Rabu, 29 Desember 2010

Berhenti sejenak, merenung

Saat terjebak dalam rutinitas , seringkali membuat otak kita buntu dan malas untuk berpikir. Rutinitas telah membuat kotak tersendiri di dalam otak, sehingga tindakan kita cenderung hanya mengikuti apa yang sudah ada tanpa mau melakukan perubahan. Dan pada akhirnya membentuk sesuatu yang disebut “Kebosanan” karena otak kita sudah terlatih dengan pola “Lets Do the Job”.

Pola “Lets Do the Job” menjadikan kita hanya melakukan sesuatu yang sama berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan memiliki kemungkinan untuk melakukan kesalahan yang sama seperti para pendahulunya.

Pernahkah kita meluangkan waktu kita untuk sekejap berhenti sejenak dari rutinitas untuk berpikir dan merenung???

Luangkan waktu 5-10 menit setiap hari untuk berpikir dan merenung. Tempatkan diri di posisi lebih tinggi untuk melihat lebih luas. Biarkan imajinasi berkembang melebihi batasnya, kembalilah ke imajinasi kekanak-kanakan, hilangkan semua batas dan kotak yang membelenggu otak. Pikirkan hal-hal yang tidak mungkin. Melihat film kartun, membaca komik strip, mencari gambar2 lucu, akan membuat perasaan senang dan mereduksi kemungkinan stres.

Dengan memikirkan hal-hal imajinatif, maka otak akan menjadi kreatif, sehingga apabila dihadapkan pada persoalan rutin, otak mampu mencari pemecahan yang baru dan lebih efisien…

Maka biarkanlah imajinasi berkembang, pertahankan jiwa kekanakanakan di dalam diri anda…


Rabu, 15 Desember 2010

Negara ini masih ada karena orang-orang kecil

Ramainya perseteruan antara pegnuasa pusat dan sultan tampaknya menggoyah persatuan dan kesatuan Indonesia yang dari jaman saya kecil diperkenalkan sebagai Bhineka Tunggal Ika. Sejak reformasi bergulir, nampaknya negara kita mengarah pada kebebasan yang benar-benar bebas. Bebas tak terarah. Akibatnya banyak terjadi konflik kepentingan, perbedaan antara visi pemerintah pusat dan daerah, pilkada yang menghabiskan banyak uang rakyat dan sebagian besar beujung di meja hijau ditambah korupsi yang makin gila.

Sekian banyak konflik dan masalah yang ada seharusnya sudah membuat negeri ini hilang dari peta dunia. Indonesia sudah tidak eksis lagi.

Apakah yang membuat negeri ini masih berdiri sampai sekarang???tentunya bukan mereka yang terhormat yang menikmati kursi-kursi empuk disana. Naegeri ini masih layak disebut sebagai negeri karena kesetiaan orang-orangyang tekun dalam pekerjaannya yang mungkin dalam keseharian kita lihat sambil lalu saja.

Para Pegawai Negeri Rendahan yang setia untuk mengurus administrasi warga di tingkat kelurahan. Pekerja arsip negara. Polisi rendahan yang dengan disiplin menangani kasus-kasus pencurian ayam. Matri kesehatan yang setia melayani masyarakat walaupun mungkin buat makan saja dia susah. Guru honorer yang hanya dijanjikan SK PNS yang setia mengabdi mengajarkan “dunia” pada anak2 bangsa ini.


Belum lagi para OB,tukang kebun, pesuruh gedung pemerintahan yang selalu memastikan bapak2 yang terhormat bekerja dengan nyaman  (bukan bekerja dengan baik). Polhut dan Penjaga perbatasan yang mau memastikan keamanan negara ini walaupun keamanan perut keluarga belum jelas.

Ya karena mereka2 inilah -forgotten person- sampai sekarang, walaupun negeri ini seakan adalah negeri masalah, namun nama Indonesia masih bisa kita saksikan di dunia. Karena mereka yang selama ini kita remehkan -mungkin pernah kita hujat- yang setia dengan pekerjaannya, jujur, dan mampu mengemban amanah yang diberikan padanya dengan baik, negeri ini masih bisa disebut sebagai sebuah negara mandiri. Seharusnya mereka2 inilah yang menempati pucuk2 pemerintahan di negeri ini.

Semoga………..

Berebut Tiket Indonesia vs Filipina

“Berita buruk, kita kehabisan tiket…”

Begitu kira-kira pesan yang masuk ke HP pagi tadi. Hmm, sepertinya tiket pertandingan Timnas Indonesia menjadi barang yang paling diburu untuk mingu2 ini. Buat pebola sejati, faktor penariknya tentulah prestasi Timnas di Piala AFF 2010 yang dibilang luar biasa. Luar biasa disini artinya diluar kebiasaan, yang biasanya main jelek, saat ini  bagus, yang biasanya kalah, sekarang menang. Inilah yang membuat bolamania Indonesia rela antri untuk bisa menyaksikan cantiknya permainan timnas secara langsung

Naah menariknya di piala AFF kali ini, ada juga penggemar bola dadakan yang ikut menghabiskan jatah 70 ribu tiket yang disediakan panitia. Siapa lagi kalo bukan para wanita yang kepincut dengan Bachdim??mereka juga rela mengantri buat menyaksikan langsung idolanya -bukan timnas-, walopun sebenarnya saat menonton langsung wajah sang idola tidak kelihatan.


Animo menonton yang begitu besar menjadikan Stadion Utam GBK menjadi stadion dengan atmosfir yang begitu dahsyat. Sensasi menonton langsung dengan sorak sorai yang mengelegar seakan-akan menjadi charger untuk terus berteriak-teriak mendukung Timnas.

Namun, apakah atmosfir ini cuma akan terjadi sesaat???mampu ngak sih PSSI mempertahankan bahkan menaikkan prestasi timnas???

Hanya berbekal kemenangan di fase group, langsung saja menetapkan target untuk lolos PD 2014. Untuk membuat timnas yang solid bukan perkara mudah, dan yang pasti diperlukan pembinaan pemain muda yang bagus dan berkelanjutan. Naturalisasi yang sekarang ada hanyalah solusi jangka pendek, kalo dilihat umur “el loco” yang sudah berkepala 3. Lolos ke kompetisi sekelas PD bukan hanya tanggung jawab Riedl dan Timnas.

Semoga timnas besok menang. Saya dukung Timnas, dan semoga PSSI cepat sadar.

Besok saya akan datang mendukung Timnas Indonesia, bukan PSSI walaupun harus berburu tiket ke calo…

Minggu, 12 Desember 2010

Ramainya CPNS

Pagi ini, walaupun hari minggu,namun lalu lintas terlihat padat. Di beberapa daerah ternyata sedang dilangsungkan tes seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil. Beberapa teman mengirim pesan ke saya meminta doa agar sukses menjalani ujian dan bisa diterima sebagai PNS.

Mengapa di setiap seleksi CPNS dilaksanakan peserta yang mendaftar amat sangat mebludak??bahkan ada yang sampai koefisien pembandingnya 20:1 yang berarti 1 kursi PNS diperebutkan oleh 20 orang. Attractive apakah yang dimiliki PNS sehingga semua orang berebut mendapatkannya??bahkan ada teman yang rela resign dari pekerjaan yang dilakoninya sekarang demi mengejar cita-citanya menjadi PNS.

Memang di Indonesia status sebagai pegawai swasta masih kalah jauh gengsinya dibandingkan dengan PNS. Orang tua akan merasa sangat bangga apabila anaknya menjadi pejabat di suatu departemen pemerintahan. Apakah salah??


Tapi 20:1??apakah itu tidak terlalu over capacity??pemerintah seharusnya menaruh perhatian pada hal ini.
Persaingan yang sebegitu ketat menunjukkan bahwa lapangan kerja yang tersedia di negara ini masih sangat sedikit. Orang berbondong2 masuk menjadi PNS karena yang kebanyakan kita tahu, ya cuma itu peluang kerja paling banyak tersedia. Kemudian masalah kesejahteraan, teman saya mengatakan enaknya jadi PNS adalah karena masa depan yang terjamin, adanya tunjangan kesehatan, rumah tangga, dll, dan yang paling penting adanya dana pensiun. Ini membuat banyak orang memilih menjadi PNS ketimbang pegawai swasta yang bila dilihat dalam jangka panjang lebih “tidak jelas” masa depannya.

Apabila dilihat secara makro, terlihat keengganan para pelaku usaha besar untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Mereka tidak salah, karena pemerintah tidak bisa menciptakan iklim usaha yang kondusif, sehingga pengusaha besar enggan berinvestasi dalam jangka waktu yang lama, paling lama mungkin hanya 5 tahun. Sehingga mereka berusaha mencari untuk sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat dan berakibat pada kesejahteraan karyawan yang terabaikan.

Selain itu, iklim untuk berwirausaha juga tidak kondusif disini. Birokrasi yang sulit, urusan perijinan, dan sebagainya, membuat para pencari kerja juga hanya berorientasi untuk menjadi karyawan saja, main aman kalo meminjam istilah para enterpreneur.

Beberapa negara maju membuktikan bahwa mereka bisa kuat karena prosentase pengusaha penduduknya besar. Tentu saja ini didukung dengan iklim usaha yang baik, dan salah satunya dikarenakan stabilnya pemerintahan.

Semoga pemerintah segera sadar dan berhenti meributkan sesuatu yang “urgen tapi tidak penting”.

Jumat, 10 Desember 2010

Apa yang akan kita lakukan untuk bangsa ini?

Melihat kondisi Indonesia sekarang ini, mungkin banyak orang yang merasa dikecewakan. Pemerintahan yang saling lempar masalah, hukum yang lemah, pertahanan negara yang buruk, masyarakat yang miskin, kesemrawutan, dan masih banyak lagi.

Namun, apakah kita akan terus terusan mengeluh tanpa melakukan tindakan untuk memperbaiki negara ni?

Sempat terpikir untuk kabur dan memilih untuk pindah kewarganegaraan, tapi, dibalik kecarut-marutan yang ada disini, terlalu banyak alasan untuk tetap ada di sini.
Kesenian, Budaya, alam yang indah, keluarga, masyarakat, teman, apakah bijak menjadi egois disaat semua yang kita sayangi sedang terpuruk??

Dan pantaskah kita hanya ikut menggerutu dan tidak berusaha merubah keadaan yang mampu kita ubah???

Mungkin terlalu muluk bila bercita-cita memperbaiki negara ini, namun tidak salah kan kita berusaha memperbaiki apa yang ada disekitar kita agar nyaman untuk kita dan orang2 yang kita cintai???

Rabu, 08 Desember 2010

Belajar dari Olahraga

Sebelas pemain dengan satu visi -MENANG- memberikan energi yang luar biasa kepada seluruh penonton yang hadir di GBK. Penonton tanpa kenal lelah berteriak, bernyanyi, menari, untuk memberikan dukungan kepada 11 pemain yang berlaga untuk mengalahkan Thailand. Mereka terus memberikan dukungan tanpa kenal lelah, meskipun pada saat tertinggal 0-1.

Semalam benar-beran saya rasakan kebanggaan sebagai rakyat Indonesia di tengah-tengah merahnya GBK. Untuk pertamakalinya saya menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh semangat dan kebanggaan.
Seandainya para pemimpin kita punya satu misi, satu pendapat, dan kompak dalam bertindak, pasti rakyat akan mendukung sepenuhnya,,,,

Kapan ya????

Rabu, 19 Mei 2010

Malaysia Day 2 : Perlis-Arau-UUM

Yap, delapan jam sudah sejak mata saya terlelap. Menjelang subuh tadi saya bangun, subuh disini sekitar jam 5:50. Dari sehabis sholat, mata saya tak bisa terpejam lagi, karena di sekitar sudah terlihat agak terang, maka saya dan Heru -teman sebelah saya- memutuskan untuk melihat-lihat pemandangan pedesaan Malaysia.
 Menikmati pemandangan

Ya, diluar kota KL, Malaysia terlihat sama persis dengan Indonesia, hamparan sawah, bukit-bukti berjajar, hanya warna tanah disana agak sedikit putih, Dan yang berbeda, jalan raya yang mendampingi kami bagus dan mulus, mobil-mobil melaju dengan lancar disana. Walaupun saya pikir saya sudah berada di pinggiran Malaysia, namun infrastruktur terbangun dan terawat baik. Di sebelah juga terlihat sedang dibangun sebuah rel tambahan untuk double track.

Tepat jam 9:00 waktu Malaysia, atau pukul 7:30 waktu Indonesia, kereta tiba di stasiun Arau. Kota kecil yang merupakan Ibukota kerajaan Perlis. Karena dari kemarin sore perut hanya diisi oleh Nasi Kare di KLCC, rasanya perut sudah nggak kuat lagi menahan lapar. Kebetulan ada warung makan yang buka di depan stasiun. Warung yang mirip warteg, namun isinya bermacam makanan khas Malaysia.

Setelah sedikit "berbual" dengan pemilik kedai, saya tertarik dengan seseorang yang sedang makan nasi, tapi berwarna biru. Saya tanya ke Ibu, apa nama makanan itu, beliau bilang itu nasi kerabu. Dari wikipeia.org :
 Nasi Kerabu

Nasi kerabu adalah makanan khas Malaysia berupa nasi berwarna kebiruan. Pewarna biru untuk nasi berasal dari kelopak bunga kembang telang. Kerabu berarti campuran daun-daunan mentah (ulam). Aroma nasi kerabu berasal dari daun rempah yang diiris halus, seperti bunga kecombrang, daun kesom, daun kadok, daun pegagan, daun kunyit, atau daun kencur. Nasi kerabu berbeda dari nasi ulam yang tidak berwarna biru.[1]
Nasi kerabu dihidangkan dengan lauk seperti ikan asin goreng, kelapa parut, ayam goreng, ayam percik, tauge, cumi-cumi, solok lada, telur asin, atau kerupuk. Sebagai penyedap adalah saus ikan bilis yang disebut budu.

Pagi itu saya memilih nasi kerabu ditemani ikan sardin. Wah ternyata rasanya nikmat, terutama aroma rempah yang kuat. Wanginya tidak membuat air liur menetes, namun membuat rileks, wangi mirip aromatherapy. Sambil menunggu bis jemputan dari UUM -Oh iya, kami ke datang ke Malaysia atas undangan Universitas Utara Malaysia- , saya dan Ansyor memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan menikmati suasana pagi. Berjalan sedikit ke timur, kami bertemu dengan Masjid Negeri Perlis, diseberangnya adalah Istana Raja dan kalau nggak salah ada pemakaman keluarga raja (lupa nggak difoto).
____________________

Dari Arau ke UUM memakan waktu sekitar 45 menit. Pemandangan sepanjang jalan mungkin  mirip track Jakarta-Bandung via Tol Cipularang. Nggak ada yang spesial, hanya nampak kampung-kampung khas malaysia di kejauhan.

Pernah nonton upin-ipin? ya seperti itulah Malaysia diluar KL, sangat sederhana, namun tenang, dan suasana Islami kental terasa.

____________________

Kami menginap di DPP SME-Bank, semacam asrama mahasiswa di Indonesia sini, namun, jangan bandingkan fasilitasnya. Selain terawat baik, fasilitas pendukung asrama sangat memadai. Lapangan basket, lapangan futsal, lapangan tenis, lapangan bola, kantin dan bussiness centre, masjid, bank, tersedia lengkap, rapi, bersih, terawat, dan semua jelas berfungsi. Itu baru di satu kawasan asrama.Dan semua itu free.

Nampang di lapangan bola

Karena kecapekan, hari ini diputuskan untuk sekedar berpusing-pusing saja di kompleks asrama. Sore hari saya habiskan dengan jogging dan basket, karena kebetulan ada yang sedang bermain basket, dia perkenalkan dirinya sebagai Ma, dari Guangzhou, China. Kami bermain sekitar 1 jam, dan mejelang maghrib dia berpamitan dan mengajak saya untuk bertemu lagi di masjid setelah Maghrib nanti.

Setelah Maghrib, ternyta Ma mengajak saya untuk ikut mendengarkan pengajian. Inilah yang saya bilang lingkungan di Malaysia terasa sangat Islami. Adanya pengajian rutin sehabis maghrib, dan sepertinya memang sudah menjadi budaya disana bahwa sehabis maghrib harus mengaji. Tak ada orang yang terlihat berkeliaran di luar sampai isya menjelang. Maghrib disini sekitar pukul 18:30, dan isya mendekati pukul 20:00. Oh iya sebagai tambahan, di Malaysia, khususnya UUM, weekdays itu dimulai haris sabtu, dan jum'at adalah hari libur. Sangat Islami.

Setelah makan malam di foodcourt asrama, kami memutuskan untuk beristirahat karena padatnya acara esok hari.
____________

Tips Day 2:
1. Jika ingin makan, pesanlah makanan khas daerah tersebut, makanlah, apapun rasanya.
2. Jika ada jadwal menunggu, entah jemputan entah jadwal bus, usahakan untuk berkeliling, mengenal daerah sekitar.
3. Berkenalan dengan orang lokal atau siapapun, kadang rekomendasi tak terduga datang dari interaksi dengan penduduk lokal.