Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Anak Dusun..


Beberapa anak terlihat berlarian, berebut bola, menggiringnya, kemudian menendang, berusaha memasukkan benda bundar itu ke dalam gawang. Badan mereka nampak tegap dan sehat. Sementara yang lain sibuk dengan gundu, bola kasti dan kulit kemiri, atau sekedar berlari-lari menyusuri teras. Sama seperti SD di bagian Indonesia yang lain, seragam putih merah masih setia menempel walaupun banyak yang sudah terlihat lusuh. Ada tas tergantung pada setiap punggung, namun hanya satu dua yang terlihat bersepatu.




08:00 WITA. Pelajaran seharusnya sudah dimulai. Namun karena akses ke Desa yang sangat sulit, wajar bila banyak guru yang tinggal di pinggir –istilah yang dipakai orang Pegunungan untuk menyebut warga pesisir- sering datang terlambat.
 “Pak, masuk kelas enam ya?”

“Masuk kelas empat saja Pak...”

“Pak kelas lima kosong, mengajar kami saja”

“Kapan masuk kelas tiga Pak?”

Permintaan-permintaan itu hanya sempat terbalas oleh senyum. Begitulah keadaan di Rura, murid selalu meminta guru masuk ke kelasnya. Mereka haus pengetahuan. Jangan heran bila ada yang berteriak “Lagi Pak, lagi!!” ketika jam pelajaran sudah habis dan soal sudah selesai dikerjakan.

Benarkah bila ada yang menyatakan semangat belajar di desa terpencil itu rendah? Tidak, mereka justru punya spirit yang jauh lebih tinggi dibanding anak-anak sekolah di kota.

Semangat anak Rura sudah dimulai jauh sebelum langit menampakkan terangnya. Dalam dekapan kabut pagi, mereka sudah berlomba menuju sumur desa untuk beradu kuat dengan dinginnya air dan udara subuh. Tanpa sarapan –sarapan bukanlah kebiasaan warga Rura- mereka segera bersiap dan menunggu datangnya Guru melintas di depan rumah. Terkadang ada yang menghampiri dengan nafas sedikit terengah.

“Tadi Saya lari biar berangkat bareng Bapak”, begitu katanya sambil bergabung dengan kawan-kawannya untuk berjalan dan bernyanyi bersama menuju sekolah.

Namun seringkali keinginan belajar di kelas sedikit tertunda karena Penjaga Sekolah yang belum datang membuka pintu-pintu kelas, atau karena Pak Guru berhalangan hadir, atau karena harus membantu orang tua mencari sappiri (kemiri – bahasa Mandar Gunung) di hutan. Bahkan beberapa bulan lalu karena beberapa kelas sedang direhab, anak-anak harus rela bergantian ruang kelas, atau bergabung dengan kelas lain.

Di tengah kepungan kebun coklat dan suara serangga yang tak pernah putus, anak-anak Rura menuliskan satu persatu huruf dan angka yang menuntun mereka menuju masa depan. Memang masih banyak yang sulit mengeja GAJAH dan menjumlahkan 5+1, namun tangan-tangan mungil mereka selalu terangkat ketika sebuah pertanyaan diajukan. Hingga kelas berakhir, suara lantang mereka tak pernah berhenti menggetarkan kelas. Berebut menjawab semua soal walaupun seringkali jawaban yang diberikan tidak tepat. Namun itulah yang membuat kami bangga. Anak-anak tidaka takut mengungkapkan pendapatnya. Ini yang guru-guru sebut dengan KEBERANIAN.

Tidak seperti murid-murid di kota, tidak ada bermain atau tidur siang sepulang sekolah, tidak ada pula yang namanya pelajaran tambahan. Satu-satunya kegiatan yang harus dilakukan adalah memecah kemiri. Setelah sholat dan makan siang biasanya anak-anak sudah siap dengan petuttu, alat pemecah kemiri yang mirip dengan sendok sayur dari bambu.

“Prek!!...prek!!!...”, suara kulit kemiri yang pecah, kalah beradu dengan batu. Begitu sampai malam menjelang.

Dan saat langit berubah menjadi hitam, segala keriuhan kompak bersembunyi. Meniupkan kesunyian ke seluruh sudut Dusun Rura yang gelap. Belajarkah anak-anak?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Lelah pikiran di sekolah, serta lelah fisik karena kemiri bisa jadi membuat anak-anak sulit menahan matanya untuk tetap terbuka. Lagipula bila masih ada semangat untuk belajar di malam hari, ada hambatan lain yang menunggu. Kegelapan.

Benar, kegelapan. Bila mata dilemparkan ke kalender yang tergantung di dinding ruang tamu, tertulis memang tahun 2012. Namun suasana malam di Rura lebih mirip cerita nostalgia Bapak Ibu saya pada medio ’79-’80-an. Belum ada listrik masuk Rura. Genset? Operasionalnya terlalu mahal menurut beberapa warga. Tidak ada lampu, hanya kaleng bekas susu berisi minyak tanah dengan sebuah sumbu menjulur yang menjadi satu-satunya penghasil cahaya. Belajar malam hari benar-benar menjadi sebuah perjuangan.


Sambil melawan kantuk, ditemani remangnya pelita, terkadang harus terbatuk karena asap yang terhirup Ikram tumbuh menjadi anak yang sangat cepat menghitung perkalian dan pembagian. Maslim bertransformasi dari anak cengeng menjadi Juara Sains Kecamatan. Azis dapat menghafal dan menyanyikan lagu dengan merdu. Lasmi mampu menghasilkan puisi dan lukisan yang indah. Dan Sarni mampu mengembangkan kemampuannya mengitung cepat.

Mereka mempunyai otak yang sama-sama cerdas, cita-cita yang sama tinggi. Walaupun berada di desa yang penuh dengan keterbatasan, selama masih memijak bumi yang sama kerasnya dan berada di bawah langit yang sama birunya, kesempatan yang Allah berikan pastilah sama. Mereka pasti bisa jadi seperti apa yang mereka cita-citakan. Tidak ada yang tidak mungkin bila Dia sudah berkata, Kun.
Rura, 2012

Kamis, 20 Desember 2012

Beautiful MAJENE


Kira-kira ini sudah mendekati hari ke 50 saya "bertualang di majene bersama 7 orang kawan yang lucu-lucu diatas. Banyak cerita dan banyak tempat yang sudah dikunjungi, banyak orang pula yang sudah dikenal. ini sebagian yang bisa di "pamerkan".

Ini pantai Dato yang cuma 15 menit dari pusat kota, jadi bila perlu refreshing sedikit, tinggal cari pinjaman motor langsung berenang-renang di Dato.


Kalau dibawah ini foto kakek yang tinggal bareng, dia Bapaknya Ibu angkat saya. Orangnya lucu, mantanpejuang saat perang kemerdekaan. usianya 95 tahun, tapi masih ingat lagu-lagu perjuangan, dan....
Masih kuat naik ke kebun buat cari kemiri.


Ini suasana kelas dimana saya mengajar. anak-anak senang sekali diberi bintang dari karton di dada mereka bila mampu menghafal perkalian atau selesai mengerjakan soal dengan benar.


Ini juga anak-anak kelas enam saat mencoba mengkreasikan sampah menjadi sebuah karya untuk pameran di sekolah.


Ini sunset dari Pantai Dato


ini adalah pohon di gerbang masuk kecamatan yang saya tempati, Ulumanda. Pohon yang persis ada di pinggir jurang, hanya tiga meteran dari jalan, dan selalu menarik perhatian. Kalau melihat suasana dari sini langsung terbayang Film The Lost World, entah kenapa.


Pohon yang sama dalam suasana berbeda.



Ini juga salah satu bagian dari pantai -yang saya sebut sebagai pantai pribadi- di pasir Putih, 15 menit dari dusun yang saya tinggali.

Pemandangan dari pantai yang sama, Pantai Pasir Putih yang sangat sepi dan bersih.



Ini waktu berkeliling menyusur jalan poros Sulawesi, ketika pulang dari mengurus sesuatu di kota. Tidak sengaja berpapasan dengan Elang laut yang sedang mencccari ikan. Wow sekali karena inilah kali pertama melihat elang laut di alam bebas. Dan belakangan saya tahu kalau sarangnya ada di puncak bukit batu di daerah onang, saya sempat bertemu dengan tiga ekor elang laut yang sedang berburu bersama.

Ini durian pertama yang saya belah di Rura, kiriman dari seorang murid yang rela datang ditengah hujan deras demi mengantar duren, mantap.


Demikian dulu, masih banyak yang pengen diceritakan, tapi berhubung internet susah ya dicicil aja lah ceritanya, hehehe.


Rura, 21 12 2012

Minggu, 14 Oktober 2012

Rumah Baruku - Majene #1


Majene, banyak orang mengucapnya –termasuk saya- dengan MaJEne (dengan lafal JE seperti pada kata Jepang). “Bakal dipelototin orang sana kamu nanti”, begitu kira-kira pesan Kak Aline pendahulu saya di Majene. Karena pengucapan MaJEne yang benar adalah MaJEne (dengan lafal JE seperti pada kata Jet) dan ada tambahan huruf “k” tanggung di belakang, jadi seolah berbunyi “Majene(k)”. Majene memiliki arti “berwudhu” atau “bersuci” dalam bahasa Mandar. Memang mayoritas warga Majene adalah muslim. Konon ceritanya dahulu ada orang Belanda yang singgah di Majene kemudian dia bertanya pada seorang lokal yang sedang berwudhu “Apa nama tempat ini?”

Karena tidak paham bahasa Belanda, orang lokal ini menjawabnya dengan “Majene” karena dia sedang berwudhu. Dari situ mulailah daerah ini disebut dengan Majene.

Saya tidak menyangka kalau bakal ditempatkan di Kabupaten Majene, Kabupaten yang kabarnya diproyeksikan jadi Kota Pendidikan dari Provinsi Sulawesi Barat. Di sebuah kabupaten yang dilewati jalan poros Sulawesi. Saya juga belum tahu pasti keadaannya, saya malas mencari informasi. Semua informasi yang saya dapatkan dasarnya adalah informasi lisan dari pendahulu-pendahulu saya.
Majene Cakep Komuniti (Tim kami di Majene)

Entah mengapa saya –dan tujuh orang kawan sepenempatan- tidak terlalu antusias untuk mendalami info tentang Majene. Berbeda dengan kawan-kawan yang ditempatkan di kabupaten lain, mereke seolah sidah paham betul daerah yang akan mereka jelajahi. Ada yang sudah paham tentnag banyaknya buaya yang mengintai di balik eksotisme sungai-sungi di Kalimantan, ada yang mulai bersiap mental akan penolakan warga terhadap pendatang, bahkan ada yang sudah bersiap memborong tissue basah karena tahu di daerahnya akan sulit untuk mencari air mandi. Yang saya tahu, desa yang akan saya tinggali nanti tidak ada listrik, “Harus ke desa bawah buat nge-charge laptop, itu juga pakai genset”. Begitu bunyi pesan Vivi yang nantinya akan saya gantikan.

“Nggak usah bawa smartphone, hp senter aja udah cukup, sinyal susah disini”, tambahnya lagi. Oke, dari awal memang sudah disiapkan buat terbiasa tanpa listrik dan sinyal.

Miris, karena kabarnya desa saya hanya terletak 15 menit ke arah gunung dari Jalan Poros menggunakan sepeda motor. “Motor sendiri?” tanya saya kepada Vivi. “Pinjem warga laaah”, jawabnya dengan nada agak sinis bercanda. “Bapak asuh punya motor koq, orang-orang desa juga nanti fine-fine aja kalau motornya dipinjem”. Ya, Bapak asuh saya adalah adik dari Pak Rasyid, Guru di SD tempat saya mengajar yang jega menjadi Bapak asuh Vivi. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Mandar, mau tidak mau saya harus belajar bahasa Mandar. Kabarnya sudah ada kamus bahasa Mandar yang diterbitkan. Itu wajib dicari.

Calon murid saya? “Monster”, kata Vivi spontan.

Apa?

Tapi Vivi langsung menjelaskannya, “Iya monster, tapi kamu harus ingat kata Pak Munif Chatib, setiap anak itu spesial dan mereka memiliki bakatnya sendiri. Kamu sebagai guru yang harus menemukan dan mengarahkannya”. Oke, logis. Dan memang selama training, itu yang benar-benar di-doktrin-kan dalam pikiran kami. Setiap anak spesial. Mereka terlahir dengan bakat yang dititipkan Allah SWT pada masing-masing mereka.

Yap, semua trainer dalam pelatihan, Ibu Weilin, Pak Munif Chatib, Ibu Elke, Ibu Ruth, Pak Bobby, Om Dik Doank, Pak Yudis, Ibu Sisca, semua menyajikan “Cara Gila” untuk mengajar. Benar-benar gila, gila metodenya, gila peralatannya, gila kreativitasnya, dan yang jelas guru harus benar-benar mau jadi gila demi muridnya. Hasilnya? GILA!!!! Lihat saja nanti.

Cuma 10-15 orang yang bakal memanggil saya “Bapak” dengan imutnya. Karena SD Inpress 22 Rura hanya memiliki sekitar 63 murid. Beruntung kalau saya dapat mengajar banyak kelas, sehingga lebih banyak lagi anak-anak yang bakal saya kenal, yang bakal menjadi tempat saya belajar.

Oke sepertinya itu sudah cukup. Saya tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang Majene dari sini. Saya ingin mengetahui Majene dari sana. Langsung dari dalam Majene. Karena kesan itu personal sifatnya, dan saya tidak ingin pikiran saya tentang Majene diracuni oleh kesan, baik ataupun buruk, dari orang lain. Saya ingin membangun impresi tentang Majene dari diri saya sendiri, dari mata saya. Segera saja terbangkan kami ke Majene, kami ingin merasakannya. Secepatnya. Sombong ya? Memang, tapi pesan dari CEO Detik.com semalam, “sombong itu menyenangkan”, hehe.

Majene, semoga menjadi tempat saya berwudhu. Menjadi tempat dimana saya mensucikan diri saya dari apapun yang bakal merusak sholat saya.

Sebuah tempat di tepian Bandung #2 : Sederhana


 

Setelah semalaman beristirahat dalam balutan hangat selimut tebal di sudut ruang tamu rumah panggung, pagi ini aktivitas saya mulai dengan nongkrong di “gazebo”, melakukan aktivitas alamiah saya. Walaupun semi outdoor, namun karena itulah satu-satunya MCK yang bisa saya temui, dengan terpaksa saya menikmatinya. Tentu dengan berbagai cara, bagi yang sudah terbiasa atau pernah mengalami bagaimana harus berkegiatan di gazebo ini pasti bisa mandi dan buang air dengan nyaman tanpa masalah. Tapi bagi yang berasal dari kota besar? Ini menjadi tantangan tersendiri. Alasan malu lah, tidak terbiasa lah, pokoknya ada saja yang diungkapkan untuk meratapi keadaan. Maka muncul beberapa ide untuk menutup sebagian WC dengan sarung, mandi dengan pakaian lengkap, atau yang lebih realistis melakukan aktivitas mandi dll disaat hari masih gelap, disaat hawa dingin masih menusuk-nusuk.

Selesai dengannya, kami melakukan upacara. Nasionalisme itu penting!! Begitu katanya, saya sih hanya ikut-ikutan. Biar tidak dihukum, hehe. Selesai, lalu kami digiring menuju lokasi yang lebih tinggi dan lebih “liar”. Ya, di lokasi yang baru mungkin hanya kami yang bisa disebut sebagai “peradaban”. Tidak ada rumah. Yang ada hanya pohon, sungai, suara serangga, mungkin babi hutan.

Di tengah rimbun pohon pinus, kami belajar tentang kesederhanaan. kami belajar akrab dengan alam. Makan dengan bahan yang tersedia alami di alam. Belajar menaklukkan ular –dengan merinding dan takut-takut-. Belajar tentang bagaimana harus bertahan dalam kondisi minimal dan yang paling penting saya harus merefleksi arti hidup yang sebenarnya. Berada dalam kepungan rasa sepi, jenuh, marah, dan lelah yang bercampur di tengah segala yang serba terbatas membuat saya malu atas kutukan-kutukan yang selalu saya keluarkan dengan mudah di tengah kemudahan-kemudahan yang selama ini saya rasakan.

Dalam dingin kabut yang menggelayut di setiap malam hingga pagi menjelang, saya dipaksa untuk mengucap syukur yang selama ini terlalu berat untuk keluar, meski hanya lewat ucapan. Bentangan alam yang tersaji tepat di depan mata menjadi cermin besar untuk kembali meresapi ciptaan dan kekuasaan Allah SWT yang hampir terlupa, tergantikan oleh layar-layar kesibukan dunia.

Ternyata kami hanyalah sebuah titik kecil tiada arti dalam panggung hidup ciptaan-Nya. 52 manusia kota yang sombong berhasil dipukul dengan telak hanya oleh sulitnya buang air tanpa air, oleh sulitnya mencari tempat sholat yang “layak” menurut standar yang kebiasaan kami, oleh sulitnya mencari makanan “enak”, oleh sulitnya mendapatkan tempat tidur yang nyaman, oleh kesulitan-kesulitan sederhana yang hanya kami anggap “urusan pembantu” bila kami ada di kota. Kami dipaksa utnuk ikhlas. Tidak banyak menuntut dari alam, dari yang Allah sudah sediakan.

Penyesalan. Itulah yang saya rasakan. Ternyata sudah banyak waktu yang telah saya habiskan tanpa makna, tanpa adanya “karya besar” yang tidak hanya memuliakan diri namun juga mampu memuliakan orang lain. Saya terhanyut oleh rayuan dunia yang menggiring saya untuk jadi manusia rakus yang mencari semua kesempatan, mendapatkan semua hal, dan menerima semua pujian. Seandainya waktu dapat saya putar, saya ingin mengulangnya kembali.Ingin saya berikan lebih banyak kebahagiaan yang saya terima untuk orang lain. Ternyata Allah sudah memberikan jauh, jauh, dan jauh lebih banyak dari yang saya butuhkan.

Sok suci. Sok alim. Sok humanis. Mungkin “pujian” seperti itu yang akan saya dapatkan selanjutnya. Namun bukankah itu lebih “membumikan” dibanding pujian-pujian palsu berbalut kepentingan?buat saya pribadi kritik pedas dan cemoohan merupakan pemberi energi terbesar yang memaksa tubuh untuk segera bergerak. Walaupun saya juga tidak bisa memastikan bahwa jalan yang saya ambil bakal tetap lurus, namun saya akan selalu berusaha dan berharap Allah menjaga saya. Karena hanya di tangan-Nya hati ini bisa saya titipkan dengan aman.

(besambung)

Sebuah tempat di tepian Bandung #1

Yang ekspresinya paling aneh, itu saya

Ternyata sudah lama saya melupakan blog ini sejak terakhir memutuskan untuk membagi cerita kehidupan –terutama cerita jalan-jalan-. Memang sejak tulisan terakhir saya disibukkan dengan kegalaluan hati untuk melanjutkan kehidupan yang akhirnya mengarahkan saya untuk menjalani pilihan menjadi Pengajar Muda dari Program Indonesia Mengajar. Awalnya memang ada motivasi pribadi yang menguntit, tapi seiring berjalannya waktu dan hasil berbagi dengan banyak orang hebat, semoga saya masih mau untuk berusaha me-lempeng-kan niat.

Pelatihan itu dimulai tanggal 10 september 2012. Kami ber-52 datang dari penjuru nusantara ke Kantor IM di daerah Blok M. Dua hari kami diinapkan di Wisma Handayani milik Depkes RI di Fatmawati untuk kemudian melanjutkan training outdoor bersama Wanadri di sebuah bukit di Sumedang –Gunung Kareumbi kalau tidak salah, markas dari Wanadri-. Sehari kami menginap di dusun Cigumentong yang sangat sederhana.

Hanya ada 17 rumah disana yang telah dihuni secara turun-temurun, bahkan beberapa sudah kosong. Kalau digambarkan seperti ini kira-kira: rumah paling depan adalah rumah ketua RT, kemudian terdapat sebuah balai di sampingnya yang cukup untuk menampung 50-an orang. Kemudaian ada lapangan yang lumayan besar yang dikelilingi sekitar 6 rumah warga dan satu masjid. Saya menduga daerah itu adalah pusat kampung karena daerah itulah yang paling datar, disamping adanya lapangan dan masjid tentunya. Sementara rumah-rumah yang lain berderet naik memenuhi lereng perbukitan, tidak terlalu tersebar, namun tidak pula terlalu padat. Nampak beberapa kolam ikan, karena air cukup lancar mengalir ke desa ini. Juga ada beberapa kandang kambing serta tanaman sayur mayur di samping rumah. Hiaju, sejuk, dan dingin, itu yang menggambarkan Cigumentong.

Beberapa rumah terlihat kosong. Katanya sih sudah dibeli oleh orang-orang dari kota. Hanya beberapa rumah yang memiliki lampu walau hanya seterang lampu senter LED, lampu neon hanya ada di Mushalla kampung. Sebetulnya ada generator mikrohidro dan beberapa rumah memiliki pembangkit tenaga surya bantuan pemerintah, namun sedang tidak berfungsi. Pembangkit mikrohidro hanya berfungsi jika debit air cukup besar untuk memutar turbin, sedangkan beberapa pembangkit surya menurut informasi warga sudah mulai rusak. Jadi menurut cerita malam ini kami harus bergelap-gelap ria bila tak membawa senter. Sinyal? Jangan harap ada, tapi komunikasi terasa lebih intim di sini. Tanpa handphone. Itu point pentingnya.

Kami tinggal di rumah yang menghadap langsung lapangan kampung. Rumah panggung yang memang mendominasi struktur bangunan di Desa Cigumentong menjadi tempat beristirahat kami semalam kedepan. Dua buah kolam ikan besar di belakang rumah berhias beberapa “gazebo” yang akan menjadi kamar MCK kami. Berlatar perbukitan hijau yang menawarkan hawa sejuk –dingin tepatnya-, kami mencoba mengakrabkan dengan warga Cigumentong yang kebanyakan bertani dan berkebun. Memang jelas terlihat di kejauhan sana kebun sayur yang membentang luas di tengah kepungan bukit-bukit yang agak kering karena kemarau.

Sejenak beristirahat, ternyata Ibu sudah menyiapkan sejenis kerupuk yang masih mengepul hangat. Sangat cocok dinikmati sambil menunggu memerahnya langit yang ditinggal matahari. Langsung saja kami hajar kerupuk itu –saya tak tahu namanya karena Ibu menjelaskannya dalam bahasa Sunda-, dan dalam waktu sekejap kosonglah toples besar menyisakan bekas minyak. Biarlah kami dikata rakus, tapi ini beralasan karena sejak awal perjalanan dari Jakarta pagi tadi kemudian turun di Bandung yang dilanjut dengan sejam ber-angkot plus jalan kaki juga selama satu jam lebih tak ada logistik yang masuk ke perut. Dan rupanya memang kerupuk itu hanya pembuka. Tak lama berselang Ibu membawakan kami sebakul nasi yang begitu wangi berhiaskan kepulan asap yang membangkitkan selera. Setelah itu muncul secara berururtan sayur lodeh, ikan asin, sambal, dan lalapan. Sunda banget, pikiran saya berkata. “Dari kebon sendiri dhek”, kata Ibu.

Tak perlu berbasa basi lagi, piring berdentang, gelas bertubrukan, sendok bergemerincing. Kami makan. Habis. Kenyang.

Sambil mengistirahatkan perut yang penuh, dari balik pintu tengah, ekor mata saya menangkap sosok seorang anak kecil yang daritadi memperhatikan kami. Anak Bapak asuh kami yang baru menginjak kelas empat SD. Dengan malu-malu dia memperkenalkan diri, sedikit tersenyum. Berbasa basi sebentar sebelum akhirnya saya memintanya mengantar ke pembangkit mikro hidro yang tidak berputar gara-gara kurang air. Menembus gang sempit diantara rumah warga, menuruni bukit kecil yang berhiaskan tanaman kol untuk kemudian naik menuju sebuah gubuk permanen yang melindungi generator. Sebentar mengamati kemudian pulang karena adzan maghrib sedah terdengar dari kejauhan.

Gelap mulai datang, deru genset dari masjid juga terdengar sangat jelas. Malam menggelayut, kami berjamaah di masjid. Selesai sholat, beberapa anak mulai datang membawa iqra dan juz amma. Karena Pak Kyai belum datang, saya dan beberapa teman mencoba memfasilitasi mereka mengaji. Bintang-bintang terlihat sangat indah di luar sana. Langit yang bersih, tenang, dan tanpa gangguan cahaya lampu membuat saya terhenyak. Seumur hidup, itulah pertama kalinya saya melihat bintang begitu banyak.

Di tengah kepungan bukit, di dalam kegelapan, di temani nyanyian alam berhiaskan taburan bintang yang tak pernah lelah berkelip, dalam dengung anak-anak yang mengaji, saya menikmati tenangnya Cigumentong. Sunyi dan diam namun menentramkan. Tak ada foto, karena saat itu kamera dan seluruh gadget tidak boleh digunakan. Namun tanpa gadget bukan berarti tak bisa bercerita kan?.

(bersambung)

Jumat, 08 Juni 2012

Janti, Klaten : air, ikan, air lagi, ikan lagi...

Entah sejak kapan saya menyukai terpaan angin fajar menelusup menyapu wajah dan masuk diantara sela-sela rambut. Mungkin sejak kelas 3 SD, saat untuk pertama kalinya selama hidup, Bapak membelikan saya sepeda BMX bekas yang kemudian merubah hidup saya menjadi seorang petualang. Ya minimal berpetualang muter kelurahan yang dulu seakan tak terjangkau saat modalnya hanya dengkul dan ayunan kaki.

Dan, kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Menikmati bau embun, merelakan dingin kabut meraba tubuh, bergesekan dengan rumput basah, menjadi hal yang sangat saya tunggu di setiap paginya.

Pun dengan pagi ini. Berbekal sepeda yang biasa menemani sehari-hari, berdua dengan Siswo kami memutuskan untuk mencari basahnya rumput, bau sawah, dan dingin mata air ke daerah Janti, Kabupaten Klaten yang juga merupakan sentra penangkaran ikan.

Tepat sehabis sholat subuh kami berangkat. Masih dalam gelap sisa-sisa malam, kami genjot sepeda dengan gear paling besar. Mumpung jalan masih sepi. 10 menit, 20 menit, 30 menit berlalu, pertokoan, rumah, hotel, dan baliho-baliho besar yang semula berderet rapat menghimpit kami perlahan menghilang berganti dengan sawah yang nampak masih enggan melepaskan kabut dari pelukannya. Alhasil, mata kami hanya mampu menangkap keremangan hijau sawah.

Beberapa kali berhenti untuk sekedar minum dan mengambil foto, beberapa kali dilewati rombongan pesepeda lain, dan beberapa kali menelan asap hitam bus Solo-Jogja yang seolah bermesin jet. Saya lupa tepatnya dimana, yang jelas sebelum pasar Delanggu, tepat setelah Jembatan, kami berbelok ke utara, mungkin ke arah Cokro. Pokoknya jalan menyempit dan sepi, yang ada hanya rombongan pesepeda, dan pesepeda. Motor dan mobil hanya terlihat sesekali. Walaupun jalan mulai terasa menanjak, tapi semua teralihkan oleh hamparan sawah yang beberapa terlihat mulai menguning, juga sambutan dari Gunung Merapi yang nampak Gagah menghadang kami didepan.

Persawahan menjelang pintu masuk Janti

Persawahan yang sudah panen & siap tanam lagi
Sekitar setengah jam kami menyusuri sawah sebelum akhirnya mulai muncul bangunan-bangunan yang hampir semua memajang kolam entah di depan, di samping, di belakang, dan papan bertuliskan "pemancingan" mudah sekali ditemukan.

Karena belum terlalu lapar, dan lagi pula belum ada warung yang buka, kami putuskan untuk terus naik menuju Umbul Nila. Sebuah mata air (umbul = mata air) yang terletak di sebelah utara Janti. Mata air yang cukup besar sehingga PDAM Kabupaten Klaten membangun sebuah penampungan yang besar di sebelahnya. Cukup besar, sehingga jangan heran kaklau di sekitar kolam nampak beberapa ibu sedang mencuci baju, bahkan ada beberapa anak yang tanpa rasa takut menceburkan diri dan berenang mengitari kolam.

Sejenak menikmati kopi di pinggiran umbul, mengambil beberapa foto, kamudian kami putuskan untuk turun dan mencari tempat sarapan. Karena ada di Janti, tentu saja yang kami cari adalah ikan. Berputar-putar sejenak, akhirnya kami masuk ke sebuah pemancingan yang ramai terparkir sepeda. Sebuah tempat pemancingan yang ternyata juga memiliki kolam renang didalamnya. Dan dari obrolan dengan beberapa orang, memang selain penangkaran ikan, pemancingan, dan resto, ada beberapa pemilik usaha yang juga membangun kolam renang, sehingga tidak salah kalau Janti mengusung tagline "wisata air".

Satu paket lengkap menu ikan kami pesan. NAsi sebakul, plus ikan satu piring, lalapan, sambel, kerupuk, sengan cepat tersaji dihadapan kami. Rasa capek dan lapar membuat kami kalap, dan dengan sekejap semuanya habis menyisakan tulang dan ceceran sambel.

Saya nggak bakat cerita panjang-panjang, dinikmati foto-fotonya saja deh :D




Sisik ikan yang mau diekspor

Kolam Ikan
Kolam Ikan
Dihadapan hamparan kolam ikan
Paket Lengkap

Siswo

Saya

Akhirnya dengan perut kenyang dan senyum lebar, kami kembali ke Solo.

Rabu, 06 Juni 2012

Lawu, 3265 MDPL

Tim Nekat Asrika

Jumat siang (1/6), setelah sehari persiapan fisik, berburu pinjaman alat dan perlengkapan, belanja logistik, kami bertujuh (Saya, Siswo, Irfan, Arifin, Widhi, Sugeng, Agnang) dengan semangat 45 berangkat menuju Cemoro Sewu. Titik awal pendakian gunung Lawu. Titik ini kami capai dari Solo dengna menumpang bus jurusan Solo-Tawangmangu (5ribu rupiah) disambung dengan ngompreng dari Terminal Tawangmangu ke Cemoro Sewu yang juga 5 ribu rupiah.

20:15
Setelah lapor dan istirahat sebentar, kami melakukan checking akhir dan tepat 20:30 kami mulai pendakian. Sinar purnama yang tak terhalang kabut mengekspos jalan berbatu yang akan kami susuri. Jalan selebar sekitar 1-2 meter yang menemani kami hingga pos 1. Dari base camp ke pos 1 kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan kecepatan standar pemula. Dari pos 1 ke pos 2 jalan masih nampak berbatu namun mulai menyempit dan kemiringannya makin lama makin curam. Pun begitu dari pos 2 menuju pos 3, kondisinya tidak begitu berbeda. Sempat kami temui pula beberapa group yang juga mendaki malam itu. Beberapa diantaranya kami temui membuka tenda di Pos 3, lokasi yang sebenarnya kurang nyaman karena angin yang bertiup sangat kencang dan dingin.

23:48
Kami sempat melanjutkan perjalanan dari pos 3 ke pos 4, namun karena ada beberapa insiden kecil kami putuskan untuk membuka tenda di pos 3 dan meneruskan perjalanan esok hari.
____________________
Sunrise dari Pos 3 Cemoro Sewu
Sempat kecewa karena gagal menemui sunrise di Puncak, namun karena sudah lebih setengah jalan kami tempuh, mau tak mau perjalanan harus dilanjutkan sampai puncak, Hargo Dumilah. Puncak yang sudah saya idamkan sejak semester tiga dulu. Dari awal, Agnang sudah mengingatkan kalau pendakian dari pos 3 ke pos 4 akan sangat melelahkan, karena trek yang terjal menanjak. Dan benar saja, dari pos 3 kami butuh waktu 2 jam untuk sampai ke pos 4. Tentu saja waktu untuk berfoto ria berkontribusi menambah waktu tempuh kami ke pos 4 karena saat itu pemandangan yang iperlihatkan kepada kami sungguh luar biasa. Pemandangan ke arah barat, ke arah kota Solo dan Wonogiri. Bukit-bukit berjajar, dan yang jelas sekali terlihat adalah waduk Gajah Mungkur di kejauhan sana. Kabut yang sesekali turun makin me-luar biasa-kan suasana. Diapit tebing-tebing yang memantulkan cahaya matahari pagi, kelelahan, rasa lapar, dan kebosanan menapaki jalan menanjak seakan hilang, tergantikan oleh perasaan kagum dan takjub atas kebesaran ciptaan Yang Maha Maha.

07:58
Sampai di Pos 4 matahari mulai meninggi, karena trek dari pos 4 ke 5 yang relatif datar -yang oleh Agnang disebut "trek bonus"- langkah kami percepat, karena nasi, mie instan, telor rebus, dan kopi hangat sudah terlalu lama hanya menjadi hiasan tas. Hasilnya, tidak sampai satu jam kami sudah merapat ke sendang Drajat, tempat dimana akhirnya kami melakukan "pesta" dan menghabiskan "hiasan" tas kami.

09:13
Seolah mendapat energi baru, perjalanan menuju Hargo Dumilah kami jalani dengan semangat mie istan dan telor rebus. Tanjakan terjal menjelang puncak-pun dengan mudah dilibas layaknya jalan datar.

10:33
HARGO DUMILAH, puncak Lawu 3265 MDPL berhasil kami taklukkan.

Sejauh ini, inilah tempat tertinggi yang pernah saya pijak. Tempat dimana awan berada jauh dibawah sana. Tempat dimana angin gunung bertiup begitu kencang. Dimana kabut bisa saya rasakan begitu rendah. Dimana mata saya bisa memandang kebesaran Tuhan yang terhampar begitu luas.



Jauh dibawah sana

Sisi Timur Puncak Lawu

Tebing Timur

Tebing TImur



Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri)

Barisan pegunungan

Irvan Nampang
Yang terjadi selanjutnya adalah berfoto, foto, foto, dan foto.

Hargo Dumilah




_______________
11:45
Puas menikmati keindahan puncak dan menikmati sedikit pelemasan otot kaki, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Cemoro Kandang setelah sholat Dzuhur nanti. Jalur yang katanya lebih jauh dibanding jalur Cemoro Sewu, namun lebih landai. Jalur dengan 4 pos yang masing-masing pos-nya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1-2 jam.




Trek Cemoro Kandang
Jalak Lawu
18:41
Setelah hampir 6 jam menjelajahi trek turun Cemoro Kandang, kami sampai di Basecamp Cemoro Kandang. Akhirnya kesampaian juga mendaki puncak Lawu.

___________________________
Tips :
1. Persiapan Fisik, Logistik, dan Peralatan (Jelas)
2. Usahakan ke dan dari cemoro sewu tidak terlalu sore, sehingga tarif angkutan umum masih normal. Jika kemalaman dkienakan tarif sewa.
3. Minta nomer handphone sopir angkutan buat jaga-jaga kalau turun kemalaman.

Selasa, 17 April 2012

Sumatra Utara Day 1 : Citizen Rally Sensation dan Ombak Toba

"Besok kamu yang mewakili orang-orang kantor ke Medan ya"
Begitu kata Pak Bowo, bagian umum di kantor saya. Yup, beruntung sekali karena banyak yang sibuk, entah acara keluarga, entah sibuk lembur kerjaan, jatah kondangan ke Medan tidak ada yang mengambil. Dan akhirnya kami berempat-lah yang ditugaskan kesana. Lumayan laah sekali-sekali jalan-jalan keluar kota.
 ______

21:40 setelah kurang lebih dua jam terbang dalam kegelapan, perlahan kerlap-kerlip lampu mulai nampak di bawah sana. Kota Medan menyambut kami dengan meriah. Namun, yang saya rasakan justru degupan jantung yang semakin cepat. Inilah utnuk pertama kalinya saya mendarat di Polonia, bandara yang terletak di pusat kota Medan. Saya takut jika pesawat meleset saat mendarat. Tapi alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menceritakan pengelaman saya kali ini.

Sebuah SUV sudah menunggu kami, tanpa jeda kami harus segera berangkat ke Parapat malam ini. Kira-kira masih 4 jam jauhnya dari Medan. Dan pak sopir memperkenalkan dirinya hanya sebagai orang Flores tanpa menyebut nama.

"Pelan-pelan aja Pak bawa-nya, biar bisa sambil istirahat di mobil"
Begitu kata Bang Tagor yang menjemput kami di Bandara.

SUV melaju, perasaan saya sih ke arah barat. Beberapa menit berjalan, Pak Flores mulai berlagak jadi guide. Yup, bercerita tentang pendeknya jarak antar perempatan di Medan, Medan yang sudah mulai macet, orang-orang Medan yang keras kepala -terbukti banyak yang saya lihat nggak pake helm :D-, apapun dia ceritakan sampai tak terasa papan nama yang tertera di sepanjang jalan bukan lagi bertuliskan "Medan" berganti menjadi "Deliserdang". Kepadatan kota mulai berkurang, dan kecepatan mobil semakin bertambah.
 ____________

Gelap makin merapat, lampu-lampu perlahan mulai berganti dengan deretan pohon sawit dan suara serangga. Jalan yang semula muat untuk 4 mobil, kini menyempit hanya untuk 2 mobil, namun Pak Flores tetap memacu mobil dengan kecepatan yang tidak diturunkan semenjak tadi.

Dan inilah awal mula petualangan itu.......

Di tengah gelap malam dan jalan sempit yang berliku, Pak Flores dengan sangat percaya diri mengemudikan SUV kami. Feeling saya mengatakan kalau dia benar-benar sudah hafal jalan ini. Tanpa adanya lampu penerang jalan -hanya lampu mobil- dikombinasi dengan jalan yang sempit berkelok, dengan resiko berpapasan dengan mobil di depan, Pak Flores terus memacu SUV sampai batas maksimal. Tanpa menginjak rem. Ya, kami berempat diajak berkendara dengan sensasi reli kelas dunia.

Goyang kanan, goyang kiri, lajur kanan, lajur kiri, terkadang overtaking, sering pula off dari aspal. Benar-benar mantap!!! tak ada rasa takut dari wajahnya, hanya kepercayaan diri. Akhirnya saya paham mengapa pengemudi-pengemudi Medan menguasai jalanan Jakarta -terutama metromini-, malam ini saya ditunjukkan buktinya. Tiba-tiba saya terngiang kata-kata Bang Tagor di bandara tadi "Bawa mobilnya pelan-pelan yah".

Yang begini dikata pelan?hahahaha

Setelah hampir 4 jam menyusuri (mungkin) hutan -tak terlihat karena gelap, namun samar terlihat hutan pohon-pohon dan tebing-, pukul 2:00 am kami tiba di Parapat. Tanpaa Ba bi bu lagi kami langsung menuju resort yang sudah disiapkan dan langsung tidur pulas.
______________________
 5:00 am
 
Toba View dari Resort

Saya terbangun, walaupun badan masih shock gara-gara reli semalam, namun saya paksakan untuk melangkah keluar. Kapan lagi liat sunrise di Toba? sehabis sholat subuh, saya dan seorang teman mendekati tepi danau toba, bercengkerama dengan tamu-tamu resort yang lain sambil menantikan sunrise.

Samosir-Parapat-Pematang siantar-Tebingtinggi-Deliserda
ng-Medan

Toba sunrise

Setelah puas menikmati tepian toba, merasakan dinginnya air, menghirup udara segar Toba, sedikit berkeliling ke perkampungan, kami kembali ke Resort untuk sarapan. Ternyata Pak Jaka sudah menunggu di Lounge, dan beliau sudah menyiapkan kapal untuk menyeberang ke SAmosir untuk rombongan dari Medan dan dari Jakarta. Oke, mendengar kabar tersebut, sarapan jadi tambah semangat. Ditemani segelas kopi Sumut yang harum, terbayang sudah Pulau Samosir yang sedari kecil hanya pernah saya kunjungi lewat permainan Monopoli.

Toba dari kapal

Pagi itu angin bertiup lumayan kencang, perjalanan mengarungi Toba terasa lebih menantang. Berkali-kali ombak menerjang perahu dan cukup membuat kami terguncang keras. Saya sengaja memilih duduk di dek depan kapal agar menikmati hembusan angin dan cipratan air TOba.

 Tugu Batak

Hampir sejam kami bergoyang-goyang dihempas ombak Toba. Rute penyeberangan dibuat agak memutar agar kami dapat menikmati pegunungan serta tebing-tebing indah yang mengelilingi Toba. Seperti apa keindahannya?wah, keindahan yang tak akan terwakili oleh kata-kata dan jepretan kamera. Datang sendiri ke sini, ke Parapat.

Perlahan, kapal mulai memasuki Pelabuhan wisata Tomok. Pelabuhan wisata tomok terletak agak jauh dari pelabuhan komersial dan langsung terhubung ke pasar, mungkin namanya Pasar Samosir, karena tak ada papan nama terpampang disitu.

Menjejakkan kaki di Samosir, saya disambut oleh tugu Batak, dan karena Tugu inilah saya baru mengetahui kalau ternyata suku Batak juga masih terbagi menjadi beberapa sub-Suku. Ada sekitar 8 atau 12 sub-Suku Batak, tapi karena lupa tak mencatatnya, saya tidak bisa menyebutkannya disini. Dismaping tugu Batak, terdapat tourism Map pulau Samosir, dan ternyata pelabuhan Wisata ini berada sangat dekat dengan kawasan wisata Samosir. Tak perlu jauh-jauh, cukup dengan berjalan kaki, kami dapat menjangkau Pasar Samosir yang penuh dengan cinderamata khas Sumut, kain Ulos dari yang murah sampai yang kualitas yahud, makam Raja Sidabutar, Patung Sigale-gale, Musium Batak, Batukursi, dan beberapa objek lain.

Tapi, mungkin lebih seru kalau petualangan itu diceritakan di lain waktu, karena saya yakin bakal panjang ceritanya.


________________________
Tips :
1. Pakai sabuk pengaman apabila perjalanan dari Medan ke Parapat anda menggunakan mobil sewa, bersiaplah merasakan sensasi Reli Dakkar.
2. Bila tidak memakai kapal sewa, penyeberangan ke Samosir dapat menggunakan feri umum di pelabuhan Parapat, saya dengar ongkosnya cuma 3 ribu rupiah.
3. Dek terdepan adalah tempat paling pas untuk menikmati Toba, rasakanlah hembusan angin dan segarkan mata anda dari dek terdepan

_____________________
Beberapa foto diambil dari melancong.com karena dokumentasi pribadi hilang terkena virus

Rabu, 11 April 2012

2 day trip : Manado-Bunaken

GA 600 tujuan Manado membawa saya terbang pagi itu, pukul 8:30 tepat pesawat take off dan meninggalkan Soekarno-Hatta. Cuaca cerah, pemandangan dliluar terlihat sangat jelas. Disamping saya duduk seorang Bapak tua yang belakangan memperkenalkan dirinya sebagai dokter anak. Beliau ke Manado dalam rangka Kongres Nasional Anak (KONIKA).
Bosan dengan pemandangan diluar kabin dan takut karena turbulensi yang terus terjadi, Bapak saya ajak ngobrol. Beliau bercerita tentang perjalanan karirnya sebagai dokter anak, petualangannya keliling Eropa, keliling Australia -anaknya, yang juga dokter, tinggal di Australia-, keliling Indonesia, dan perjalanan hidup yang membawanya menjadi seperti sekarang. Akhirnya, selama dua jam Jakarta-Makassar, saya memperoleh lagi ilmu kehidupan dari seorang dokter anak yang telah mengabdikan dirinya untuk senyum anak-anak.
Pukul 11:25, pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makasar untuk transit menunggu tambahan penumpang dari Surabaya. Pesawat kembali terbang menuju Manado sekitar pukul 13:00. Maka, sambil menunggu pesawat kembali terbang, saya putuskan untuk berkaliling Bandara. Bandara yang lumayan megah, dan bersih. Lebih bersih dan tertata dibanding Bandara Soetta.
 
Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar
 Pukul 14:20 saya tiba di Bandara Sam Ratulangi, kira-kira sepuluh menit sebelum landing di Manado, saya terpana melihat pemandangan dari atas sini. Bahari 100%. Saya disuguhi pemandangan jernih dan birunya laut Manado, juga nampak beberapa pulau yang nampak seperti hijaunya permata di tengah kilauan biru air laut. Sayang, tidak sempat saya abadikan. Tak apa, pemandangan itu seolah menantang saya untuk menyelami laut Manado esok hari.
Oke, karena lagi-lagi tugas kantorlah yang membawa saya sampai ke Manado. Maka itulah yang harus segera saya selesaikan, dan saya harus berusaha menyelesaikannya hari ini, agar besok saya bisa menjelajah laut Manado. Tujuan utama adalah Desa Tampusu, di Tomohon.
Beruntung sekali karena lokasi survei berada jauh dari Manado, jadi perjalanan ini juga sekaligus menjadi penjelajahan darat Sulawesi Utara. Bandara-Pinggiran Manado-
Menjelang senja, Desa Tampusu yang kami cari akhirnya ditemukan. TErnyata desa yang terletak di kaki Gunung Lokon. Desa yang lumayan tinggi posisinya, karena dari sini, Danau Tondano terlihat sangat jelas dibawah sana.

 
 Danau Tondano
Karena hari sudah semakin gelap, survei segera saya lakukan, foto-foto dan sampel segera diambil. Dan tepat saat matahari terbenam, kewajiban dari kantor tuntas saya laksananan. Artinya?
Besok adalah penjelajahan laut Manado!!!!
Sunset Tampusu

Langit Sore Tampusu

Rute kembali dipilih rute shortcut, hanya dalam waktu satu jam kami sudah sampai di Manado dan langsung mencari tempat makan. Untuk tempat yang dikelilingi laut, manu yang paling tepat adalah menu seafood. Saya memilih untuk makan di tepian laut di kawasan  Megamall.
Malam itu, menu yang saya pilih adalah ikan kuah woku belanga. Ikan masak dengan kuah yang kaya sekali akan rasa rempah. Wangi aroma bawang, lada, dan serai yang sangat kuat, mungkin dosis keduanya sangat tinggi dalam kauh tersebut. Plus cabai -entah cabai apa- membuat kombinasi rasa pedas-hangat yang luar biasa mantap. Bohong kalau keringat tidak keluar deras saat menikmati makan ini.
Ternyata inilah rempah yang masuk ke woku belanga: Untuk membuat woku belanga, bumbu-bumbu yang telah dihaluskan seperti bawang merah, cabai, kunyit, kemiri, jahe ditumis bersama serai dan aneka daun wajib seperti daun pandan, daun bawang, daun jeruk purut, daun kunyit dan kemangi. Sumber:justtryandtaste.blogspot.com
Ya, kekayaan inilah yang dulu menarik penjajah datang ke Nusantara -terutama Maluku yang dekat dengan Sulawesi-. Rempah-rempah, dan hari ini saya baru mengerti alasan mereka jauh-jauh datang untuk mencari rempah-rempah.
 Penampakan Woku Belanga
Karena lelah, ajakan Kak Singgih -guide di Manado- untuk berkeliling kota saya tolak. Langsung mobil dipacu menuju hotel dan tanpa ragu saya langsung tidur demi menyiapkan badan yang segar untuk esok hari. Jam 10 pagi jemputan akan datang untuk mengantarkan ke Bunaken.
Saya menginap di lantai 8 sebuah hotel di pusat kota. Dan di pagi hari, saya baru sadar kalau pemandangan dari jendela hotel adalah pemandangan langsung ke laut. Mantap sekali. Sarapan saya selesaikan dengan cepat, nasi kuning dan bubur Manado jadi pilihan saya pagi ini. Nasi kuning yang tak jauh beda dengan yang sering saya temui, namun bubur Manado? baru kai ini sya merasakan bubur yang  dicampur sayur, daging, dan rempah sekaligus, bukan sebagai toping. Enak, dan kembali rasa dan aroma rempah mendominasi masakan.
Buru-buru saya balik ke kamar untuk sekedar mengabadikan kota Manado dari atas sini. Sungguh indah, dan bersih. Bau laut tercium dari sini.

View dari kamar hotel

Pukul 9:00 ternyata jemputan sudah datang. Menebus kegagalan acara semalam katanya, maka jadilah pagi ini sebelum ke Bunaken kami berkeliling Manado dari ujung sampai ujung. Namun saya kurang menikmatinya, karena yang ada di pikiran saya cuma laut, laut, dan laut.

Bibir pantai Manado

Jam 10:30 akhirnya mobil diarahkan menuju dermaga. Di daerah dermaga ternyata sedang dibangun sebuah jembatan cable stayed mirip Suramadu namun dengan tiang single. Ah, bukan jembatan yang jadi fokus pandangan saya. Namun laut lepas yang terhampar di depan saya, sudah tidak sabar rasanya ingin segera menceburkan diri.
 Jembatan yang on prograss

Bang Asoi, begitu dia memperkenalkan dirinya. Seorang Bapak yang berumur kurang lebih menjelang 40, namun masih terlihat gemuk sehat, dengan kulit hitam khas nelayan yang tiap hari terbakar matahari. Melayani wisatawan dijalaninya sebagai sampingan di akhir minggu diantara kesehariannya sebagai nelayan. Dibantu seorang asisten yang masih sangat muda, Bang Asoi dengan lincah memacu perahu motor lurus menuju Bunaken yang terlihat jelas dari dermaga. Mungkin jaraknya tidak begitu jauh.

400 ribu rupiah, harga yang harus kami tebus untuk menyeberang ke Bunaken.
Asisten Bang Asoi

Perahu melaju cepat, mungkin sekitar 45 meit kami sudah sampai di tepian bunaken. Pemandangan inilah yang kemarin saya lihat dari atas pesawat. Laut yang jernih, biru, bersih, mengelilingi Bunaken. Terumbu karang juga terlihat sangat jelas. Hijau dari atas kapal dan beberapa kali terlihat kibasan ekor ikan.

Oke, begini gambarannya. Bunaken adalah sebuah pulau karang yang terletak di sebuah laut dalam. Yang unik, bunaken dan laut dalam hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, jadi terdapat seperti jurang yang langsung memisahkan Bunaken-Laut dalam. Dari kedalaman hanya sekitar 1 meter, tiba-tiba laut langsung berwarna biru pekat dan jelas itu pertanda laut sangat dalam. Seperti ini kalau terlihat dari angkasa.


Menyewa peralatan snorkel seharga 150 ribu, tanpa pikir panjang lagi saya segera menceburkan diri ke laut Bunaken. Segar!!bau laut yang bikin ketagihan. Namun ternyata untuk menikmati keindahan laut Bunaken saya perlu latiah, snorkel tidak semudah yang saya kira. Beberapa kali air laut terpaksa tertelan karena saya agak sulit membiasakan diri dengan pernafasan mulut. Hahaha..

Dan, sepanjang sisa hari itu saya habiskan menikmati indahnya terumbu karang, keanekaragaman ikan, bintang laut, gigitan ikan yang berebut biskut, tertawa bersama teman-teman, semuanya tidak ada yang terlewatkan. Berenang di tepian jurang, melihat ikan-ikan yang lebih besar berenang menuju kedalaman laut. Sebuah pemandangan yang sungguh sungguh sungguh menakjubkan. Subhanallah.....

Namun kata Bang Asoi, timing saya salah. Seharusnya semalam saya menginap saja di Bunaken biar bisa menyelam, atau snorkel di pagi hari. Kata Bang Asoi, di pagi hari sering terlihat lumba-lumba. Kecewa sih, namun yang saya alami hari ini sudah sangat menakjubkan.

Foto-foto terumbu karang, ikan dan pemandangan bawah laut? saya rasa tidak perlu saya tampilkan disini karena semua keindahan itu lebih pantas dinikmati di sini langsung, di Bunaken!!!

Bareng Bang Asoi

Menjelang maghrib, kami kembali ke dermaga di Manado. Garuda menerbangkan saya kembali ke Jakarta bersama memori yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Kapal Roro ke Sangir

Nb: sebenarnya masih banyak cerita yang menarik dalam dua hari jalan-jalan ke Bunaken, tapi lain kali aja deh diceritain, hehe
_________________________

Tips jalan ke Manado:
1. Selalu pesan makanan khas, rasanya mantap semua. Nasi kuning, Bubur Manado, Woku, wajib dicoba.
2. Buat muslim, agak sulit cari tempat sholat, hanya dibeberapa tempat terdapat masjid. Jadi siapkan peralatan sholat yang gampang dibawa-bawa.
3. Berangkatlah ke Bunaken pagi hari kalau ingin menikmati laut dengan puas, kalau bisa menginaplah di Bunaken biar berpeluang liat lumba-lumba. Homestay satu malam katanya sekitar 400 ribu.