Minggu, 03 Maret 2013

Anak Dusun..


Beberapa anak terlihat berlarian, berebut bola, menggiringnya, kemudian menendang, berusaha memasukkan benda bundar itu ke dalam gawang. Badan mereka nampak tegap dan sehat. Sementara yang lain sibuk dengan gundu, bola kasti dan kulit kemiri, atau sekedar berlari-lari menyusuri teras. Sama seperti SD di bagian Indonesia yang lain, seragam putih merah masih setia menempel walaupun banyak yang sudah terlihat lusuh. Ada tas tergantung pada setiap punggung, namun hanya satu dua yang terlihat bersepatu.




08:00 WITA. Pelajaran seharusnya sudah dimulai. Namun karena akses ke Desa yang sangat sulit, wajar bila banyak guru yang tinggal di pinggir –istilah yang dipakai orang Pegunungan untuk menyebut warga pesisir- sering datang terlambat.
 “Pak, masuk kelas enam ya?”

“Masuk kelas empat saja Pak...”

“Pak kelas lima kosong, mengajar kami saja”

“Kapan masuk kelas tiga Pak?”

Permintaan-permintaan itu hanya sempat terbalas oleh senyum. Begitulah keadaan di Rura, murid selalu meminta guru masuk ke kelasnya. Mereka haus pengetahuan. Jangan heran bila ada yang berteriak “Lagi Pak, lagi!!” ketika jam pelajaran sudah habis dan soal sudah selesai dikerjakan.

Benarkah bila ada yang menyatakan semangat belajar di desa terpencil itu rendah? Tidak, mereka justru punya spirit yang jauh lebih tinggi dibanding anak-anak sekolah di kota.

Semangat anak Rura sudah dimulai jauh sebelum langit menampakkan terangnya. Dalam dekapan kabut pagi, mereka sudah berlomba menuju sumur desa untuk beradu kuat dengan dinginnya air dan udara subuh. Tanpa sarapan –sarapan bukanlah kebiasaan warga Rura- mereka segera bersiap dan menunggu datangnya Guru melintas di depan rumah. Terkadang ada yang menghampiri dengan nafas sedikit terengah.

“Tadi Saya lari biar berangkat bareng Bapak”, begitu katanya sambil bergabung dengan kawan-kawannya untuk berjalan dan bernyanyi bersama menuju sekolah.

Namun seringkali keinginan belajar di kelas sedikit tertunda karena Penjaga Sekolah yang belum datang membuka pintu-pintu kelas, atau karena Pak Guru berhalangan hadir, atau karena harus membantu orang tua mencari sappiri (kemiri – bahasa Mandar Gunung) di hutan. Bahkan beberapa bulan lalu karena beberapa kelas sedang direhab, anak-anak harus rela bergantian ruang kelas, atau bergabung dengan kelas lain.

Di tengah kepungan kebun coklat dan suara serangga yang tak pernah putus, anak-anak Rura menuliskan satu persatu huruf dan angka yang menuntun mereka menuju masa depan. Memang masih banyak yang sulit mengeja GAJAH dan menjumlahkan 5+1, namun tangan-tangan mungil mereka selalu terangkat ketika sebuah pertanyaan diajukan. Hingga kelas berakhir, suara lantang mereka tak pernah berhenti menggetarkan kelas. Berebut menjawab semua soal walaupun seringkali jawaban yang diberikan tidak tepat. Namun itulah yang membuat kami bangga. Anak-anak tidaka takut mengungkapkan pendapatnya. Ini yang guru-guru sebut dengan KEBERANIAN.

Tidak seperti murid-murid di kota, tidak ada bermain atau tidur siang sepulang sekolah, tidak ada pula yang namanya pelajaran tambahan. Satu-satunya kegiatan yang harus dilakukan adalah memecah kemiri. Setelah sholat dan makan siang biasanya anak-anak sudah siap dengan petuttu, alat pemecah kemiri yang mirip dengan sendok sayur dari bambu.

“Prek!!...prek!!!...”, suara kulit kemiri yang pecah, kalah beradu dengan batu. Begitu sampai malam menjelang.

Dan saat langit berubah menjadi hitam, segala keriuhan kompak bersembunyi. Meniupkan kesunyian ke seluruh sudut Dusun Rura yang gelap. Belajarkah anak-anak?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Lelah pikiran di sekolah, serta lelah fisik karena kemiri bisa jadi membuat anak-anak sulit menahan matanya untuk tetap terbuka. Lagipula bila masih ada semangat untuk belajar di malam hari, ada hambatan lain yang menunggu. Kegelapan.

Benar, kegelapan. Bila mata dilemparkan ke kalender yang tergantung di dinding ruang tamu, tertulis memang tahun 2012. Namun suasana malam di Rura lebih mirip cerita nostalgia Bapak Ibu saya pada medio ’79-’80-an. Belum ada listrik masuk Rura. Genset? Operasionalnya terlalu mahal menurut beberapa warga. Tidak ada lampu, hanya kaleng bekas susu berisi minyak tanah dengan sebuah sumbu menjulur yang menjadi satu-satunya penghasil cahaya. Belajar malam hari benar-benar menjadi sebuah perjuangan.


Sambil melawan kantuk, ditemani remangnya pelita, terkadang harus terbatuk karena asap yang terhirup Ikram tumbuh menjadi anak yang sangat cepat menghitung perkalian dan pembagian. Maslim bertransformasi dari anak cengeng menjadi Juara Sains Kecamatan. Azis dapat menghafal dan menyanyikan lagu dengan merdu. Lasmi mampu menghasilkan puisi dan lukisan yang indah. Dan Sarni mampu mengembangkan kemampuannya mengitung cepat.

Mereka mempunyai otak yang sama-sama cerdas, cita-cita yang sama tinggi. Walaupun berada di desa yang penuh dengan keterbatasan, selama masih memijak bumi yang sama kerasnya dan berada di bawah langit yang sama birunya, kesempatan yang Allah berikan pastilah sama. Mereka pasti bisa jadi seperti apa yang mereka cita-citakan. Tidak ada yang tidak mungkin bila Dia sudah berkata, Kun.
Rura, 2012

Jumat, 11 Januari 2013

Pak Guru Datang








Menjalani hidup dalam kesederhanaan selama satu tahun, terpencil, tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa akses jalan yang bagus, mungkin tanpa suplai air bersih. Bila itu ditanyakan pada saya lima bulan lalu, dengan lantang saya akan menjawab, “Mungkin ada yang bisa hidup seperti itu, tapi bukan saya”
Tapi kenyataannya? Saya sedang duduk memandang awan dari jendela JT 0788 rute Jakarta-Makassar. Pesawat yang mengantarkan saya meninggalkan tanah Jawa menuju Kabupaten yang namanya saja belum pernah saya dengar semasa sekolah dulu. Hingga mendarat kemudian berpindah ke mobil, saya masih belum berhenti mencari jawaban. Bahkan indahnya putih pasir pantai yang berpadu dengan birunya laut sepanjang Maros-Parepare-Pinrang-sampai Polewali tidak mampu mengalihkan saya.

“Serius? Ini bukan mimpi, kan?”

“Benarkah saya akan melakukannya?”


Sampai akhirnya perjalanan menyusur pantai barat Sulawesi terhenti setelah melewati sebuah gapura, pikiran itu masih belum berhenti mengacau. SELAMAT DATANG DI MAJENE, KOTA PENDIDIKAN. Begitu bunyi tulisan yang mengakhiri 8 jam perjalanan  darat dari total 15 jam perjalanan sejak berangkat dari Jakarta tadi. Sedikit lega, karena sebentar lagi kaki yang tertekuk bisa leluasa bergerak, bau keringat akan berganti dengan wangi sabun, dan perut yang kosong akan kembali terisi. Dengan status “tamu undangan Pemda Majene”, rasa lelah selama perjalanan saya yakin akan segera hilang dengan fasilitas nomor satu yang kami dapatkan. Untuk sejenak, kegalauan teralihkan.

Memang benar, selama tiga hari pertama kami benar-benar dimanjakan oleh Pemda Majene. Dan puncaknya adalah ketika acara pisah sambut di gedung aula Kabupaten Majene yang merupakan acara perpisahan pendahulu kami dan menyambut kami yang baru datang. Satu persatu rangkaian acara dilaksanakan hingga akhirnya acara pisah sambut benar-benar berakhir. Galau kembali datang. Berakhir, artinya mulai detik ini saya harus berpindah dari Kota Kabupaten menuju Dusun tempat saya bekerja untuk 14 bulan ke depan. Dusun yang letaknya lebih dekat ke Mamuju daripada ke Majene. Dusun yang pintu gerbangnya terletak 76 km dari pusat kabupaten, ditambah 8 km menyusuri jalan desa yang terjal. Naik turun melewati gunung, hutan kemiri dan coklat.


Inilah yang menjadi sumber rasa galau yang beberapa minggu ini sering datang. Datang ke lingkungan yang sangat asing, dengan bahasa, adat, dan makanan yang benar-benar berbeda. Sendirian. Dan perbedaan itu hanya dijembatani oleh satu rasa kebangsaan, kami sama-sama BANGSA INDONESIA. Bingung? Sudah pasti. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya masuk ke lingkungan masyarakat? Bagaimana bila begini? bagaimana bila begitu?, dan bermacam “bagaimana” yang lain silih berganti hadir seakan ingin menarik saya untuk kembali menuju bandara. Pulang.

Tapi mobil terus melaju. Bukan untuk pulang, tapi mendekat ke tempat yang pada akhirnya harus saya sebut sebagai rumah, sebagai kampung halaman. Hampir 150 menit mobil berjalan sebelum berhenti di sebuah pertigaan kecil bertuliskan “Tabojo”. Empat motor terlihat datang menghampiri. Beberapa orang mulai memperkenalkan diri, beberapa yang lain dengan sigap mengambil tas-tas saya, menaikkannya ke atas motor, kemudian masuk ke jalan desa, hilang ditelan gerimis dan rimbunnya pohon kemiri. Satu kekhawatiran hilang. Senyum lebar yang ditunjukkan warga yang menjemput di Tabojo mengisyaratkan bahwa warga Dusun Rura sudah siap dengan satu orang asing yang akan menjadi bagian kesehariannya selama 14 bulan.

Berdua menerobos gerimis, Paman Gapri yang ditugaskan membawa saya dari Tabojo menuju Rura dengan sangat lincah mengemudikan motor sambil terus bercerita tentang segala hal yang dia tahu. Cerita tentang warga, anak-anak, keadaan sekolah, suasana kampung, hingga musim durian yang sebentar lagi datang membuat saya tiba-tiba merasa nyaman. Rasa nyaman yang secara perlahan mengikis ribuan “bagaimana” yang sudah menumpuk di pikiran.


“Horeeeee...horeeee....”

Di tengah bunyi air yang beradu dengan daun dan batu, terdengar sorak sorai dari kejauhan. Lama kelamaan teriakan-teriakan itu semakin jelas terdengar.

“Apa itu Paman?”, tanya saya.

“Itu suara anak-anak yang daritadi sudah berbaris menunggu Bapak di sepanjang jalan”

Setelah berjuang menaklukkan satu turunan tajam berbatu, kemudian motor berbelok ke kanan. Dari balik rimbun pepohonan mulai terlihat atap-atap rumah. Beberapa mengeluarkan asap putih, beradu dengan kabut senja yang mulai turun. Perlahan motor mulai mendekati kampung.

Dan ternyata benar. Tanpa mempedulikan gerimis yang semakin deras dan dingin yang mulai datang karena baju yang basah, anak-anak semakin bersemangat berteriak. Menari, bernyanyi, juga melompat-lompat gembira. Berdesakan mendekati motor dan berebut untuk bersalaman kemudian mencium tangan.

“Pak Guru sudah datang!!!, Pak Guru sudah datang!!!”

Dan mereka berhasil memaksa air mata saya keluar, bahkan sebelum saya masuk ke Dusun Rura.
_______________________

Iya anak-anak, Pak Guru sudah datang. Bismillah. Semoga Bapak bisa tetap menjaga senyum itu tetap terkembang di wajah kalian.

Kamis, 20 Desember 2012

Beautiful MAJENE


Kira-kira ini sudah mendekati hari ke 50 saya "bertualang di majene bersama 7 orang kawan yang lucu-lucu diatas. Banyak cerita dan banyak tempat yang sudah dikunjungi, banyak orang pula yang sudah dikenal. ini sebagian yang bisa di "pamerkan".

Ini pantai Dato yang cuma 15 menit dari pusat kota, jadi bila perlu refreshing sedikit, tinggal cari pinjaman motor langsung berenang-renang di Dato.


Kalau dibawah ini foto kakek yang tinggal bareng, dia Bapaknya Ibu angkat saya. Orangnya lucu, mantanpejuang saat perang kemerdekaan. usianya 95 tahun, tapi masih ingat lagu-lagu perjuangan, dan....
Masih kuat naik ke kebun buat cari kemiri.


Ini suasana kelas dimana saya mengajar. anak-anak senang sekali diberi bintang dari karton di dada mereka bila mampu menghafal perkalian atau selesai mengerjakan soal dengan benar.


Ini juga anak-anak kelas enam saat mencoba mengkreasikan sampah menjadi sebuah karya untuk pameran di sekolah.


Ini sunset dari Pantai Dato


ini adalah pohon di gerbang masuk kecamatan yang saya tempati, Ulumanda. Pohon yang persis ada di pinggir jurang, hanya tiga meteran dari jalan, dan selalu menarik perhatian. Kalau melihat suasana dari sini langsung terbayang Film The Lost World, entah kenapa.


Pohon yang sama dalam suasana berbeda.



Ini juga salah satu bagian dari pantai -yang saya sebut sebagai pantai pribadi- di pasir Putih, 15 menit dari dusun yang saya tinggali.

Pemandangan dari pantai yang sama, Pantai Pasir Putih yang sangat sepi dan bersih.



Ini waktu berkeliling menyusur jalan poros Sulawesi, ketika pulang dari mengurus sesuatu di kota. Tidak sengaja berpapasan dengan Elang laut yang sedang mencccari ikan. Wow sekali karena inilah kali pertama melihat elang laut di alam bebas. Dan belakangan saya tahu kalau sarangnya ada di puncak bukit batu di daerah onang, saya sempat bertemu dengan tiga ekor elang laut yang sedang berburu bersama.

Ini durian pertama yang saya belah di Rura, kiriman dari seorang murid yang rela datang ditengah hujan deras demi mengantar duren, mantap.


Demikian dulu, masih banyak yang pengen diceritakan, tapi berhubung internet susah ya dicicil aja lah ceritanya, hehehe.


Rura, 21 12 2012

Minggu, 14 Oktober 2012

Rumah Baruku - Majene #1


Majene, banyak orang mengucapnya –termasuk saya- dengan MaJEne (dengan lafal JE seperti pada kata Jepang). “Bakal dipelototin orang sana kamu nanti”, begitu kira-kira pesan Kak Aline pendahulu saya di Majene. Karena pengucapan MaJEne yang benar adalah MaJEne (dengan lafal JE seperti pada kata Jet) dan ada tambahan huruf “k” tanggung di belakang, jadi seolah berbunyi “Majene(k)”. Majene memiliki arti “berwudhu” atau “bersuci” dalam bahasa Mandar. Memang mayoritas warga Majene adalah muslim. Konon ceritanya dahulu ada orang Belanda yang singgah di Majene kemudian dia bertanya pada seorang lokal yang sedang berwudhu “Apa nama tempat ini?”

Karena tidak paham bahasa Belanda, orang lokal ini menjawabnya dengan “Majene” karena dia sedang berwudhu. Dari situ mulailah daerah ini disebut dengan Majene.

Saya tidak menyangka kalau bakal ditempatkan di Kabupaten Majene, Kabupaten yang kabarnya diproyeksikan jadi Kota Pendidikan dari Provinsi Sulawesi Barat. Di sebuah kabupaten yang dilewati jalan poros Sulawesi. Saya juga belum tahu pasti keadaannya, saya malas mencari informasi. Semua informasi yang saya dapatkan dasarnya adalah informasi lisan dari pendahulu-pendahulu saya.
Majene Cakep Komuniti (Tim kami di Majene)

Entah mengapa saya –dan tujuh orang kawan sepenempatan- tidak terlalu antusias untuk mendalami info tentang Majene. Berbeda dengan kawan-kawan yang ditempatkan di kabupaten lain, mereke seolah sidah paham betul daerah yang akan mereka jelajahi. Ada yang sudah paham tentnag banyaknya buaya yang mengintai di balik eksotisme sungai-sungi di Kalimantan, ada yang mulai bersiap mental akan penolakan warga terhadap pendatang, bahkan ada yang sudah bersiap memborong tissue basah karena tahu di daerahnya akan sulit untuk mencari air mandi. Yang saya tahu, desa yang akan saya tinggali nanti tidak ada listrik, “Harus ke desa bawah buat nge-charge laptop, itu juga pakai genset”. Begitu bunyi pesan Vivi yang nantinya akan saya gantikan.

“Nggak usah bawa smartphone, hp senter aja udah cukup, sinyal susah disini”, tambahnya lagi. Oke, dari awal memang sudah disiapkan buat terbiasa tanpa listrik dan sinyal.

Miris, karena kabarnya desa saya hanya terletak 15 menit ke arah gunung dari Jalan Poros menggunakan sepeda motor. “Motor sendiri?” tanya saya kepada Vivi. “Pinjem warga laaah”, jawabnya dengan nada agak sinis bercanda. “Bapak asuh punya motor koq, orang-orang desa juga nanti fine-fine aja kalau motornya dipinjem”. Ya, Bapak asuh saya adalah adik dari Pak Rasyid, Guru di SD tempat saya mengajar yang jega menjadi Bapak asuh Vivi. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Mandar, mau tidak mau saya harus belajar bahasa Mandar. Kabarnya sudah ada kamus bahasa Mandar yang diterbitkan. Itu wajib dicari.

Calon murid saya? “Monster”, kata Vivi spontan.

Apa?

Tapi Vivi langsung menjelaskannya, “Iya monster, tapi kamu harus ingat kata Pak Munif Chatib, setiap anak itu spesial dan mereka memiliki bakatnya sendiri. Kamu sebagai guru yang harus menemukan dan mengarahkannya”. Oke, logis. Dan memang selama training, itu yang benar-benar di-doktrin-kan dalam pikiran kami. Setiap anak spesial. Mereka terlahir dengan bakat yang dititipkan Allah SWT pada masing-masing mereka.

Yap, semua trainer dalam pelatihan, Ibu Weilin, Pak Munif Chatib, Ibu Elke, Ibu Ruth, Pak Bobby, Om Dik Doank, Pak Yudis, Ibu Sisca, semua menyajikan “Cara Gila” untuk mengajar. Benar-benar gila, gila metodenya, gila peralatannya, gila kreativitasnya, dan yang jelas guru harus benar-benar mau jadi gila demi muridnya. Hasilnya? GILA!!!! Lihat saja nanti.

Cuma 10-15 orang yang bakal memanggil saya “Bapak” dengan imutnya. Karena SD Inpress 22 Rura hanya memiliki sekitar 63 murid. Beruntung kalau saya dapat mengajar banyak kelas, sehingga lebih banyak lagi anak-anak yang bakal saya kenal, yang bakal menjadi tempat saya belajar.

Oke sepertinya itu sudah cukup. Saya tidak ingin mengetahui lebih jauh tentang Majene dari sini. Saya ingin mengetahui Majene dari sana. Langsung dari dalam Majene. Karena kesan itu personal sifatnya, dan saya tidak ingin pikiran saya tentang Majene diracuni oleh kesan, baik ataupun buruk, dari orang lain. Saya ingin membangun impresi tentang Majene dari diri saya sendiri, dari mata saya. Segera saja terbangkan kami ke Majene, kami ingin merasakannya. Secepatnya. Sombong ya? Memang, tapi pesan dari CEO Detik.com semalam, “sombong itu menyenangkan”, hehe.

Majene, semoga menjadi tempat saya berwudhu. Menjadi tempat dimana saya mensucikan diri saya dari apapun yang bakal merusak sholat saya.

Sebuah tempat di tepian Bandung #2 : Sederhana


 

Setelah semalaman beristirahat dalam balutan hangat selimut tebal di sudut ruang tamu rumah panggung, pagi ini aktivitas saya mulai dengan nongkrong di “gazebo”, melakukan aktivitas alamiah saya. Walaupun semi outdoor, namun karena itulah satu-satunya MCK yang bisa saya temui, dengan terpaksa saya menikmatinya. Tentu dengan berbagai cara, bagi yang sudah terbiasa atau pernah mengalami bagaimana harus berkegiatan di gazebo ini pasti bisa mandi dan buang air dengan nyaman tanpa masalah. Tapi bagi yang berasal dari kota besar? Ini menjadi tantangan tersendiri. Alasan malu lah, tidak terbiasa lah, pokoknya ada saja yang diungkapkan untuk meratapi keadaan. Maka muncul beberapa ide untuk menutup sebagian WC dengan sarung, mandi dengan pakaian lengkap, atau yang lebih realistis melakukan aktivitas mandi dll disaat hari masih gelap, disaat hawa dingin masih menusuk-nusuk.

Selesai dengannya, kami melakukan upacara. Nasionalisme itu penting!! Begitu katanya, saya sih hanya ikut-ikutan. Biar tidak dihukum, hehe. Selesai, lalu kami digiring menuju lokasi yang lebih tinggi dan lebih “liar”. Ya, di lokasi yang baru mungkin hanya kami yang bisa disebut sebagai “peradaban”. Tidak ada rumah. Yang ada hanya pohon, sungai, suara serangga, mungkin babi hutan.

Di tengah rimbun pohon pinus, kami belajar tentang kesederhanaan. kami belajar akrab dengan alam. Makan dengan bahan yang tersedia alami di alam. Belajar menaklukkan ular –dengan merinding dan takut-takut-. Belajar tentang bagaimana harus bertahan dalam kondisi minimal dan yang paling penting saya harus merefleksi arti hidup yang sebenarnya. Berada dalam kepungan rasa sepi, jenuh, marah, dan lelah yang bercampur di tengah segala yang serba terbatas membuat saya malu atas kutukan-kutukan yang selalu saya keluarkan dengan mudah di tengah kemudahan-kemudahan yang selama ini saya rasakan.

Dalam dingin kabut yang menggelayut di setiap malam hingga pagi menjelang, saya dipaksa untuk mengucap syukur yang selama ini terlalu berat untuk keluar, meski hanya lewat ucapan. Bentangan alam yang tersaji tepat di depan mata menjadi cermin besar untuk kembali meresapi ciptaan dan kekuasaan Allah SWT yang hampir terlupa, tergantikan oleh layar-layar kesibukan dunia.

Ternyata kami hanyalah sebuah titik kecil tiada arti dalam panggung hidup ciptaan-Nya. 52 manusia kota yang sombong berhasil dipukul dengan telak hanya oleh sulitnya buang air tanpa air, oleh sulitnya mencari tempat sholat yang “layak” menurut standar yang kebiasaan kami, oleh sulitnya mencari makanan “enak”, oleh sulitnya mendapatkan tempat tidur yang nyaman, oleh kesulitan-kesulitan sederhana yang hanya kami anggap “urusan pembantu” bila kami ada di kota. Kami dipaksa utnuk ikhlas. Tidak banyak menuntut dari alam, dari yang Allah sudah sediakan.

Penyesalan. Itulah yang saya rasakan. Ternyata sudah banyak waktu yang telah saya habiskan tanpa makna, tanpa adanya “karya besar” yang tidak hanya memuliakan diri namun juga mampu memuliakan orang lain. Saya terhanyut oleh rayuan dunia yang menggiring saya untuk jadi manusia rakus yang mencari semua kesempatan, mendapatkan semua hal, dan menerima semua pujian. Seandainya waktu dapat saya putar, saya ingin mengulangnya kembali.Ingin saya berikan lebih banyak kebahagiaan yang saya terima untuk orang lain. Ternyata Allah sudah memberikan jauh, jauh, dan jauh lebih banyak dari yang saya butuhkan.

Sok suci. Sok alim. Sok humanis. Mungkin “pujian” seperti itu yang akan saya dapatkan selanjutnya. Namun bukankah itu lebih “membumikan” dibanding pujian-pujian palsu berbalut kepentingan?buat saya pribadi kritik pedas dan cemoohan merupakan pemberi energi terbesar yang memaksa tubuh untuk segera bergerak. Walaupun saya juga tidak bisa memastikan bahwa jalan yang saya ambil bakal tetap lurus, namun saya akan selalu berusaha dan berharap Allah menjaga saya. Karena hanya di tangan-Nya hati ini bisa saya titipkan dengan aman.

(besambung)

Sebuah tempat di tepian Bandung #1

Yang ekspresinya paling aneh, itu saya

Ternyata sudah lama saya melupakan blog ini sejak terakhir memutuskan untuk membagi cerita kehidupan –terutama cerita jalan-jalan-. Memang sejak tulisan terakhir saya disibukkan dengan kegalaluan hati untuk melanjutkan kehidupan yang akhirnya mengarahkan saya untuk menjalani pilihan menjadi Pengajar Muda dari Program Indonesia Mengajar. Awalnya memang ada motivasi pribadi yang menguntit, tapi seiring berjalannya waktu dan hasil berbagi dengan banyak orang hebat, semoga saya masih mau untuk berusaha me-lempeng-kan niat.

Pelatihan itu dimulai tanggal 10 september 2012. Kami ber-52 datang dari penjuru nusantara ke Kantor IM di daerah Blok M. Dua hari kami diinapkan di Wisma Handayani milik Depkes RI di Fatmawati untuk kemudian melanjutkan training outdoor bersama Wanadri di sebuah bukit di Sumedang –Gunung Kareumbi kalau tidak salah, markas dari Wanadri-. Sehari kami menginap di dusun Cigumentong yang sangat sederhana.

Hanya ada 17 rumah disana yang telah dihuni secara turun-temurun, bahkan beberapa sudah kosong. Kalau digambarkan seperti ini kira-kira: rumah paling depan adalah rumah ketua RT, kemudian terdapat sebuah balai di sampingnya yang cukup untuk menampung 50-an orang. Kemudaian ada lapangan yang lumayan besar yang dikelilingi sekitar 6 rumah warga dan satu masjid. Saya menduga daerah itu adalah pusat kampung karena daerah itulah yang paling datar, disamping adanya lapangan dan masjid tentunya. Sementara rumah-rumah yang lain berderet naik memenuhi lereng perbukitan, tidak terlalu tersebar, namun tidak pula terlalu padat. Nampak beberapa kolam ikan, karena air cukup lancar mengalir ke desa ini. Juga ada beberapa kandang kambing serta tanaman sayur mayur di samping rumah. Hiaju, sejuk, dan dingin, itu yang menggambarkan Cigumentong.

Beberapa rumah terlihat kosong. Katanya sih sudah dibeli oleh orang-orang dari kota. Hanya beberapa rumah yang memiliki lampu walau hanya seterang lampu senter LED, lampu neon hanya ada di Mushalla kampung. Sebetulnya ada generator mikrohidro dan beberapa rumah memiliki pembangkit tenaga surya bantuan pemerintah, namun sedang tidak berfungsi. Pembangkit mikrohidro hanya berfungsi jika debit air cukup besar untuk memutar turbin, sedangkan beberapa pembangkit surya menurut informasi warga sudah mulai rusak. Jadi menurut cerita malam ini kami harus bergelap-gelap ria bila tak membawa senter. Sinyal? Jangan harap ada, tapi komunikasi terasa lebih intim di sini. Tanpa handphone. Itu point pentingnya.

Kami tinggal di rumah yang menghadap langsung lapangan kampung. Rumah panggung yang memang mendominasi struktur bangunan di Desa Cigumentong menjadi tempat beristirahat kami semalam kedepan. Dua buah kolam ikan besar di belakang rumah berhias beberapa “gazebo” yang akan menjadi kamar MCK kami. Berlatar perbukitan hijau yang menawarkan hawa sejuk –dingin tepatnya-, kami mencoba mengakrabkan dengan warga Cigumentong yang kebanyakan bertani dan berkebun. Memang jelas terlihat di kejauhan sana kebun sayur yang membentang luas di tengah kepungan bukit-bukit yang agak kering karena kemarau.

Sejenak beristirahat, ternyata Ibu sudah menyiapkan sejenis kerupuk yang masih mengepul hangat. Sangat cocok dinikmati sambil menunggu memerahnya langit yang ditinggal matahari. Langsung saja kami hajar kerupuk itu –saya tak tahu namanya karena Ibu menjelaskannya dalam bahasa Sunda-, dan dalam waktu sekejap kosonglah toples besar menyisakan bekas minyak. Biarlah kami dikata rakus, tapi ini beralasan karena sejak awal perjalanan dari Jakarta pagi tadi kemudian turun di Bandung yang dilanjut dengan sejam ber-angkot plus jalan kaki juga selama satu jam lebih tak ada logistik yang masuk ke perut. Dan rupanya memang kerupuk itu hanya pembuka. Tak lama berselang Ibu membawakan kami sebakul nasi yang begitu wangi berhiaskan kepulan asap yang membangkitkan selera. Setelah itu muncul secara berururtan sayur lodeh, ikan asin, sambal, dan lalapan. Sunda banget, pikiran saya berkata. “Dari kebon sendiri dhek”, kata Ibu.

Tak perlu berbasa basi lagi, piring berdentang, gelas bertubrukan, sendok bergemerincing. Kami makan. Habis. Kenyang.

Sambil mengistirahatkan perut yang penuh, dari balik pintu tengah, ekor mata saya menangkap sosok seorang anak kecil yang daritadi memperhatikan kami. Anak Bapak asuh kami yang baru menginjak kelas empat SD. Dengan malu-malu dia memperkenalkan diri, sedikit tersenyum. Berbasa basi sebentar sebelum akhirnya saya memintanya mengantar ke pembangkit mikro hidro yang tidak berputar gara-gara kurang air. Menembus gang sempit diantara rumah warga, menuruni bukit kecil yang berhiaskan tanaman kol untuk kemudian naik menuju sebuah gubuk permanen yang melindungi generator. Sebentar mengamati kemudian pulang karena adzan maghrib sedah terdengar dari kejauhan.

Gelap mulai datang, deru genset dari masjid juga terdengar sangat jelas. Malam menggelayut, kami berjamaah di masjid. Selesai sholat, beberapa anak mulai datang membawa iqra dan juz amma. Karena Pak Kyai belum datang, saya dan beberapa teman mencoba memfasilitasi mereka mengaji. Bintang-bintang terlihat sangat indah di luar sana. Langit yang bersih, tenang, dan tanpa gangguan cahaya lampu membuat saya terhenyak. Seumur hidup, itulah pertama kalinya saya melihat bintang begitu banyak.

Di tengah kepungan bukit, di dalam kegelapan, di temani nyanyian alam berhiaskan taburan bintang yang tak pernah lelah berkelip, dalam dengung anak-anak yang mengaji, saya menikmati tenangnya Cigumentong. Sunyi dan diam namun menentramkan. Tak ada foto, karena saat itu kamera dan seluruh gadget tidak boleh digunakan. Namun tanpa gadget bukan berarti tak bisa bercerita kan?.

(bersambung)

Minggu, 22 Juli 2012

Perjalanan Ramadhan /2 : Angka Keramat 03:10

 

 
03:10 am

“biiiip biiip biiip”

Alarm berbunyi. Alarm sudah lebih dari sepuluh bulan terpasang dalam angka 03:10 pagi. Angka keramat yang diberikan Pak Saiful untuk saya. Seorang sopir proyek asal Bekasi yang mengajarkan bagaimana caranya bangun untuk tahajud.

Saya bertemu Pak Saiful pertama kali ketika beliau mengantar saya menuju kantor proyek dan ternyata kami detempatkan di mess yang sama. Ketika itu saya masih sangat sulit menyempatkan diri untuk bangun walaupun hanya sekedar untuk sholat subuh di Masjid. Setiap hari, padatnya pekerjaan hampir pasti berakhir dengan lembur sampai pagi. Rutinitas yang hingga akhirnya membentuk kebiasaan mengakhirkan sholat subuh demi mencukupi kebutuhan tidur.

Tinggal bersama lima hari dalam seminggu membuat saya mengenal kebiasaan-kebiasaan Pak Saiful, termasuk tahajud yang rutin beliau kerjakan setiap hari. Pola yang beliau buat adalah seperti ini, bangun jam 03.00, tahajud, sholat taubat, kemudian dilanjutkan dzikir sampai subuh. Yang jelas, ketika Pak Saiful bangun, seringkali bertepatan dengan saya selesai lembur.

Suatu pagi setelah lembur mempersiapkan rapat mingguan, saya telat bangun. Sholat subuh baru saya kerjakan pukul 06:15. Sejak saat itu, saya berpesan pada Pak Saiful untuk membangunkan saya ketika hendak jamaah subuh. Diproyek memang hanya beberapa orang yang rajin ke Masjid, beberapa memilih sholat sendiri, tapi lebih banyak yang tidak mengerjakan sholat.

Namun pekerjaan membangunkan Subuh hanya dilakukan Pak Saiful selama tiga hari. Selanjutnya beliau berpesan:

“Mas, kalau mau terbiasa bangun Subuh sebaiknya pasang saja alarm. Terus supaya tidak tidur lagi setelah mematikan alarm, bangunlah (duduk atau berdiri) seketika bersamaan dengan terbukanya mata untuk pertama kali. Insyallah tidak lebih dari sebulan nanti sudah terbiasa bangun subuh”

Kemudian beliau mengambil handphone saya dan menyetel alarm pada angka 03:10. “Biar sekalian belajar tahajud” tambahnya. Dan selama sebulan lebih saya selalu dipaksa bangun pada waktu tersebut. Beberapa kali berhasil, namun lebih banyak gagal. Namun sejak saat itu, walaupun sering terlewat untuk tahajud, subuh di masjid sudah hampir pasti terkejar.

Cara Pak Saiful inilah yang kemudian membuat saya mengerti kenapa selama sebulan dibulan Ramadhan kita diperintahkan untuk menahan lapar, memperbanyak ibadah, dan mengurangi tidur. Waktu satu bulan merupakan rentang yang cukup untuk menyetel ulang jam biologis tubuh. Memaksa tubuh untuk menerima dan terbiasa dengan kegiatan-kegiatan baru.

Yang sulit untuk bangun malam dipaksa terbiasa dengan waktu makan sahur yang berakhir tepat sebelum adzan subuh. Yang tidak pernah sholat sunnah, digembleng dengan tarawih yang pahalanya setara sholat wajib. Yang tidak bisa menahan diri, diharamkan untuk menyentuh makanan, minuman, mencampuri istri, marah, dan sebagainya sampai waktu berbuka tiba.

Ramadhan yang penuh dengan “paksaan” dan “larangan” sebenarnya hanyalah sarana untuk membentuk sebuah kebiasaan baru. Kebiasaan yang akan melahirkan rutinitas ibadah baru pada bulan-bulan setelahnya. Walaupun pastinya tidak semua bisa terlaksana persis seperti saat Ramadhan, tapi setidaknya ada beberapa rutinitas Ramadhan yang tersisa. Mungkin hanya kebiasaan bangun malam atau hanya kebiasaan sholat sunnah. Seperti pelajaran “tahajud” yang hanya tersisa “subuh di masjid”, Ramadhan pasti akan memberikan bekasnya.

Seperti sebuah ungkapan
“Karet yang direnggangkan pasti akan kembali memendek, namun dia pasti menjadi lebih panjang dari sebelumnya meski hanya seujung kuku”