Kamis, 07 Juni 2012

Jakarta dan Putrajaya

"Macetnya parah" itu yang sering terdengar pada jam-jam sibuk di Jakarta. Padahal "jam sibuk" di Jakarta hampir berlangsung sepanjang hari. Maka yang terjadi adalah macet dimana-mana.

Sebagai pusat pemerintahan, tidak seharusnya Jakarta sering dilanda banjir dan kemacetan parah setiap hari yang menghambat mobilisasi. Padahal bagi kota besar sepert Jakarta, mobilisasi mempunyai peranan sangan penting dalam transportasi logistik maupun manusia. Kemacetan dan banjir yang menjadi penyakit akut Jakarta sudah sangat sulit untuk diperbaiki. Perkembangan infrastruktur yang tidak terkonsep dengan baik dan terkesan asal-asalan menimbulkan kesemrawutan yang membuat pebangunan hanya dilakukan sebagai solusi sesaat sebagai reaksi atas masalah-masalah yang sudah menjadi rutinitas.

Namun, pemindahan ibukota tentu saja bukanlah perkara yang mudah. Perlu perencanaan yang detail sehingga tercipta kota yang terkonsep baik dan memiliki visi yang jelas yang mencakup semua aspek sehingga mampu menjadi kota yang nyaman sebagai tempat tinggal, mampu mendukung kegiatan pemerintahan, dan peduli terhadap lingkungan. Salah satu kota yang dapat menjadi contoh dalam pembangunan kota yang berkelanjutan adalah Putrajaya di Malaysia.

Hampir sama dengan di Indonesia, Malaysia juga memiliki masalah yang sama di ibukota mereka, Kuala Lumpur. Perkembangan kota yang cepat menyebabkan Kuala Lumpur penuh sesak oleh bermacam kepentingan yang menyebabkan terbenturnya kepentingan pemerintah dan swasta. Oleh karena itu, pada awal dekade 80-an, para pemimpin Malaysia berencana untuk memusatkan kegiatan pemerintahan di satu lokasi dengan fasilitas yang lengkap dan modern, sehingga mampu mendukung kegiatan pemerintahan yang efektif. Putrajaya dibangun dengan konsep Kota Taman (Garden City) yang menyelaraskan pembangunan dan manajemen kota dengan alam sekitarnya. Putrajaya adalah kawasan seluas 4931 hektar yang terletak diantara Kuala Lumpur -25km- dan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) -20km-. Nama Putrajaya diambil dari nama perdana menteri pertama Malaysia, Tuanku Abdul Rahman Putra. Pembangunan kawasan Putrajaya dimulai tahun 26 agustus 1995 setelah lahan milik kerajaan Selangor dibebaskan oleh pemerintah dengan total biaya pengembangan kawasan sebesar 20,09 miliar Ringgit. Pembangunan tahap pertama dilakukan tahun 1996-2000 dengan prioritas pembangunan adalah Kantor Perdana Menteri, Departemen Keuangan, dan instansi pemerintah yang tidak memiliki gedung sendiri di Kuala Lumpur. Tahap kedua adalah pemindahan seluruh kantor pemerintah dan pembangunan perumahan untuk seluruh pegawai pemerintah yang bekerja di Putrajaya yang berlangsung dari tahun 2000-2005. Pembangunan Putrajaya direncanakan selesai secara total pada tahun 2015.

Putrajaya View

Putrajaya dipromosikan sebagai kota taman yang modern, didesain dengan fasilitas lengkap sehingga membuat warganya tinggal dengan nyaman. Dibagi dalam 20 distrik yang berpusat di pulau utama yang disebut Dataran Putra, kota yang dirancang untuk ditinggali 320.000 orang ini memiliki fasilitas seperti perumahan, sekolah, pusat perbelanjaan, masjid, area parkir yang tersebar di seluruh kota yang terkoneksi dengan “bus service” baik dalam kota maupun keluar Putrajaya, food court, tempat rekreasi, bioskop, dan sebagainya. Sebagai kota taman, proporsi pengunaan lahan yang terbesar adalah untuk ruang terbuka sebesar 39,15% -di Indonesia, undang-undang mensyaratkan 30%-, selanjutnya adalah 14,42% untuk perumahan, 18,40% untuk jalan raya, dan ditambah dengan danau seluas 600 hektar.

Transportasi

Selain fasilitas bangunan yang lengkap, sebagai kota yang menjadi pusat administrasi negara diperlukan sistem transportasi yang baik sehingga sehingga mobilisasi dan koordinasi antar instansi pemerintah berjalan dengan lancar. Sadar akan hal ini, otoritas Putrajaya membangun sistem transportasi yangterintegrasi, terdiri dari bus, kereta api, monorail, ditambah waterways yang didukung oleh 94,87 km jalan raya 4 lajur, 18,87 km rel kereta api, 18 km jalur monorail, serta 38 km waterfront.

Putrajaya road map

Gerbang masuk ke Putrajaya berada di Putrajaya Sentral yang merupakan tempat pemberhentian bus dan kereta api dari luar Putrajaya yang dapat dicapai dengan bus sekitar 30 menit dari KL maupun KLIA dengan tiket bus seharga RM 3,5. Sedangkan apabila menggunakan kereta api, dari KL Sentral menuju Putrajaya memakan waktu hampir sama dengan tiket seharga RM 19. Sebagai terminal utama, Putrajaya Sentral memiliki area parkir mobil pribadi dan area pakir bus yang sangat luas, karena semua jalur bus dan taksi yang beroperasi di Putrajaya berakhir di Putrajaya Sentral. Target pemerintah lokal adalah 70% beban arus lalu lintas di Putrajaya berasal dari transportasi publik. Sebagai usaha memenuhi target yang telah ditetapkan, terdapat 13 jalur bus dalam kota dengan tarif 50 sen sekali naik yang didukung 170 armada bus NGV (2008). Bus NGV adalah kendaraan hibrid yang hanya menghasilkan sedikit emisi, tidak menimbulkan suara dan getaran yang menganggu. Dengan transportasi umum yang murah dan nyaman, terbukti, pada tahun 2008 tercatat 2,5 juta orang yang memanfaatkan bus sebagai alat transportasi utama.

Figure 5 NGV bus

Untuk meningkatkan kinerja transportasi umum, maka pada bualn maret tahun 2004, MTrans –perusahaan pengelola transportasi Putrajaya- merencanakan monorail sebagai alat transportasi baru di Purtajaya dengan 23 stasiun yang terletak dibawah tanah maupun elevated. Namun pada akhir tahun 2004, setelah menyelesaikan pembangunan 2 stasiun utama dan satu jalur monorail termasuk jembatan yang dapat dilewati monorail dan mobil, pembangunan monorail ditunda untuk menunggu perkembangan lebih lanjut Putrajaya.

Subway

Selain bus dan monorail, terdapat juga taksi sebagai sarana transportasi, namun tarif taksi sangat jauh berbeda dengan tarif bus, sehingga taksi hanya digunakan pada keadaan darurat saja. Semetara angkutan kereta api hanya melayani rute luar kota yaitu KL-Putrajaya, PP dan Putrajaya KLIA, PP. Melengkapi transportasi darat yang sudah ada, di Putrajaya terdapat pula jalur transportasi air, namun alat tansportasi ini hanya diperuntukkan bagi keperluan wisata kepada turis yang mengunjungi Putrajaya.

Monorail facilities

Pengelolaan Sumber Daya Air

Sistem pengelolaan sumber daya air di Putrajaya meliputi daerah tangkapan seluas 50,9 km2, 6 anak sungai, pulau-pulau buatan, yang bermuara di Danau Putajaya seluas 600 hektar dengan kapasitas simpanan sebesar 23,5 juta m3. Danau ini difungsikan sebagai penyeimbang suhu dan cadangan air bersih bagi Putarjaya. Badan air di Putrajaya dibagi menjai 6 zone yang masing-masing memiliki fungsi khusus. Zone 1 berada di daerah hulu yang difungsikan sebagai wetland yang bertujuan untuk menjaga kualitas air danau, penghijauan, rekreasi, sarana edukasi, dan yang terpenting adalah menahan air sehingga debit air yang mengalir ke danau tidak berlebihan. Zone 2 berada di bawah zone 1, terletak di sekitar dataran Putra yang berfungsi sebagai zone rekreasi terkawal. Pada zone ini rekreasi yang dapat dilakukan adalah berlayar di sekitar Masjid Putra, Jembatan Putra yang bergaya eropa, sampai Jembatan cable stayed Seri Wawasan. Zone yang lain difungsikan antara lain untuk zone pengendapan sedimen, zone yang terisi oleh banyak pulau-pulau kecil yang disebut cells. Sel-sel ini merupakan pulau-pulau buatan yang tersebar di seluruh zona daerah tangkapan.

Figure 8 Wetland Cells

Pulau terbesar berukuran 50.9 hektar, sedangkan pulau terkecil berukuran 14,3 hektar. Sel-sel dengan ukuran besar ditanami dengan tumbuhan besar yang berfungsi sebagai pencegah erosi, penahan sedimen dan pemanen air hujan (rain harvesting). Selain itu juga ditanami tumbuh-tumbuhan yang cocok untuk habitat burung, serta hewan, baik hewan endemik maupun hewan yang sengaja didatangkan sehingga secara keseluruhan, sel-sel yang ada dikemas secara baik sebagai taman botani (botanical garden) yang menjadi sarana rekreasi dan edukasi masyarakat untuk selalu dekat dengan alam.

Watershed and waterbody zoning

Untuk sistem pencegahan banjir, sistem drainase Putrajaya tidak mengadopsi bentuk saluran drainase konvensional yang kaku. Sistem drainasi utama disembunyikan di dalam jaringan sungai buatan berbentuk acak yang menyebar ke seluruh sudut kota. Bentuk yang natural menjadikan jaringan drainase terlihat alami sehingga sesuai dengan konsep kota taman yang dianut Putrajaya.

Dampak dari pembangunan yang berkelanjutan di Putrajaya
Pembangunan yang terencana dengan baik menjadikan Putrajaya bukan saja menjadi pusat administrasi pemerintahan, namun dalam perkembangannya juga dijadikan sebagai objek wisata yang menarik banyak pengunjung. Banyak event-event pariwisata digelar sepanjang tahun. Hal ini tentu saja memberikan keuntungan ganda bagi pemerintah setempat. Disamping kegiatan pemerintahan dapat berjalan efektif dan efisien, banyaknya turis juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara, yang tentu saja akan menaikkan perekonomian rakyat. Selain itu dari sisi politik, penataan ibukota yang baik dapat dijadikan alat pencitraan negara sehingga tidak timbul rasa rendah diri terhadap ngara lain yang pada akhirnya memunculkan jiwa nasionalisme yang tinggi.

Belajar dari Putrajaya
Kembali pada wacana pemindahan ibukota Jakarta, bercermin dari Putrajaya, untuk membangun sebuah pusat administrasi yang baru, diperlukan perencanaan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Pembangunan harus mempunyai visi yang jelas agar penataan kota terkonsep dan tidak terjadi pembangunan yang “asal jadi”. Pembangunan infrastruktur yang lengkap dan modern akan mempermudah jalannya proses pemerintahan. Namun selain pembangunan infrastruktur, pembangunan juga perlu memperhatikan kelestarian alam dan harus mampu mengakomodasi kepentingan warga kota yang tinggal baik secara fisik maupun spiritual melalui penyediaan fasilitas ibadah dan rekreasi yang memadai. Pembangunan infrastruktur, gedung, jalan, sarana transportasi, saluran drainase, dan sistem manaemen tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat sehingga harus dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan tanpa dipengaruhi keadaan politik yang berganti-ganti untuk menciptakan kota yang baik.



(telah di publish di sipil2006.wordpress.com)

Rabu, 06 Juni 2012

Lawu, 3265 MDPL

Tim Nekat Asrika

Jumat siang (1/6), setelah sehari persiapan fisik, berburu pinjaman alat dan perlengkapan, belanja logistik, kami bertujuh (Saya, Siswo, Irfan, Arifin, Widhi, Sugeng, Agnang) dengan semangat 45 berangkat menuju Cemoro Sewu. Titik awal pendakian gunung Lawu. Titik ini kami capai dari Solo dengna menumpang bus jurusan Solo-Tawangmangu (5ribu rupiah) disambung dengan ngompreng dari Terminal Tawangmangu ke Cemoro Sewu yang juga 5 ribu rupiah.

20:15
Setelah lapor dan istirahat sebentar, kami melakukan checking akhir dan tepat 20:30 kami mulai pendakian. Sinar purnama yang tak terhalang kabut mengekspos jalan berbatu yang akan kami susuri. Jalan selebar sekitar 1-2 meter yang menemani kami hingga pos 1. Dari base camp ke pos 1 kami tempuh dalam waktu 1 jam dengan kecepatan standar pemula. Dari pos 1 ke pos 2 jalan masih nampak berbatu namun mulai menyempit dan kemiringannya makin lama makin curam. Pun begitu dari pos 2 menuju pos 3, kondisinya tidak begitu berbeda. Sempat kami temui pula beberapa group yang juga mendaki malam itu. Beberapa diantaranya kami temui membuka tenda di Pos 3, lokasi yang sebenarnya kurang nyaman karena angin yang bertiup sangat kencang dan dingin.

23:48
Kami sempat melanjutkan perjalanan dari pos 3 ke pos 4, namun karena ada beberapa insiden kecil kami putuskan untuk membuka tenda di pos 3 dan meneruskan perjalanan esok hari.
____________________
Sunrise dari Pos 3 Cemoro Sewu
Sempat kecewa karena gagal menemui sunrise di Puncak, namun karena sudah lebih setengah jalan kami tempuh, mau tak mau perjalanan harus dilanjutkan sampai puncak, Hargo Dumilah. Puncak yang sudah saya idamkan sejak semester tiga dulu. Dari awal, Agnang sudah mengingatkan kalau pendakian dari pos 3 ke pos 4 akan sangat melelahkan, karena trek yang terjal menanjak. Dan benar saja, dari pos 3 kami butuh waktu 2 jam untuk sampai ke pos 4. Tentu saja waktu untuk berfoto ria berkontribusi menambah waktu tempuh kami ke pos 4 karena saat itu pemandangan yang iperlihatkan kepada kami sungguh luar biasa. Pemandangan ke arah barat, ke arah kota Solo dan Wonogiri. Bukit-bukit berjajar, dan yang jelas sekali terlihat adalah waduk Gajah Mungkur di kejauhan sana. Kabut yang sesekali turun makin me-luar biasa-kan suasana. Diapit tebing-tebing yang memantulkan cahaya matahari pagi, kelelahan, rasa lapar, dan kebosanan menapaki jalan menanjak seakan hilang, tergantikan oleh perasaan kagum dan takjub atas kebesaran ciptaan Yang Maha Maha.

07:58
Sampai di Pos 4 matahari mulai meninggi, karena trek dari pos 4 ke 5 yang relatif datar -yang oleh Agnang disebut "trek bonus"- langkah kami percepat, karena nasi, mie instan, telor rebus, dan kopi hangat sudah terlalu lama hanya menjadi hiasan tas. Hasilnya, tidak sampai satu jam kami sudah merapat ke sendang Drajat, tempat dimana akhirnya kami melakukan "pesta" dan menghabiskan "hiasan" tas kami.

09:13
Seolah mendapat energi baru, perjalanan menuju Hargo Dumilah kami jalani dengan semangat mie istan dan telor rebus. Tanjakan terjal menjelang puncak-pun dengan mudah dilibas layaknya jalan datar.

10:33
HARGO DUMILAH, puncak Lawu 3265 MDPL berhasil kami taklukkan.

Sejauh ini, inilah tempat tertinggi yang pernah saya pijak. Tempat dimana awan berada jauh dibawah sana. Tempat dimana angin gunung bertiup begitu kencang. Dimana kabut bisa saya rasakan begitu rendah. Dimana mata saya bisa memandang kebesaran Tuhan yang terhampar begitu luas.



Jauh dibawah sana

Sisi Timur Puncak Lawu

Tebing Timur

Tebing TImur



Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri)

Barisan pegunungan

Irvan Nampang
Yang terjadi selanjutnya adalah berfoto, foto, foto, dan foto.

Hargo Dumilah




_______________
11:45
Puas menikmati keindahan puncak dan menikmati sedikit pelemasan otot kaki, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Cemoro Kandang setelah sholat Dzuhur nanti. Jalur yang katanya lebih jauh dibanding jalur Cemoro Sewu, namun lebih landai. Jalur dengan 4 pos yang masing-masing pos-nya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1-2 jam.




Trek Cemoro Kandang
Jalak Lawu
18:41
Setelah hampir 6 jam menjelajahi trek turun Cemoro Kandang, kami sampai di Basecamp Cemoro Kandang. Akhirnya kesampaian juga mendaki puncak Lawu.

___________________________
Tips :
1. Persiapan Fisik, Logistik, dan Peralatan (Jelas)
2. Usahakan ke dan dari cemoro sewu tidak terlalu sore, sehingga tarif angkutan umum masih normal. Jika kemalaman dkienakan tarif sewa.
3. Minta nomer handphone sopir angkutan buat jaga-jaga kalau turun kemalaman.

Senin, 07 Mei 2012

Indonesia, The Tropical Dutch

“Ke Belanda yuuk?”
“Hah, Belanda?”
Sebuah ajakan untuk mengusir kebosanan di akhir minggu. Ternyata yang dimaksud “Belanda” oleh teman saya adalah kawasan kota tua yang memang dihiasi bangunan-bangunan tua peninggalan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Sekilas memang landscape di kota tua tidak seperti landscape Indonesia pada umumnya. Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, serta beberapa bangunan tua yang dibelah kali Ciliwung seakan berusaha “mereplika” kota-kota di Belanda sana. Tapi benarkah hanya copy-paste?



13363679311714895077
Ilustrasi. Salah satu sudut pemukiman di Belanda. /Kompasiana (Shutterstock)

Hasil googling dengan kata kunci beberapa kota yang ada di Belanda menunjukkan pada saya bagaimana landscape di Belanda. Sekilas memang mirip, namun jika diperhatikan secara detail, nampaknya Inlander yang ada di Indonesia tidaklah sekedar copy-paste. Ya, desain “original Dutch” nampaknya kemudian dikembangkan dan dimodifikasi menjadi “tropical Dutch”. Llihat saja dari penggunaan batu kali di hampir semua bagian bangunan. Pondasi, dinding dasar (kurang lebih 1-1,5m dari tanah), bahkan beberapa bangunan ada yang seluruh permukaan dindingnya menggunakan batu kali. Mungkin bangsa Belanda melihat adanya ketersediaan batu kali yang melimpah di Indonesia, dan tentu saja karena batu memang terkenal kuat.



1336361937223906975
Batu Kali dimana-mana (Dok:pribadi)

Masih di seputar dinding, dinding bangunan peniggalan Belanda terkenal tebal, sekitar 25-30cm. Dan ini terbukti efektif meredam panasnya ilkim tropis. Coba saja masuk bangunan Belanda di siang yang terik, saya yakin panas dari luar tergantikan oleh sejuk udara ruang. Ya, mungkin modifikasi-modifikasi desain asli memang terpengaruh kuat oleh iklim tropis Indonesia. Dan lagi-lagi panas tropislah yang merubah fungsi “gunungan” atap bangunan Belanda di Indonesia. Memang, baik di Belanda dan di Indonesia, bangunan karya orang Belanda masih bercirikan atap bangunan yang tinggi, namun di Indonesia tidak ada atap bangunan yang dijadikan ruang loteng seperti di Belanda sana. Atap bangunan yang tinggi hanya berupa ruang kosong yang difungsikan sebagai filter panas matahari yang membakar genteng.



1336361998457552918
Atap tinggi tanpa loteng (Dok:pribadi)

133636205326457391
Atap tinggi (Dok:pribadi)

Pun desain jendela, walaupun sama-sama memiliki jumlah jendela yang banyak dan lebar-lebar, fungsi nya sedikit berbeda. Jika di belanda jendela lebar memang difungsikan untuk memasukkan sebanyak-banyaknya sinar matahari, di sini jendela difungsikan untuk pintu gerbang pertukaran udara agar suhu ruangan tetap terjaga tanpa bersentuhan langsung dengan cahaya matahari. Jangan heran jika pada bangunan Belanda versi tropis terdapat semacam tritisan diatasnya (yang juga berfungsi menghindari tampias air hujan), kalaupun tidak, masih ada selasar yang memberikan “jeda” antara ruangan dan halaman luar. Seakan masih kurang puas dengan mekanisme “pendinginan ruang” yang sudah dibuat, di beberapa bagian jendela atau pintu, kadang masih ditambahkan lubang-lubang udara yang jika kemasukan sinar matahari akan memberi suasana cahaya yang dramatis di dalam ruangan.



13363621861691454042
Tritisan (Dok:pribadi)

Sedikit keluar rumah, merah kuning warna tulip tergusur oleh rimbun dan hijaunya tanaman tropis. Beringin, rambutan, dan beberapa tanaman yang berdaun lebat banyak menghiasi rumah-rumah bergaya Belanda. Dan bila dilihat dari kejauhan, rumah-rumah bergaya Belanda terkesan angkuh dan “dingin”



1336362240417681274
Angkuh (Dok:pribadi)

Nampaknya memang tidak sama dengan yang asli di Belanda sana.
Berarti memang sudah ada modifikasi dan adaptasi desain dengan lingkungan tropis.
Berarti nggak sekedar copy-paste.
Walaupun mirip, tapi Indonesia dan Belanda tidaklah sama. Mungkin lebih tepat Indonesia ini disebut dengan Belanda versi Tropis.
Indonesia, the Tropical Dutch


1336362286830576169
Tropical Dutch (Dok:pribadi)

Minggu, 29 April 2012

Sebuah rumah dimulai dari maket..

Mobil-mobilan, mainan, anak-anak, masa kecil. Mungkin seperti itulah yang ada di kepala anda semua jika melihat foto-foto yang saya tampilkan dibawah. Memang mobil-mobilan identik dengan anak-anak dan mainan, terutama anak laki-laki. Apakah hanya anak-anak?tidak juga, dan bisa saja hal itu yang memunculkan istilah

"Seorang pria adalah anak kecil yang berkumis"

Saya setuju dengan peryantaan itu, mengapa?ya jelas, karena saya sendiri masih memiliki sisi kanak-kanak di usia saya yang sudah begini tua. Namun memiliki sisi kanak-kanak lain pengertiannya dengan tidak dewasa. Sangat berbeda. Saya tidak ingin dan tidak akan menghilangkan sisi kanak-kanak dalam diri saya, karena bagi saya pribadi, hanya sisi kanak-kanaklah yang membuat saya memiliki impian yang melebihi kemampuan saya sendiri, bahkan yang seolah tidak mungkin terjadi.

Orang yang melihat rak pajangan di rumah mungkin akan segera tahu kalau saya masih punya sisi kanak-kanak dari koleksi mobil mainan yang saya pajang. Benar, sejak lulus SMA saya terobsesi dengan mobil Double Cabin sejak saya melihat sebuah mobil Mitsubishi Strada kuning sehabis pulang sekolah. Dan sejak itu, saya bermimpi suatu saat memiliki sebuah Double Cabin, karena mobil itu bagi saya terlihat sangat "cowok".

Namun, saya juga menyadari kalau untuk mewujudkan mimpi itu saya butuh waktu. Ya secara cuma mahasiswa kelas dua, naik motor saja sudah untung, masa minta naik mobil?hehe..

Nah karena keadaan itu, saya memilih membeli mobil versi mini. Diecast berukuran 1:60 keatas. Bukankah membangun sebuah rumah diawali dengan sebuah maket? dan inilah maket dari sesuatu yang sedang saya rencanakan, hehehe...

 
Sebuah Ford Raptor dari Matchbox

Mitsubishi Strada Triton L200 dari Tomica

Chevrolet Avalance dari Matchbox

Honda Ridgeline dari Matchbox

Chevrolet SIlverado dari Matchbox

Ford San Blaster dari Matchbox

6 buah koleksi double cabin die cast saya mungkin masih kurang rame jika dipajang dalam satu rak
, dan nampaknya secara tidak sadar hobi itu telah saya tularkan ke adik saya. Namun dengan selera yang berbeda, dia lebih menyukai mobil sport. Saya tak hafal koleksinya, namun coba saya tampilkan beberapa disini.

Mungkin sebuah MAzda

Kalau tak salah ini Lamborghini

Kalau nggak salah ini Honda

Ford
 

Tidak ada merek, mungkin mobil konsep

Dan, ponakan saya ternyata telah terpengaruh oleh hobi om-omnya, dia juga memiliki koleksi sendiri.

Keponakan dan koleksinya

Dan ternyata saya tidak sendiri. Di kos-kosan ada juga seorang teman yang sangat terobsesi dengan Hummer, kendaraan yang terkenal sebagai kendaraan militer AS, ini dia beberapa hasil buruannya.

Hummer 1

Hummer 2

Hummer versi Transformer

Hummer 3

Dunia anak-anak memang selalu mempesona, hehehe

Sabtu, 21 April 2012

Mengapa Indonesia Merana, Inggris Berjaya...

Mencoba bermain-main dengan bahasa

Bahasa, apa sih artinya?sesuatu yang diucapkan sehari-hari?bukankah itu namanya kata-kata?menurut Wikipedia bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks

Tapi sudahlah, bukan itu yang ingin saya bahas karena saya bukan ahli bahasa. Saya orang teknik, jadi kalau ada yang kurang pas, mohon dimaklumi, hehehe. Oke, saya bukan sedang ingin sok pintar dengan bahasa, saya hanya pingin menuliskan yang tadi tiba-tiba saja terpikir di kepala saya. Saya sedang membaca sebuah poster berbahasa Inggris saat pikiran ini muncul.

“The Dark Knight”

Itu bunyinya, yang kalau di Indonesia-kan dari sepengetahuan saya berarti Sang Kesatria Kegelapan.
Apa yang membuat saya tertarik?

The Dark Knight (1), Sang Kesatria Kegelapan(2).
Saat melafalkan kata pertama, walaupun tulisannya susah dibaca buat orang yang tidak paham bahasa Inggris, tapi masing-masing tersebut hanya diucapkan dalam satusuku kata, The-Dark-Knight. Dalam bentuk yang sudah di terjemahkan, saya butuh sembilan sukukata untuk mengucapkan
Sang-ke-sa-tri-a-ke-ge-la-pan.

Benar, sembilan kali. Berarti, dalam arti kata yang sama, orang Indonesia 3x lebih boros dibandingkan dengan orang Inggris. Saya pun mencoba mencari-cari kata lain dalam bahasa Inggris, dan saya coba transfer ke bahasa Indonesia. Dan hasil iseng iseng saya menyimpulkan bahwa kata-kata dalam bahasa Inggris lebih irit dalam pengguanaan dibanding Indonesia. Terutama dalam hal suku kata, dan lebih spesifik lagi pada kata-kata kerja. Dimulai dari “kerja “ itu sendiri, perbandingan sukukatanya adalah 2:1 dibandingkan “work”. Lalu:

Swing : Berenang, 1:3
Dig : menggali, 1:3
Call : panggil, 1:2
Bring : bawa, 1:2
Go : Pergi, 1:2
Make : membuat, 1:3
Drive : menyetir, 1:3
(Silakan yang mau nambahin…)

Ya, kata kerja versi Indonesia lebih boros dalah hal waktu pengucapan. Saya sih iseng-iseng juga mengait-kaitkan hal ini dengan karakter kedua Negara dan menebak-nebak kenapa Indonesia kalah jauh dari Inggris.

1). Hmm, mungkin orang Indonesia hobi boros kali ya?buat berkata aja udah boros waktu dan boros huruf, maka jangan heran kalo orang Indonesia hobi memboroskan anggaran, kurang menghargai waktu, konsumtif, dan banyak hal lain yang berkaitan dengan boros.
2). Kata kerja versi Inggris lebih singkat, mungkin artinya kerja cepat, tepat, dan efisien, lain dengan prinsip di Indonesia: “Kalau bisa dibikin sulit, kenapa dipermudah?”
3). Dari kata-kata yang lugas, orang Inggris lebih to the point kali ya?lain dengan orang Indonesia yang suka bertele-tele, berputar-putar, berbasa-basi, namun akhirnya tujuan awal malah nggak tersampaikan.
4). Kata yang terdiri dari huruf-huruf sulit, tapi penguapannya mudah dan singkat. Mungkin orang Inggris selalu teliti dalam perencanaan, banyak hal rumit yang dipertimbangkan, namun dalam prakteknya tetap harus simpel dan sederhana. Berorientasi pada praktek, serumit apapun teorinya, prakteknya harus mudah dan bisa dimengerti semua orang dalam usia dan level pendidikan apapun.
Baru empat itu yang saya temukan, ada yang bisa menambahkan lagi?

Eh sebelum ditutup, saya juga tergelitik lagi saat ingat ungkapan
I cut my finger” yang diucapkan orang Inggris jika jarinya teriris pisau. Kalau versi Indonesia itu artinya “Jariku teriris”.

Kali ini bukan kosakata yang saya perhatikan, namun soal subyek dalah kalimat tersebut. Versi Inggris, subjeknya adalah “I”, saya. Berarti saya sendiri yang bertanggung jawab kenapa jari saya bisa teriris, itu murni kesalahan saya. Yang memegang pisau saya, yang menggerakkan pisau juga saya, jadi kalau ada apa-apa dengan jari saya, berati itu kesalahan saya dan saya yang mengambil tanggung jawab atasnya.
Versi Indonesia? Subjeknya tidak jelas siapa, atau mungkin subjeknya “jariku”?berarti yang salah siapa?si jari atau pisau?atau pemegang pisau?

Yang terkena dampak irisan?si jari, si pisau atau si pemegang pisau?
Naah, kalau dari sini yang saya lihat adalah, orang Inggris lebih berani mengambil tanggung jawab atas perbuatannya. Benar atau salah.

Berarti bahasa menunjukkan karakter penggunanya?benarkah?coba deh besok-besok tak belajar bahasa lain, siapa tau dapet inspirasi lagi.

Bukan maksud membanding-bandingkan Indonesia:Inggris, bukan pula bermaksud menjelek-jelekkan bangsa sendiri, sekali lagi hanya keisengan yang tidak disengaja yang membawa saya pada pemikiran seperti itu.


Apapun, saya tetap cinta Indonesia. Ingat, cinta Indonesianya, bukan pemerintahannya, bukan birokrasinya, bukan utangnya, bukan masalah-masalahnya, bukan konflik-konfliknya, bukan pilkada-pilkadanya, bukan partai-partainya.

Yang saya cinta Indonesianya.
:p

Selasa, 17 April 2012

Sumatra Utara Day 1 : Citizen Rally Sensation dan Ombak Toba

"Besok kamu yang mewakili orang-orang kantor ke Medan ya"
Begitu kata Pak Bowo, bagian umum di kantor saya. Yup, beruntung sekali karena banyak yang sibuk, entah acara keluarga, entah sibuk lembur kerjaan, jatah kondangan ke Medan tidak ada yang mengambil. Dan akhirnya kami berempat-lah yang ditugaskan kesana. Lumayan laah sekali-sekali jalan-jalan keluar kota.
 ______

21:40 setelah kurang lebih dua jam terbang dalam kegelapan, perlahan kerlap-kerlip lampu mulai nampak di bawah sana. Kota Medan menyambut kami dengan meriah. Namun, yang saya rasakan justru degupan jantung yang semakin cepat. Inilah utnuk pertama kalinya saya mendarat di Polonia, bandara yang terletak di pusat kota Medan. Saya takut jika pesawat meleset saat mendarat. Tapi alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menceritakan pengelaman saya kali ini.

Sebuah SUV sudah menunggu kami, tanpa jeda kami harus segera berangkat ke Parapat malam ini. Kira-kira masih 4 jam jauhnya dari Medan. Dan pak sopir memperkenalkan dirinya hanya sebagai orang Flores tanpa menyebut nama.

"Pelan-pelan aja Pak bawa-nya, biar bisa sambil istirahat di mobil"
Begitu kata Bang Tagor yang menjemput kami di Bandara.

SUV melaju, perasaan saya sih ke arah barat. Beberapa menit berjalan, Pak Flores mulai berlagak jadi guide. Yup, bercerita tentang pendeknya jarak antar perempatan di Medan, Medan yang sudah mulai macet, orang-orang Medan yang keras kepala -terbukti banyak yang saya lihat nggak pake helm :D-, apapun dia ceritakan sampai tak terasa papan nama yang tertera di sepanjang jalan bukan lagi bertuliskan "Medan" berganti menjadi "Deliserdang". Kepadatan kota mulai berkurang, dan kecepatan mobil semakin bertambah.
 ____________

Gelap makin merapat, lampu-lampu perlahan mulai berganti dengan deretan pohon sawit dan suara serangga. Jalan yang semula muat untuk 4 mobil, kini menyempit hanya untuk 2 mobil, namun Pak Flores tetap memacu mobil dengan kecepatan yang tidak diturunkan semenjak tadi.

Dan inilah awal mula petualangan itu.......

Di tengah gelap malam dan jalan sempit yang berliku, Pak Flores dengan sangat percaya diri mengemudikan SUV kami. Feeling saya mengatakan kalau dia benar-benar sudah hafal jalan ini. Tanpa adanya lampu penerang jalan -hanya lampu mobil- dikombinasi dengan jalan yang sempit berkelok, dengan resiko berpapasan dengan mobil di depan, Pak Flores terus memacu SUV sampai batas maksimal. Tanpa menginjak rem. Ya, kami berempat diajak berkendara dengan sensasi reli kelas dunia.

Goyang kanan, goyang kiri, lajur kanan, lajur kiri, terkadang overtaking, sering pula off dari aspal. Benar-benar mantap!!! tak ada rasa takut dari wajahnya, hanya kepercayaan diri. Akhirnya saya paham mengapa pengemudi-pengemudi Medan menguasai jalanan Jakarta -terutama metromini-, malam ini saya ditunjukkan buktinya. Tiba-tiba saya terngiang kata-kata Bang Tagor di bandara tadi "Bawa mobilnya pelan-pelan yah".

Yang begini dikata pelan?hahahaha

Setelah hampir 4 jam menyusuri (mungkin) hutan -tak terlihat karena gelap, namun samar terlihat hutan pohon-pohon dan tebing-, pukul 2:00 am kami tiba di Parapat. Tanpaa Ba bi bu lagi kami langsung menuju resort yang sudah disiapkan dan langsung tidur pulas.
______________________
 5:00 am
 
Toba View dari Resort

Saya terbangun, walaupun badan masih shock gara-gara reli semalam, namun saya paksakan untuk melangkah keluar. Kapan lagi liat sunrise di Toba? sehabis sholat subuh, saya dan seorang teman mendekati tepi danau toba, bercengkerama dengan tamu-tamu resort yang lain sambil menantikan sunrise.

Samosir-Parapat-Pematang siantar-Tebingtinggi-Deliserda
ng-Medan

Toba sunrise

Setelah puas menikmati tepian toba, merasakan dinginnya air, menghirup udara segar Toba, sedikit berkeliling ke perkampungan, kami kembali ke Resort untuk sarapan. Ternyata Pak Jaka sudah menunggu di Lounge, dan beliau sudah menyiapkan kapal untuk menyeberang ke SAmosir untuk rombongan dari Medan dan dari Jakarta. Oke, mendengar kabar tersebut, sarapan jadi tambah semangat. Ditemani segelas kopi Sumut yang harum, terbayang sudah Pulau Samosir yang sedari kecil hanya pernah saya kunjungi lewat permainan Monopoli.

Toba dari kapal

Pagi itu angin bertiup lumayan kencang, perjalanan mengarungi Toba terasa lebih menantang. Berkali-kali ombak menerjang perahu dan cukup membuat kami terguncang keras. Saya sengaja memilih duduk di dek depan kapal agar menikmati hembusan angin dan cipratan air TOba.

 Tugu Batak

Hampir sejam kami bergoyang-goyang dihempas ombak Toba. Rute penyeberangan dibuat agak memutar agar kami dapat menikmati pegunungan serta tebing-tebing indah yang mengelilingi Toba. Seperti apa keindahannya?wah, keindahan yang tak akan terwakili oleh kata-kata dan jepretan kamera. Datang sendiri ke sini, ke Parapat.

Perlahan, kapal mulai memasuki Pelabuhan wisata Tomok. Pelabuhan wisata tomok terletak agak jauh dari pelabuhan komersial dan langsung terhubung ke pasar, mungkin namanya Pasar Samosir, karena tak ada papan nama terpampang disitu.

Menjejakkan kaki di Samosir, saya disambut oleh tugu Batak, dan karena Tugu inilah saya baru mengetahui kalau ternyata suku Batak juga masih terbagi menjadi beberapa sub-Suku. Ada sekitar 8 atau 12 sub-Suku Batak, tapi karena lupa tak mencatatnya, saya tidak bisa menyebutkannya disini. Dismaping tugu Batak, terdapat tourism Map pulau Samosir, dan ternyata pelabuhan Wisata ini berada sangat dekat dengan kawasan wisata Samosir. Tak perlu jauh-jauh, cukup dengan berjalan kaki, kami dapat menjangkau Pasar Samosir yang penuh dengan cinderamata khas Sumut, kain Ulos dari yang murah sampai yang kualitas yahud, makam Raja Sidabutar, Patung Sigale-gale, Musium Batak, Batukursi, dan beberapa objek lain.

Tapi, mungkin lebih seru kalau petualangan itu diceritakan di lain waktu, karena saya yakin bakal panjang ceritanya.


________________________
Tips :
1. Pakai sabuk pengaman apabila perjalanan dari Medan ke Parapat anda menggunakan mobil sewa, bersiaplah merasakan sensasi Reli Dakkar.
2. Bila tidak memakai kapal sewa, penyeberangan ke Samosir dapat menggunakan feri umum di pelabuhan Parapat, saya dengar ongkosnya cuma 3 ribu rupiah.
3. Dek terdepan adalah tempat paling pas untuk menikmati Toba, rasakanlah hembusan angin dan segarkan mata anda dari dek terdepan

_____________________
Beberapa foto diambil dari melancong.com karena dokumentasi pribadi hilang terkena virus

Senin, 16 April 2012

Menjual Kemiskinan di TV

1334866956860713197
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
"Saya nggak tega ngeliat Bapak, udah kerja dari pagi sampai sore cuma dapat 2000 rupiah"
"Ya Tuhan, mudahkanlah jalan Bapak, semoga masa depannya diberi kemudahan...."

Seperti itulah monolog yang mungkin menjadi ciri khas dari acara tersebut. Ya, di acara yang muncul hampir setiap hari, entah menjelang siang atau menjelang maghrib pola yang ditampilkan selalu sama 

"Mahasiswi dari kota yang tinggal selama beberapa hari bersama keluarga yang -maaf- dianggap miskin, atau mungkin kekurangan"

Adakah yang salah dari acara tersebut?

Mungkin dari satu sisi, lebih tepatnya sisi si Mahasiswi, atau lebih fokus lagi dari sisi orang-orang yang "beruntung", beruntung dalam hal ini kriterianya sengaja saya persempit, yaitu beruntung dalam segi:1) Tinggal di Kota, 2) Punya kelebihan harta, 3) Punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, acara tersebut mengajari bagaimana caranya mensyukuri keadaan, berkaca pada kehidupan bahwa diluar sana masih banyak orang-orang yang kurang "beruntung", tentu saja dari sisi harta saja.

Namun, saya pribadi melihat kalao acara tersebut merupakan acara yang mengeksploitasi kemiskinan dalam cara yang salah. Okelah kalau dengan melihat acara tersebut saya bisa banyak-banyak bersyukur dengan apa yang sudah saya peroleh. Dalam sudut pandang saya yang notabene memiliki pendapatan dan kondisi pekerjaan yang lebih baik dari yang ditayangkan di acara tersebut. Saya bisa banyak belajar untuk lebih kuat lagi menghadapi hidup, untuk total dan profesional dalam bekerja, intinya banyak yang bisa saya pelajari.
Lho, saya sendiri bisa banyak belajar darinya koq saya bilang itu acara yang tidak bagus?

Ya memang benar acara itu dapat mengajari penontonnya untuk lebih sabar dalam menghadapi hidup. Saya pribadi juga tidak keberatan untuk mengangkat orang-orang pinggiran dan memberikan gambaran tentang beratnya hidup yang harus mereka jalani. Tapi dalam konsep orang yang diangkat kisahnya tidak mengetahui secara langsung bahwa ada orang-orang di kota sana -orang-orang yang keadaannya lebih baik- yang mampu belajar dari kisah hidupnya, yang menangis prihatin dengan keadaannya, yang iba melihat perjuangganya.

Mengapa narasumber tidak bolehh mengetahui secara langsung?
Begini ilutrasinya.
Saya adalah seorang pedagang baju. Selama ini saya menjalani hidup saya berjualan baju dan saya mampu memberi makan keluarga saya walaupun setiap hari hanya berlauk tempe. Walaupun tidak mampu menabung, tapi hidup saya sudah berjalan seperti itu setiap harinya. Berangkat ke Pasar, berjualan baju, pulang, bawa uang, makan bareng keluarga, tidur. Entah cukup atau tidak, hal itu menjadi urusan internal keluarga saya.

Tapi tiba-tiba, ada orang luar masuk ke keluarga saya, menunjukkan kepada saya betapa hidup saya sungguh menderita dan sengsara. Dia menunjukkan bahwa pekerjaan menjual baju itu sangat repot, penghasilan hanya sedikit, sampai-sampai saya hanya mampu memberi makan keluarga saya dengan tempe. MEnunjukkan betapa hina pekerjaan yang saya lakoni sekarang, membiarkan dia membuka keadaan saya bukan hanya kepada tetangga, namun kepada dunia. Membuat keluarga saya -yang selama ini sudah bersyukur dan menerima keadaan hanya dengan tempe setiap hari- berpikir bahwa mereka menderita dengan keadaan yang mereka jalani selama ini.

Dengan menunjukkan betapa "sengsara" kehidupan yang saya jalani secara langsung, live didepan mata saya, disertai tangisan-tangisan iba yang menangisi kehidupan saya, ini sangat berpotensi menurunkan mental saya dalam menjalani hidup. Saya yang selama ini mungkin sudah bersyukur dengan hidup yang saya jalani, menjadi berprasangka buruk lagi kepada Tuhan, saya yang selama ini sudah bangga menjual baju, bisa berubah menjadi rasa malu karena ada orang yang mengatakan pekerjaan saya hina dan tidak menjanjikan apapun. Keluarga saya yang selama ini ikhlas dengan apa yang saya berikan, mungkin saja berubah dan mulai menuntut saya untuk memberikan lebih.

Ya, dengan cara "pertunjukkan langsung" tersebut, menurut saya ada potensi untuk merusak kehidupan pribadi sang narasumber. Paling tidak dengan beberapa contoh yang saya sebutkan diatas. Kecuali memang acara itu sudah di-skenario-kan.


Seperti yang saya bilang, mungkin akan lebih bijak dan beretika apabila acara-acara semacam tersebut diubah kemasannya seperti acara "hikmah" yang menampilkan rekaman dengan si narasumber dan narasi secara terpisah. Sehingga pesan untuk bersyukur tetap tersampaikan tanpa menyentuh kehidupan pribadi si narasumber secara langsung.

Cuma sekedar usul saja...