengan suasana sarapan yang begitu menyenangkan.


Setelah kenyang, kami putuskan untuk pulang dengan rute melewati bandara. Kebetulan pas ada pesawat Garuda mau take off, tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kami ikut berpose di depan si Garuda.


Mentari makin terik, kami rasakan cukuplah petualangan untuk hari ini. Dengkul juga semakin pegal. Wusss....wusss.wusss......, sepeda kami geber, ngebut untuk pulang dan segera mandi.
 
 __________________________________

Tips buat ke Cengklik:
1. Berangkat pagi biar nggak panas dan nggak terlalu rame.
2. Bawa kamera yang bagus biar dapet foto yang bagus pula.
3. Kalau mau dapet suasana, makan di warung pinggir dananu persis biar mantap.

Sabtu, 07 April 2012

Pesona Waduk Lalung

 Gowes bareng Irvan

Waduk Lalung terletak pada koordinat 7°36'53"S 110°56'26"E atau tepatnya berada di Desa Lalung, Karanganyar, Jawa Tengah. Atau dari arah Solo, terus ke Arah Alun-alun Karanganyar, lalu belok kakan ambil jalan ke arah Jumantono. sekitar 3 km didiepan, sebelah kanan jalan, Waduk Lalung akan ditemukan dengan mudah.

Pagi ini (7/4/2012), saya dan Irvan dan Siswo, awalnya berniat besepeda pagi hanya samapi alun-alun Karanganyar saja. Jam 05:15, setelah sholat Subuh, Irvan yang biasa bangun siang nggak tau kena setan apa, tiba-tiba bangun dan menantang kami untuk bersepeda. Dengan penuh semangat, tentu saja tantangan itu kami sanggupi karena beberapa hari kemarin acara bersepeda selalu gagal akibat hujan.

Pagi yang dingin, namun cerah. Sekitar pukul 5:30 kami keluar. Udara pagi langsung menyambut dan menyegarkan paru-paru kami. Pelan, kami pacu sepeda kami melewati Sungai Bengawan Solo. Lalu lintas masih nampak sepi disana. Merah langit pagi mulai tampak di sebelah timur sana, dan Hargodumilah (Puncak Lawu) terlihat jelas diantara langit yang bersih. Sampai Palur, cuaca terlihat bersih dan cerah.
Sunrise berhiaskan puncak Lawu

Namun mulai masuk Jaten, kabut ternyata masih belum pergi. Walaupun lumayan tebal, namun jarak pandang masih cukup lumayan. Beberapa kali kami juga bertemu kelompok sepeda lain, mungkin para atlit -terlihat dari sepeda mereka yang tipe balap-. Santai kami genjot lutut kami. Nggak sampai setengah jam, kami sudah ada di depan Kantor Bupati Karanganyar, di pusat kota. Dan setelah dirasa-rasa, lutut kami belum terasa begitu capek, makanya kami memutuskan untuk menambah rute, dan Waduk Lalung menjadi pilihan kami.

Ditemani laulintas yang mulai padat, kami menuju Waduk. Sampai disana, kami putuskan untuk menaikkan sepeda dan berjalan menyusuri tepian waduk. Ternyata memang sangat indah. Karena kebetulan musim hujan, sehingga air waduk terlihat banyak. Langit yang cerah juga menampakkan Merapi Merbabu dengan sangat jelas di barat sana, plus terlihat pula Sindoro mengintip dibaliknya. Di sebelah timur, Lawu juga menyapa.
Waduk Lalung dan Puncak Lawu

Waduk Lalung plus Merapi-Merbabu

Berfoto sebentar, lalu kami putuskan untuk berputar mengelilingi wadung. Berkeliling melalui jogging track yang ditumbuhi lebat oleh semak-semak. Setelah sekitar 45 menit berkeliling, kami putuskan untuk pulang, dan mengambil rute berbeda dari rute berangkat tadi, kalau tidak salah rute dengan jalan tembus di daerah Bekonang untuk kemudian berbalik lagi ke arah Solo.
Siswo dan Irvan bergaya di pintu waduk

Apapun sepedanya, yang penting dengkulnya kuat

Lumayanlah pagi ini, 2 jam disuguhi pemandangan yang luar biasa indah.

Maha Besar Engkau ya Tuhanku....
_______________

Tips ke Waduk Lalung:
1. Datanglah saat musim hujan, karena air waduk sedang banyak-banyaknya dan indah untuk dinikmati.
2. Datanglah di cuaca yang cerah, karena Merapi-Merbabu, serta Lawu kemungkinan tidak tertutup awan di cuaca seperti itu.
3. Bawa cukup air dan topi, lumayan panas.

Selasa, 01 November 2011

Burangrang Mountain, (cuma) 2050 MDPL

Langit pagi Burangrang

Jumat, 28 oktober 2011.
14:28

Terakhir mendaki kalau tidak salah sekitar tahun 2003, kalau tidak salah malam itu adalah malan Final Liga Champions AC Milan vs Juventus. Saya yang masih bocah SMP ingusan dan 7 teman saya memutuskan untuk merayakan kelulusan kami dengan mendaki dan nge-camp di gunung-gunung, atau mungkin bukit-bukit yang berderet rapi menghiasi kota kami. Banjarnegara.

**************
24 Oktober 2011

“Jadi nggak nih?”
“Gw pegang omongan lw, jangan sampe berhenti di niat doang”

Kata-kata seorang manajer senior di Kantor tempat saya bekerja. Kata-kata itu seolah menjadi tantangan bagi saya untuk membuktikan kalau saya masih kuat mendaki. Pak Djo, begitu beliau biasa kami panggil. Seorang penggiat alam senior -ini baru saya ketahui belakangan- begitu girang saat saya menanyakan padanya “Kapan kita naik Pak?”

Dengan semangatnya, beliau menyiapkan semua keperluan pendakian. Dari mobil, tenda, sleeping bag, matras, carrier, semuanya. Hal itulah yang membuat saya dan kawan-kawan menjadi pekewuh (tidak enak) jika tiba-tiba urung untuk mendaki.
“Apa sih yang nggak bisa buat seorang manajer?” katanya bangga.

***********************************
28 Oktober 2011
Berbekal dua buah mobil dari kantor, kami ber 6 (Saya, Pak Djo, Wira, Wiar, Wiwik, Risky) dan dua orang rekan Pak Djo (Keling dan Igo) berangkat menuju Cimahi. Kalau tidak salah kita berangkat menuju desa Cibolang.

Keluar Tol Pasteur, untuk mengisi tenaga sebelum naik, kami sengaja mengisinya dengan Tongseng Kambing. Mantap rasanya, ditambah hujan deras yang mendinginkan suasana. Namun ditengah nikmatnya tongseng, kami berharap hujna ini segera mereda agar pendakian berjalan lancar.
Sehabis magrib, sampailah kami di rumah Pak Khotimun, ketua RW dan tokoh senior di Desa. Teh hangat dan singkong goreng menyambut kami malam itu. Setelah sedikit berbasa-basi dan sampir pengechekan akhir peralatan mendaki, kami pun berpamit untuk segera memulai pendakian. Tentu saja setelah adanya nasehat2 dari Pak Khotimun.

20:22
Pendakian kami mulai. Berawal dari Bukit Mati. Itu yang dikatakan pemandu kami. Saya tidak tahu mengapa dinamakan demikian, menurut saya sih karena ada makam di dasar bukitnya. Makam sesepuh desa, kata Pak Khotimun tadi.

Karena tim terdiri dari pendaki-pendaki senior yang junior. Senior dari segi usia, namun junior dalam urusan mendaki, hehehe. Maka kami sudah berpesan ke pemandu kalau jalannya pelan-pelan saja. Hehehe.
Satu jam pertama melewati bukit mati, hanya padang rumput dan sedikit pohon cemara jarum yang menemani. Dibelakang kami, kota Cimahi mulai menampakkan sinar-sinar lampunya.
Awan mendung yang mendampingi kami sejak tadi memaksa kami berhati-hati dalam mengayunkan langkah di rumput yang basah. Sisa-sisa gerimis juga masih sesekali terjatuh membasahi jaket.

************************
Bukit mati terlewati.
Trek pendakian pendakian memasuki jalur “trek hutan” kalau boleh saya istilahkan begitu. Pohon-pohon sejenis salak yang berduri dan pepohonan pinus mulai menghiasi kanan kiri jalur yang kami lewat. Sesekali duri-duri itu memaksa kami meringis karena sentuhannya yang cukup menggores kulit. Tanah yang tetap kering menunjukkan pada kami betapa rimbunnya jalur itu, sampai-sampai hujan lebat tak mampu menembus rimbunnya dedaunan.

3 jam pendakian terlewat. Kelandaian jalur yang semula hanya berkisar 30-45 derajat mulai berubah curam. Langit yang mulai terlihat cerah, kota Cimahi yang mulai lebih jelas terlihat, pepohonan yang mulai jarang terlihat menunjukkan kepada kami bahwa puncak sudah dekat.

15 menit lagi!!
Kata pemandu kami.
Jarangnya pepohohonan membuat air hujan yang tadi sore turun membasahi tanah dan membuatnya menjadi licin. Beberapa kali saya dan beberapa teman tejatuh karena terpeleset. Untungnya, akar2 pohon yang menjalar membantu kami mendaki atau mungkin memanjat gunung. Berat bagi kami yang sehari-harinya hanya menghabiskan waktu didunia yang hanya selebar 17 inch.
Haahaha, capek ya?kata Kang Samuk -pemandu kami-
Karena lemahnya fisik kami, akhirnya pendakian agak terhambat karena banyaknya istirahat.

************************
32.48
Setelah beberapa kali kata-kata “15 menit lagi sampai puncak” dari kang Samuk, akhirnya kami benar-benar sampai di Puncak Gunung Burangrang. “15 menit lagi” ternyata hanya sebagai tipuan untuk memunculkan semangat kami yang sedang kendor.
Puas sekali rasanya merasakan kembali tiupan angin puncak gunung yang lama sudah tidak saya hirup. Tugu penanda puncak-pun saya naiki untuk menunjukkan kegembiraan saya. Sementara teman-teman yang lain sudah cukup dengan berfoto di depan tugu peringatan.
“Selamat datang di puncak Burangrang, 2050 MDPL” begitu bunyinya.

Sampai Puncak Juga

Kota Cimahi begitu indah menampakkan kerlap kerlipnya. Nun jauh sana, mungkin kota Bandung dan Cianjur juga menunjukkan kemilaunya. Di sebelah utara, Subang dan Sumedang juga seakan tak mau kalah pamer kecantikan kepada kami.
Tapi ternyata puncak Burangrang terlalu sempit untuk menampung 12 orang pendaki. Maka Kang Samuk memutuskan untuk membawa kami ke Puncak bayangan yang ada di sebelah timur puncak utama.
*************************

Masak Bakwan Goreng

04.48
Tenda sudah berdiri, teh hangat sudah tersaji, bakwan goreng karya Mbak Wiwik-pun sudah mengepul diatas piring. Sambil menunggu sun rise kami hanya mengobrol ringan dan mendengarkan cerita-cerita pendakian dari Kang Samuk, Pak Djo, dan teman-teman yang lain.
Beberapa teman yang terlalu lelah -karena inilah pendakian pertama mereka- sudah lama terlelap dalam tidurnya. Terbungkus hangatnya kantong tidur yang sengaja mereka beli untuk pendakian ini.

************************

Kabut Pagi

Kabut tebal dan angin kencang menghias sholat subuh kami. Yang kami khawatirkan, kabut itu akan menutupi senyum matahari pagi yang kami nanti.

Dan kekhawatiran itu pun terjadi juga, matahari baru menampakkan sinarnya jam 7 lebih. Muncul dari balik puncak Tangkuban Parahu. Sinar kuning cerah yang menunjukkan pada kami hujaunya pegunungan di sekitar Burangrang, jernihnya air Situ Lembang, dan angkuhnya rumah-rumah berdiri di bawah kami.
Puji syukur padamu Tuhan yang telah menunjukkan pada kami semua kebesaranmu.

 Pak Djo dan Bang Wiar
******************************

 Sunrise

Menatap jalan setapak
Bertanya - tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru - Dewa 19
***************************

Tim Pendaki Amatir yang Profesional 

 Nggaya dulu sebentar

(bukan) Tim Ekspedisi Cincin Api
2050 MDPL, 29 Oktober 2011