Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Aku Superhero?


Disalami Wakil Presiden, dicitrakan sebagai sarjana-sarjana terbaik bangsa, dibangga-banggakan sebagai calon pemimpin masa depan, memiliki akses yang sangat luas untuk masuk ke Ring 1, dekat dengan Bupati, Wakil, hingga Kepala Dinas. Sudah pasti hal itu menjadikan Pengajar Muda (PM) menempati posisi seorang “tokoh” di dusun. Ditambah dengan polesan cerita di sana sini, sudah pasti masyarakat menjadi semakin “wow” memandang seorang PM.

Duduk pasti di podium utama sebelah Pak Desa atau Pak Haji, kemanapun pergi selalu diperhatikan, bahkan ketika sakit atau jatuh dari motor dan lecet sedikit saja, beritanya bisa menyebar luas melewati batas-batas administratif kecamatan. Terlihat berlebihan? Tapi memang begitu kenyataannya.

Sebagai seorang “tokoh” dengan embel-embel yang meninggikan hati, seringkali saya terjebak untuk melakukan semua hal sendirian. Bisa melakukan segala hal, mau melakukan apa saja, ringan tangan membantu orang lain, apapun. Betul, menjadi superhero dusun yang akan dikenang sepanjang masa.



“Pak Didin dulu biar malam hari berani lho jalan kaki ke pinggir”

“Pak Didin pernah lho sendirian datang ke sekolah dan mengajar enam kelas sekaligus ketika hari hujan dan tidak ada guru yang datang”

Ya, secara pribadi ego saya selalu menuntun untuk menjadi sosok super. Apalagi saya adalah PM ke tiga yang ditempatkan di Rura, sudah pasti akan selalu dibandingkan dengan dua orang pendahulu saya. Jujur, kuping saya sedikit gerah ketika saya melakukan sesuatu kemudian dibandingkan dengan dua pendahulu saya. Hal itu membuat saya selalu ingin melampaui semua pencapaian yang sudah diperoleh oleh dua PM sebelumnya.

“Kalahkan egomu”. Itu yang selalu diingatkan oleh Tika, koordinator kabupaten ketika rapat. “Bukan hal yang salah ketika ingin melakukan sesuatu di Dusun, bukan pelanggaran pula bila memiliki obsesi untuk melakukan A, B, C, D sampai Z. Namun harus selalu diingat, tujuan besarnya adalah untuk mendorong perubahan masyarakat”.

Kalau diibaratkan dalam sebuah balapan menuju kemajuan, saya bukanlah mobil yang mengantar menuju garis finish, bukan pula pembalap yang mengarahkan dan berpacu secepat mungkin, bukan pula bensin yang membuat mobil melaju. Saya hanya akselerator yang mendorong mobil melaju lebih kencang. Tanpa saya-pun, mobil tetap bisa sampai di garis finish.

Jika semua hal dilakukan sendiri saya memang terlihat menjadi sosok yang hebat. Namun lama kelamaan ketergantungan warga ke saya menjadi semakin tinggi, dan ketika saya pergi segalanya akan kembali seperti semula. Yang tersisa hanya nama yang melegenda, namun tidak ada “sisa” yang betul-betul bisa dimanfaatkan masyarakat untuk secara mandiri berjalan menuju kemajuan.

Tapi biar bagaimanapun saya harus jadi superhero, setidaknya untuk menggebrak dulu di awal. Dan disini ego saya harus memilih, mau jadi Superhero Genetis atau non-Genetis.

Superhero Genetis, mereka yang menjadi super karena takdir. Superman, Thor, MetroMan, Ultraman, Manusia Saiya, Gundala, X-Men. Takdirlah yang menyisipkan gen super di dalam tubuh mereka.
Superman misalnya. Ditakdirkan lahir di Planet Krypton. Bila Krypton tidak hancur dan dia tidak dikirim ke Bumi, tentu saja kehidupannya biasa saja. Kenapa? Karena semua orang di Krypton sama kuatnya seperti Superman. Ini pembeda pertama, he is an outsider.

Bahkan Louis Lane yang notabene adalah orang terdekat tidak mampu mewarisi –walau sekedar- mata super atau kemampuan terbang. Yang terjadi, dari kereta bayi hampir ditabrak mobil hingga bumi akan hancur, Superman yang turun tangan. Ya, ketergantungan.

Ketika superman hilang (mati suri), orang-orang seolah tak punya harapan hidup. Tidak ada yang bisa menggantikan Superman. Kenapa? Karena tidak ada orang lain yang memiliki gen super.

Mereka –Superhero Genetis- eksklusif. Tidak semua orang atau tepatnya tidak ada orang yang bisa menjadi seperti mereka.

Batman? Dia juga superhero, namu dia berbeda. Bruce Wayne anak manusia biasa. Dia takut gelap, takut kelelawar, dan punya trauma dengan kekerasan. Tidak ada “gen” super yang disisipkan Tuhan dalam dirinya. Ke-super-annya tumbuh karena pengalaman hidup.

Berbekal kelebihan finansial –dan intelegensi- yang dimiliki, dia ingin merubah kampung halamannya, Gotham yang “tidak manusiawi” menjadi lebih ramah. Dia kerahkan segala sumber daya yang dimiliki untuk mencapainya. Sendirian? Yang terlihat memang begitu.

Tapi ada Lucius Fox yang menjadi arsitek terciptanya Tumbler, Batpod, dan segala peralatan canggih Batman. Ada Alfred, yang mengurus hal-hal remeh sekaligus menjadi penasehat pribadi Sang Superhero. Ada Gordon, Robin, bahkan “fake Batman” yang seolah menjadi “penampakan” Batman ketika dia hilang. Semua yang memiliki visi  “Memanusiakan Gotham” dirangkul, difasilitasi, dan dididik agar mampu bergerak secara mandiri.

Bahkan Batman mampu melawan ego Superhero-nya ketika muncul “manusia biasa” yang berasal dari Gotham, Harvey Dent, seorang jaksa wilayah yang bersih –dan tanpa topeng-. Untuk merubah poros keadilan dari dirinya ke Dent, Batman rela menjadi buron, di-kambinghitam-kan sebagai penjahat, dan menyembunyikan aib Dent (Two Face)selama 8 tahun lamanya.

Memang Gotham menjadi kacau kembali. Bisa saja Batman bertindak. Namun, apa guna? Dengan mengambil alih situasi tujuan besar tidak mungkin tercapai. Perubahan memang perlu proses panjang, dan bisa jadi kekacauan tersebut tidak sekacau sebelumnya.

Dan hebatnya, Batman tahu dia punya batas waktu, akan melemah dan mati sehingga untuk menjaga keberlanjutan visinya, dia menyiapkan suksesor. Robin dan Catwoman –dalam versi  Batman&Robin- adalah pendamping serta calon pengganti Batman.

Juga Ironman, the Punisher, dan sedikit superhero “non-genetis” yang menjadi superhero bukan karena “takdir” atau “kecelakaan”, namun lebih karena niat baik yang dibarengi dengan ikhtiar.

Buatlah sistem. So if you’re gone, it still runs properly. Namamu mungkin akan hilang dan terlupakan. Tapi dengan adanya sistem yang memaksa masyarakat terlibat langsung, akan muncul kesadaran dan rasa kepemilikan sehingga tujuan besar menuju perubahan bisa dipastikan terus berjalan. Dan bukankah ini masuk dalam kriteria amal jariyah yang tak akan pernah putus masuk ke rekening akhirat selama sistem itu dipakai? 

Jadi superhero Genetis atau non-Genetis, itu adalah pilihan.

Disini hanya setahun. Tinggalkan jejak, bukan nama.

Nama Cuma bisa diingat dan dikenang, namun jejak bisa diikuti.

Minggu, 03 Maret 2013

Mereka Guru Hebat


                                         
“Tingkat kehadiran Guru di daerah terpencil sangat rendah”

“Guru daerah terpencil memang malas mengajar, mereka hanya menikmati gaji buta”

“Bagaimana anak pedalaman bisa cerdas, Gurunya tidak pernah hadir”

Dan begitu memang kenyataan yang saya lihat pada awal mulai mengajar di SDN Inpres 22 Rura. Kalimat-kalimat itu kuat memprovokasi. Marah. Jengah dan kesal melihat guru yang jarang hadir. Ingin rasanya berteriak dan menunjuk muka satu persatu Guru.

“Bapak ini bertugas mencerdaskan anak-anak, kenapa begitu mudah melepas tanggung jawab? Menelantarkan anak-anak yang sudah bersemangat datang ke sekolah dan membiarkan mereka tetap dalam kebodohan?”

“Mengapa Bapak jarang hadir ke sekolah? Mana tanggung jawab Bapak sebagai Guru”
_____________________________

Namun kemarahan itu perlahan luntur ketika mulai mengenal guru-guru dengan lebih dekat. Tahu dimana rumahnya, kenal keluarganya, sudah lebih santai ketika berbicara, bukan hanya sekedar topik basa-basi untuk mengusir keheningan. Sudah pula berani untuk bermalam (bagi orang Mandar, bila seorang tamu bermalam berarti sudah dianggap masuk sebagai anggota keluarga).

Seperti malam itu, saya menginap di rumah Pak Kepala Sekolah. Hadir juga menemani Pak Kaco, seorang Guru senior yang hampir pensiun, dan Pak Rasyid, ayah angkat kedua serta Guru di SD tempat saya mengajar.

Dan entah darimana mulanya, obrolan kami sampai kepada bagaimana mereka mengawali karir sebagai Guru. Mulai dari masa pendidikan di SPG Polewali, cerita saat menjadi guru honorer, bagaimana bertemu istri, dan bagaimana masa-masa setelah diangkat menjadi PNS yang mengajar di daerah terpencil.
Pak Kepsek mengawali cerita. Berlatar tahun 1994, beliau mengawali karir di SD Kolehalang –daerah transmigran yang terletak sekitar 30-an km dari Jalan Poros. Disambung dengan Pak Kaco yang mendapatkan amanah di SD Ulumanda –titik terjauh di Kecamatan Ulumanda, sekitar 10-20 km diatas Kolehalang.

Bila digambarkan, seperti inilah lokasi pengabdian para Guru hebat tersebut: Jarak antara Makassar Majene 300an km, ditambah 76 km jarak dari Majene ke gerbang desa. Dari gerbang desa berturut-turut adalah Rura-Sambabo-Kabiraan-Babasondong berjarak sekitar 11 km, barulah Taukong-Kolehalang-Ulumanda sekitar 40-an km. Dan di tahun 1994, jalan yang ada bukanlah jalan tanah berbatu seperti sekarang. Yang ada hanya jalan setapak, atau bahkan pernah guru-guru ini merintis jalan menuju sekolah.

 “Kamu sekarang enak, naik motor paling hanya 15 menit. Dulu paling tidak butuh setengah hari untuk berjalan sampai Rura”.

Pak Kepala sekolah dan Pak Kaco lebih parah. Perjalanan ke Kolehalang bisa memakan waktu satu hari penuh, bahkan tidak jarang mereka menginap di hutan. Bila berangkat mengajar, Bapak selalu membawa tas ransel untuk perbekalan dua minggu mengajar. Ya, jujur Pak Kepsek dan Pak Kaco mengakui mereka hanya mengajar selama dua minggu di atas. Dua minggu sisanya mereka habiskan di bawah.

Jadi, dalam sebulan kerja Bapak hanya dua minggu melaksanakan kewajiban?

Memang, secara kasat mata itu yang terlihat di mata kita dalam posisi sebagagai pengamat, bukan pelaku. Pada awalnya saya-pun beranggapan begitu. “Aaah itu sih bisa-bisanya Bapak membuat alasan”. Namun setelah bercerita lebih jauh, ada sisi yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak mengalaminya secara langsung.


Para guru ini sudah merelakan sebagian hidupnya, kehilangan waktu berharga bersama keluarga tercinta untuk mengajar di daerah terpencil. Membiarkan masa muda dan kekuatan mereka tergerus oleh langkah-langkah kecil menembus hutan. Membagi sedikit ilmunya untuk sedikit menghilangkan “dahaga ilmu” masyarakat daerah terpencil. Dalam keterbatasan dan kesulitan yang seringkali tidak pernah terbayang sama sekali.

Dua minggu mengajar dalam keadaan seperti ini saya yakin sudah cukup menghabiskan tenaga dan pikiran para guru. Dan sebagai manusia normal, mereka juga butuh keseimbangan dalam hidup. Mereka juga ingin menjalankan peran lain dalam kehidupan pribadi yang mereka miliki secara seimbang. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai anak, sebagai yang lain.


Masihkah berfikir bahwa guru-guru ini pemalsa dan tidak bertanggung jawab?

Mungkin memang masih banyak yang buta huruf di tempat mereka mengajar, namun bisa jadi ini sudah jauh lebih baik daripada keadaan disaat mereka belum hadir disana. Semua perlu proses.

Memang, kian hari infrastruktur di desa menjadi semakin baik. Namun itu tidak membuat guru-guru baru tertarik mengabdi di pedalaman. Guru di pedalaman kian hari kian berkurang. Lagi-lagi masalah kesejahteraan yang menjadi alasan mengapa banyak yang memilih menjadi guru “Kota” daripada guru “Gunung”. Jadi tinggallah Pak Kasman, Pak Kaco, Pak Rasyid yang walaupun sudah semakin lemah masih merelakan dirinya untuk mengambil bagian dalam upaya nyata membuat anak-anak tetap memiliki harapan.
Mereka terus bergerak walaupun dikepung oleh prasangka yang mendiskreditkan pengabdian  yang sudah diperbuat. Label pemalas, pemakan gaji buta, guru yang enggan maju tak mampu lagi menghentikan langkah guru-guru hebat ini.

Saya hanya bisa tertegun. Saya mengaku bahwa saya baru bisa “melihat”, bukan “memahami”, bahkan “memaknai” sesuatu.
_________

Pagi pun muncul secara perlahan, sedikit demi sedikit mengubah gelap malam menjadi terang benderang. Begitupun Pak Kasman, Pak Kaco, dan Pak Rasyid. Mereka bukan matahari yang mampu memberi energi pada seluruh siang. Mereka hanya segaris cahaya jingga yang membuka pagi. Tidak mampu menerangi, namun mampu memberi harapan bagi manusia bahwa sebentar lagi mentari hadir mengganti gelapnya malam.

Loteng atas, 2012.

Anak Dusun..


Beberapa anak terlihat berlarian, berebut bola, menggiringnya, kemudian menendang, berusaha memasukkan benda bundar itu ke dalam gawang. Badan mereka nampak tegap dan sehat. Sementara yang lain sibuk dengan gundu, bola kasti dan kulit kemiri, atau sekedar berlari-lari menyusuri teras. Sama seperti SD di bagian Indonesia yang lain, seragam putih merah masih setia menempel walaupun banyak yang sudah terlihat lusuh. Ada tas tergantung pada setiap punggung, namun hanya satu dua yang terlihat bersepatu.




08:00 WITA. Pelajaran seharusnya sudah dimulai. Namun karena akses ke Desa yang sangat sulit, wajar bila banyak guru yang tinggal di pinggir –istilah yang dipakai orang Pegunungan untuk menyebut warga pesisir- sering datang terlambat.
 “Pak, masuk kelas enam ya?”

“Masuk kelas empat saja Pak...”

“Pak kelas lima kosong, mengajar kami saja”

“Kapan masuk kelas tiga Pak?”

Permintaan-permintaan itu hanya sempat terbalas oleh senyum. Begitulah keadaan di Rura, murid selalu meminta guru masuk ke kelasnya. Mereka haus pengetahuan. Jangan heran bila ada yang berteriak “Lagi Pak, lagi!!” ketika jam pelajaran sudah habis dan soal sudah selesai dikerjakan.

Benarkah bila ada yang menyatakan semangat belajar di desa terpencil itu rendah? Tidak, mereka justru punya spirit yang jauh lebih tinggi dibanding anak-anak sekolah di kota.

Semangat anak Rura sudah dimulai jauh sebelum langit menampakkan terangnya. Dalam dekapan kabut pagi, mereka sudah berlomba menuju sumur desa untuk beradu kuat dengan dinginnya air dan udara subuh. Tanpa sarapan –sarapan bukanlah kebiasaan warga Rura- mereka segera bersiap dan menunggu datangnya Guru melintas di depan rumah. Terkadang ada yang menghampiri dengan nafas sedikit terengah.

“Tadi Saya lari biar berangkat bareng Bapak”, begitu katanya sambil bergabung dengan kawan-kawannya untuk berjalan dan bernyanyi bersama menuju sekolah.

Namun seringkali keinginan belajar di kelas sedikit tertunda karena Penjaga Sekolah yang belum datang membuka pintu-pintu kelas, atau karena Pak Guru berhalangan hadir, atau karena harus membantu orang tua mencari sappiri (kemiri – bahasa Mandar Gunung) di hutan. Bahkan beberapa bulan lalu karena beberapa kelas sedang direhab, anak-anak harus rela bergantian ruang kelas, atau bergabung dengan kelas lain.

Di tengah kepungan kebun coklat dan suara serangga yang tak pernah putus, anak-anak Rura menuliskan satu persatu huruf dan angka yang menuntun mereka menuju masa depan. Memang masih banyak yang sulit mengeja GAJAH dan menjumlahkan 5+1, namun tangan-tangan mungil mereka selalu terangkat ketika sebuah pertanyaan diajukan. Hingga kelas berakhir, suara lantang mereka tak pernah berhenti menggetarkan kelas. Berebut menjawab semua soal walaupun seringkali jawaban yang diberikan tidak tepat. Namun itulah yang membuat kami bangga. Anak-anak tidaka takut mengungkapkan pendapatnya. Ini yang guru-guru sebut dengan KEBERANIAN.

Tidak seperti murid-murid di kota, tidak ada bermain atau tidur siang sepulang sekolah, tidak ada pula yang namanya pelajaran tambahan. Satu-satunya kegiatan yang harus dilakukan adalah memecah kemiri. Setelah sholat dan makan siang biasanya anak-anak sudah siap dengan petuttu, alat pemecah kemiri yang mirip dengan sendok sayur dari bambu.

“Prek!!...prek!!!...”, suara kulit kemiri yang pecah, kalah beradu dengan batu. Begitu sampai malam menjelang.

Dan saat langit berubah menjadi hitam, segala keriuhan kompak bersembunyi. Meniupkan kesunyian ke seluruh sudut Dusun Rura yang gelap. Belajarkah anak-anak?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Lelah pikiran di sekolah, serta lelah fisik karena kemiri bisa jadi membuat anak-anak sulit menahan matanya untuk tetap terbuka. Lagipula bila masih ada semangat untuk belajar di malam hari, ada hambatan lain yang menunggu. Kegelapan.

Benar, kegelapan. Bila mata dilemparkan ke kalender yang tergantung di dinding ruang tamu, tertulis memang tahun 2012. Namun suasana malam di Rura lebih mirip cerita nostalgia Bapak Ibu saya pada medio ’79-’80-an. Belum ada listrik masuk Rura. Genset? Operasionalnya terlalu mahal menurut beberapa warga. Tidak ada lampu, hanya kaleng bekas susu berisi minyak tanah dengan sebuah sumbu menjulur yang menjadi satu-satunya penghasil cahaya. Belajar malam hari benar-benar menjadi sebuah perjuangan.


Sambil melawan kantuk, ditemani remangnya pelita, terkadang harus terbatuk karena asap yang terhirup Ikram tumbuh menjadi anak yang sangat cepat menghitung perkalian dan pembagian. Maslim bertransformasi dari anak cengeng menjadi Juara Sains Kecamatan. Azis dapat menghafal dan menyanyikan lagu dengan merdu. Lasmi mampu menghasilkan puisi dan lukisan yang indah. Dan Sarni mampu mengembangkan kemampuannya mengitung cepat.

Mereka mempunyai otak yang sama-sama cerdas, cita-cita yang sama tinggi. Walaupun berada di desa yang penuh dengan keterbatasan, selama masih memijak bumi yang sama kerasnya dan berada di bawah langit yang sama birunya, kesempatan yang Allah berikan pastilah sama. Mereka pasti bisa jadi seperti apa yang mereka cita-citakan. Tidak ada yang tidak mungkin bila Dia sudah berkata, Kun.
Rura, 2012

Minggu, 22 Juli 2012

Perjalanan Ramadhan /2 : Angka Keramat 03:10

 

 
03:10 am

“biiiip biiip biiip”

Alarm berbunyi. Alarm sudah lebih dari sepuluh bulan terpasang dalam angka 03:10 pagi. Angka keramat yang diberikan Pak Saiful untuk saya. Seorang sopir proyek asal Bekasi yang mengajarkan bagaimana caranya bangun untuk tahajud.

Saya bertemu Pak Saiful pertama kali ketika beliau mengantar saya menuju kantor proyek dan ternyata kami detempatkan di mess yang sama. Ketika itu saya masih sangat sulit menyempatkan diri untuk bangun walaupun hanya sekedar untuk sholat subuh di Masjid. Setiap hari, padatnya pekerjaan hampir pasti berakhir dengan lembur sampai pagi. Rutinitas yang hingga akhirnya membentuk kebiasaan mengakhirkan sholat subuh demi mencukupi kebutuhan tidur.

Tinggal bersama lima hari dalam seminggu membuat saya mengenal kebiasaan-kebiasaan Pak Saiful, termasuk tahajud yang rutin beliau kerjakan setiap hari. Pola yang beliau buat adalah seperti ini, bangun jam 03.00, tahajud, sholat taubat, kemudian dilanjutkan dzikir sampai subuh. Yang jelas, ketika Pak Saiful bangun, seringkali bertepatan dengan saya selesai lembur.

Suatu pagi setelah lembur mempersiapkan rapat mingguan, saya telat bangun. Sholat subuh baru saya kerjakan pukul 06:15. Sejak saat itu, saya berpesan pada Pak Saiful untuk membangunkan saya ketika hendak jamaah subuh. Diproyek memang hanya beberapa orang yang rajin ke Masjid, beberapa memilih sholat sendiri, tapi lebih banyak yang tidak mengerjakan sholat.

Namun pekerjaan membangunkan Subuh hanya dilakukan Pak Saiful selama tiga hari. Selanjutnya beliau berpesan:

“Mas, kalau mau terbiasa bangun Subuh sebaiknya pasang saja alarm. Terus supaya tidak tidur lagi setelah mematikan alarm, bangunlah (duduk atau berdiri) seketika bersamaan dengan terbukanya mata untuk pertama kali. Insyallah tidak lebih dari sebulan nanti sudah terbiasa bangun subuh”

Kemudian beliau mengambil handphone saya dan menyetel alarm pada angka 03:10. “Biar sekalian belajar tahajud” tambahnya. Dan selama sebulan lebih saya selalu dipaksa bangun pada waktu tersebut. Beberapa kali berhasil, namun lebih banyak gagal. Namun sejak saat itu, walaupun sering terlewat untuk tahajud, subuh di masjid sudah hampir pasti terkejar.

Cara Pak Saiful inilah yang kemudian membuat saya mengerti kenapa selama sebulan dibulan Ramadhan kita diperintahkan untuk menahan lapar, memperbanyak ibadah, dan mengurangi tidur. Waktu satu bulan merupakan rentang yang cukup untuk menyetel ulang jam biologis tubuh. Memaksa tubuh untuk menerima dan terbiasa dengan kegiatan-kegiatan baru.

Yang sulit untuk bangun malam dipaksa terbiasa dengan waktu makan sahur yang berakhir tepat sebelum adzan subuh. Yang tidak pernah sholat sunnah, digembleng dengan tarawih yang pahalanya setara sholat wajib. Yang tidak bisa menahan diri, diharamkan untuk menyentuh makanan, minuman, mencampuri istri, marah, dan sebagainya sampai waktu berbuka tiba.

Ramadhan yang penuh dengan “paksaan” dan “larangan” sebenarnya hanyalah sarana untuk membentuk sebuah kebiasaan baru. Kebiasaan yang akan melahirkan rutinitas ibadah baru pada bulan-bulan setelahnya. Walaupun pastinya tidak semua bisa terlaksana persis seperti saat Ramadhan, tapi setidaknya ada beberapa rutinitas Ramadhan yang tersisa. Mungkin hanya kebiasaan bangun malam atau hanya kebiasaan sholat sunnah. Seperti pelajaran “tahajud” yang hanya tersisa “subuh di masjid”, Ramadhan pasti akan memberikan bekasnya.

Seperti sebuah ungkapan
“Karet yang direnggangkan pasti akan kembali memendek, namun dia pasti menjadi lebih panjang dari sebelumnya meski hanya seujung kuku”

Rabu, 15 Desember 2010

Negara ini masih ada karena orang-orang kecil

Ramainya perseteruan antara pegnuasa pusat dan sultan tampaknya menggoyah persatuan dan kesatuan Indonesia yang dari jaman saya kecil diperkenalkan sebagai Bhineka Tunggal Ika. Sejak reformasi bergulir, nampaknya negara kita mengarah pada kebebasan yang benar-benar bebas. Bebas tak terarah. Akibatnya banyak terjadi konflik kepentingan, perbedaan antara visi pemerintah pusat dan daerah, pilkada yang menghabiskan banyak uang rakyat dan sebagian besar beujung di meja hijau ditambah korupsi yang makin gila.

Sekian banyak konflik dan masalah yang ada seharusnya sudah membuat negeri ini hilang dari peta dunia. Indonesia sudah tidak eksis lagi.

Apakah yang membuat negeri ini masih berdiri sampai sekarang???tentunya bukan mereka yang terhormat yang menikmati kursi-kursi empuk disana. Naegeri ini masih layak disebut sebagai negeri karena kesetiaan orang-orangyang tekun dalam pekerjaannya yang mungkin dalam keseharian kita lihat sambil lalu saja.

Para Pegawai Negeri Rendahan yang setia untuk mengurus administrasi warga di tingkat kelurahan. Pekerja arsip negara. Polisi rendahan yang dengan disiplin menangani kasus-kasus pencurian ayam. Matri kesehatan yang setia melayani masyarakat walaupun mungkin buat makan saja dia susah. Guru honorer yang hanya dijanjikan SK PNS yang setia mengabdi mengajarkan “dunia” pada anak2 bangsa ini.


Belum lagi para OB,tukang kebun, pesuruh gedung pemerintahan yang selalu memastikan bapak2 yang terhormat bekerja dengan nyaman  (bukan bekerja dengan baik). Polhut dan Penjaga perbatasan yang mau memastikan keamanan negara ini walaupun keamanan perut keluarga belum jelas.

Ya karena mereka2 inilah -forgotten person- sampai sekarang, walaupun negeri ini seakan adalah negeri masalah, namun nama Indonesia masih bisa kita saksikan di dunia. Karena mereka yang selama ini kita remehkan -mungkin pernah kita hujat- yang setia dengan pekerjaannya, jujur, dan mampu mengemban amanah yang diberikan padanya dengan baik, negeri ini masih bisa disebut sebagai sebuah negara mandiri. Seharusnya mereka2 inilah yang menempati pucuk2 pemerintahan di negeri ini.

Semoga………..