Langit pagi Burangrang
Jumat, 28 oktober 2011.
14:28
Terakhir mendaki kalau tidak salah sekitar tahun 2003, kalau tidak salah
malam itu adalah malan Final Liga Champions AC Milan vs Juventus. Saya
yang masih bocah SMP ingusan dan 7 teman saya memutuskan untuk merayakan
kelulusan kami dengan mendaki dan nge-camp di gunung-gunung, atau
mungkin bukit-bukit yang berderet rapi menghiasi kota kami.
Banjarnegara.
**************
24 Oktober 2011
“Jadi nggak nih?”
“Gw pegang omongan lw, jangan sampe berhenti di niat doang”
Kata-kata seorang manajer senior di Kantor tempat saya bekerja.
Kata-kata itu seolah menjadi tantangan bagi saya untuk membuktikan kalau
saya masih kuat mendaki. Pak Djo, begitu beliau biasa kami panggil.
Seorang penggiat alam senior -ini baru saya ketahui belakangan- begitu
girang saat saya menanyakan padanya “Kapan kita naik Pak?”
Dengan semangatnya, beliau menyiapkan semua keperluan pendakian. Dari
mobil, tenda, sleeping bag, matras, carrier, semuanya. Hal itulah yang
membuat saya dan kawan-kawan menjadi pekewuh (tidak enak) jika tiba-tiba
urung untuk mendaki.
“Apa sih yang nggak bisa buat seorang manajer?” katanya bangga.
***********************************
28 Oktober 2011
Berbekal dua buah mobil dari kantor, kami ber 6 (Saya, Pak Djo, Wira,
Wiar, Wiwik, Risky) dan dua orang rekan Pak Djo (Keling dan Igo)
berangkat menuju Cimahi. Kalau tidak salah kita berangkat menuju desa
Cibolang.
Keluar Tol Pasteur, untuk mengisi tenaga sebelum naik, kami sengaja
mengisinya dengan Tongseng Kambing. Mantap rasanya, ditambah hujan deras
yang mendinginkan suasana. Namun ditengah nikmatnya tongseng, kami
berharap hujna ini segera mereda agar pendakian berjalan lancar.
Sehabis magrib, sampailah kami di rumah Pak Khotimun, ketua RW dan tokoh
senior di Desa. Teh hangat dan singkong goreng menyambut kami malam
itu. Setelah sedikit berbasa-basi dan sampir pengechekan akhir peralatan
mendaki, kami pun berpamit untuk segera memulai pendakian. Tentu saja
setelah adanya nasehat2 dari Pak Khotimun.
20:22
Pendakian kami mulai. Berawal dari Bukit Mati. Itu yang dikatakan
pemandu kami. Saya tidak tahu mengapa dinamakan demikian, menurut saya
sih karena ada makam di dasar bukitnya. Makam sesepuh desa, kata Pak
Khotimun tadi.
Karena tim terdiri dari pendaki-pendaki senior yang junior. Senior dari
segi usia, namun junior dalam urusan mendaki, hehehe. Maka kami sudah
berpesan ke pemandu kalau jalannya pelan-pelan saja. Hehehe.
Satu jam pertama melewati bukit mati, hanya padang rumput dan sedikit
pohon cemara jarum yang menemani. Dibelakang kami, kota Cimahi mulai
menampakkan sinar-sinar lampunya.
Awan mendung yang mendampingi kami sejak tadi memaksa kami berhati-hati
dalam mengayunkan langkah di rumput yang basah. Sisa-sisa gerimis juga
masih sesekali terjatuh membasahi jaket.
************************
Bukit mati terlewati.
Trek pendakian pendakian memasuki jalur “trek hutan” kalau boleh saya
istilahkan begitu. Pohon-pohon sejenis salak yang berduri dan pepohonan
pinus mulai menghiasi kanan kiri jalur yang kami lewat. Sesekali
duri-duri itu memaksa kami meringis karena sentuhannya yang cukup
menggores kulit. Tanah yang tetap kering menunjukkan pada kami betapa
rimbunnya jalur itu, sampai-sampai hujan lebat tak mampu menembus
rimbunnya dedaunan.
3 jam pendakian terlewat. Kelandaian jalur yang semula hanya berkisar
30-45 derajat mulai berubah curam. Langit yang mulai terlihat cerah,
kota Cimahi yang mulai lebih jelas terlihat, pepohonan yang mulai jarang
terlihat menunjukkan kepada kami bahwa puncak sudah dekat.
15 menit lagi!!
Kata pemandu kami.
Jarangnya pepohohonan membuat air hujan yang tadi sore turun membasahi
tanah dan membuatnya menjadi licin. Beberapa kali saya dan beberapa
teman tejatuh karena terpeleset. Untungnya, akar2 pohon yang menjalar
membantu kami mendaki atau mungkin memanjat gunung. Berat bagi kami yang
sehari-harinya hanya menghabiskan waktu didunia yang hanya selebar 17
inch.
Haahaha, capek ya?kata Kang Samuk -pemandu kami-
Karena lemahnya fisik kami, akhirnya pendakian agak terhambat karena
banyaknya istirahat.
************************
32.48
Setelah beberapa kali kata-kata “15 menit lagi sampai puncak” dari kang
Samuk, akhirnya kami benar-benar sampai di Puncak Gunung Burangrang. “15
menit lagi” ternyata hanya sebagai tipuan untuk memunculkan semangat
kami yang sedang kendor.
Puas sekali rasanya merasakan kembali tiupan angin puncak gunung yang
lama sudah tidak saya hirup. Tugu penanda puncak-pun saya naiki untuk
menunjukkan kegembiraan saya. Sementara teman-teman yang lain sudah
cukup dengan berfoto di depan tugu peringatan.
“Selamat datang di puncak Burangrang, 2050 MDPL” begitu bunyinya.
Sampai Puncak Juga
Kota Cimahi begitu indah menampakkan kerlap kerlipnya. Nun jauh sana,
mungkin kota Bandung dan Cianjur juga menunjukkan kemilaunya. Di sebelah
utara, Subang dan Sumedang juga seakan tak mau kalah pamer kecantikan
kepada kami.
Tapi ternyata puncak Burangrang terlalu sempit untuk menampung 12 orang
pendaki. Maka Kang Samuk memutuskan untuk membawa kami ke Puncak
bayangan yang ada di sebelah timur puncak utama.
*************************
Masak Bakwan Goreng
04.48
Tenda sudah berdiri, teh hangat sudah tersaji, bakwan goreng karya Mbak
Wiwik-pun sudah mengepul diatas piring. Sambil menunggu
sun rise kami
hanya mengobrol ringan dan mendengarkan cerita-cerita pendakian dari
Kang Samuk, Pak Djo, dan teman-teman yang lain.
Beberapa teman yang terlalu lelah -karena inilah pendakian pertama
mereka- sudah lama terlelap dalam tidurnya. Terbungkus hangatnya kantong
tidur yang sengaja mereka beli untuk pendakian ini.
************************
Kabut Pagi
Kabut tebal dan angin kencang menghias sholat subuh kami. Yang kami
khawatirkan, kabut itu akan menutupi senyum matahari pagi yang kami
nanti.
Dan kekhawatiran itu pun terjadi juga, matahari baru menampakkan
sinarnya jam 7 lebih. Muncul dari balik puncak Tangkuban Parahu. Sinar
kuning cerah yang menunjukkan pada kami hujaunya pegunungan di sekitar
Burangrang, jernihnya air Situ Lembang, dan angkuhnya rumah-rumah
berdiri di bawah kami.
Puji syukur padamu Tuhan yang telah menunjukkan pada kami semua
kebesaranmu.
Pak Djo dan Bang Wiar
******************************
Sunrise
Menatap jalan setapak
Bertanya - tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta
Mahameru - Dewa 19
***************************
Tim Pendaki Amatir yang Profesional
Nggaya dulu sebentar
(bukan) Tim Ekspedisi Cincin Api
2050 MDPL, 29 Oktober 2011